Gerimis sore itu membawa aroma tanah basah yang biasanya menenangkan bagi Fitri. Namun, setiap kali mendung menggantung rendah di langit pinggiran kota, dadanya selalu terasa sesak. Ingatan itu, memori hitam sepuluh tahun lalu, selalu bangkit seperti hantu yang engjar dari kegelapan.
Fitri sedang di dapur, memotong sayur sawi untuk makan malam ketiga adiknya. Maya sedang mengerjakan tugas kuliah di ruang tamu, sementara si kembar, Reno dan Rian, sedang sibuk dengan buku pelajaran SMA mereka. Hidup mereka tenang dalam kesahajaan yang dipaksakan oleh takdir. Sebagai kepala keluarga di usia dua puluh delapan tahun, Fitri telah belajar mengubur mimpinya sendiri dalam-dalam demi memastikan piring adik-adiknya selalu terisi.
Suatu ketukan pelan terdengar di pintu depan.
"Mbak, ada tamu," seru Maya dari ruang tamu.
Fitri menyeka tangannya pada celemek kusamnya. Ia melangkah keluar, menyisir rambutnya yang sedikit berantakan. Saat pintu terbuka, udara dingin langsung menusuk pori-porinya. Di sana, berdiri seorang pria paruh baya dengan pakaian yang terlalu rapi untuk ukuran orang asing di lingkungan mereka. Wajahnya kuyu, matanya cekung, dan ia memegang sebuah tas kecil dengan tangan yang gemetar.
"Cari siapa, Pak?" tanya Fitri sopan.
Pria itu mendongak. Begitu mata mereka bertemu, sebuah kilatan trauma menghantam kepala Fitri. Ia mengenal mata itu. Mata yang sepuluh tahun lalu menatapnya dengan beringas di bawah ancaman sebilah celurit. Mata yang sama yang ia lihat di pengadilan saat vonis dijatuhkan.
"Fitri..." suara pria itu parau. "Ini saya, Lukman."
Dunia seolah berhenti berputar. Fitri merasakan lututnya melemas. Di belakangnya, Maya berdiri, menatap bingung pada kakaknya yang mendadak pucat pasi.
"Pergi," bisik Fitri. Suaranya bergetar hebat. "Pergi dari sini."
"Fitri, tolong. Saya sudah menjalani hukuman saya. Sepuluh tahun di penjara setiap hari saya gunakan untuk menyesal. Saya baru keluar seminggu lalu, dan hal pertama yang ingin saya lakukan adalah bersimpuh di depan kamu dan Bapak..."
"Bapak sudah meninggal!" teriak Fitri. Suaranya menggelegar, membuat Maya dan si kembar berlari ke depan.
Pria bernama Lukman itu tersentak. Bahunya merosot. "Innalillahi... saya... saya tidak tahu."
"Kamu tidak tahu?" Fitri tertawa sinis, tawa yang penuh dengan kepahitan dan air mata yang mulai membendung. "Kamu tidak tahu karena kamu enak-enakan tidur di balik jeruji sambil diberi makan oleh negara, sementara kami di sini mati berkali-kali setiap harinya!"
Fitri melangkah maju, keluar ke teras, memaksa pria itu mundur ke arah halaman yang becek. Amarah yang ia pendam selama satu dekade meledak seperti bendungan yang hancur.
"Lihat rumah ini, Lukman! Lihat kami!" Fitri menunjuk ke arah adik-adiknya yang kini mematung di pintu. "Gara-gara kamu masuk ke rumah kami malam itu, gara-gara kamu menebas kaki Bapak karena dia mencoba melindungi kami, hidup kami hancur!"
Bayangan malam itu kembali hadir. Suara teriakan Bapak saat celurit itu menghantam tulang kakinya. Darah yang membanjiri lantai ruang tamu. Fitri yang saat itu masih remaja harus melihat ayahnya meraung kesakitan sementara ibunya pingsan karena syok.
"Dokter bilang kaki Bapak tidak bisa diselamatkan karena infeksi parah dan keterlambatan penanganan akibat kami tidak punya uang untuk operasi saat itu. Bapak harus diamputasi! Laki-laki gagah yang biasanya menggendong adik-adikku itu harus menghabiskan sisa hidupnya di kursi roda, meratapi nasibnya yang tidak lagi bisa mencari nafkah!"
Lukman menunduk, air matanya jatuh ke tanah. "Saya khilaf, Fitri. Saya butuh uang untuk judi saat itu..."
"Khilaf?" Fitri mendekat, wajahnya hanya beberapa senti dari pria yang telah menghancurkan dunianya. "Karena 'khilafmu' itu, Ibu stress berat. Setiap hari Ibu menangis melihat Bapak yang termenung di kursi roda. Ibu tidak kuat melihat kami yang harus berhenti sekolah karena uangnya habis untuk pengobatan Bapak. Ibu jatuh sakit, dia kehilangan akal sehatnya, dan setahun kemudian dia meninggal dalam keadaan memanggil-manggil nama Bapak dengan penuh kesedihan!"
Maya mulai terisak di ambang pintu. Si kembar mengepalkan tangan, amarah mulai merayapi wajah muda mereka saat menyadari siapa pria di depan mereka.
"Tiga tahun setelah Ibu pergi, Bapak menyusul. Dia meninggal karena komplikasi, tapi aku tahu, dia meninggal karena patah hati dan rasa bersalah karena tidak bisa menjadi ayah yang berguna bagi kami. Dia meninggal dengan rasa sakit yang kamu tanamkan!" Fitri memukul dada Lukman dengan tangan gemetarnya. "Aku harus berhenti kuliah! Aku harus bekerja serabutan, jadi buruh cuci, jadi pelayan toko, apa saja demi mereka bertiga! Kamu minta maaf? Apa permintaan maafmu bisa mengembalikan kaki Bapak? Apa bisa menghidupkan kembali Ibu?!"
Lukman berlutut di tanah yang basah. Ia membuka tasnya, mengeluarkan tumpukan uang yang dibungkus amplop cokelat yang lusuh. "Ini... ini uang hasil kerja saya di bengkel lapas selama sepuluh tahun. Tidak banyak, tapi saya kumpulkan untuk kalian. Tolong terima, Fitri. Biarkan saya menebus sedikit dosa saya."
Fitri menatap amplop itu dengan rasa jijik yang luar biasa. Ia mengambil amplop itu, lalu melemparnya tepat ke wajah Lukman. Uang-uang itu berhamburan di atas tanah yang berlumpur, terkena percikan air hujan.
"Kamu pikir luka kami bisa dibeli dengan uang receh ini? Kamu pikir sepuluh tahun di penjara sudah cukup untuk mengganti nyawa orang tuaku dan masa kecil adik-adikku yang hilang?" Fitri menunjuk ke arah jalan raya. "Bawa uang harammu itu! Aku tidak sudi menyentuh satu rupiah pun dari tangan yang pernah menumpahkan darah Bapakku!"
"Fitri, saya sakit-sakitan sekarang. Saya tidak punya siapa-siapa lagi. Saya hanya ingin dimaafkan sebelum saya mati..." ratap Lukman, memohon dengan sangat hina.
"Maka matilah dengan rasa bersalah itu!" potong Fitri tajam. "Jangan gunakan kami untuk menyucikan jiwamu yang kotor. Kamu merasa terbebani? Bagus. Itu artinya kamu masih punya sedikit hati. Tapi jangan harap ada maaf di rumah ini. Setiap kali aku melihat adik-adikku lapar, aku ingat kamu. Setiap kali aku melihat kursi roda kosong milik Bapak di gudang, aku ingat kamu!"
Fitri berbalik, menarik adik-adiknya masuk ke dalam rumah. Ia membanting pintu depan dengan keras, menguncinya, dan langsung merosot di balik pintu. Tangisnya pecah sejadi-jadinya. Maya memeluknya dari belakang, disusul oleh si kembar. Mereka berempat berpelukan dalam diam, hanya suara isakan yang bersaing dengan suara hujan di luar.
Di luar sana, melalui celah jendela, Fitri melihat Lukman masih bersimpuh di tanah, memunguti uangnya yang kotor terkena lumpur satu per satu dengan tangan gemetar. Pria itu tampak sangat hancur, namun rasa iba sedikit pun tidak muncul di hati Fitri. Baginya, keadilan di dunia ini terlalu murah jika hanya dibayar dengan sepuluh tahun penjara dan kata maaf.
Malam itu, setelah Lukman akhirnya pergi dengan langkah gontai, Fitri kembali ke dapur. Tangannya masih gemetar saat melanjutkan memotong sayur. Ia menatap ketiga adiknya yang duduk di meja makan dengan wajah lesu.
"Mbak," puji Reno pelan. "Mbak hebat sudah bertahan sejauh ini untuk kami."
Fitri menyeka air matanya. Ia sadar, amarahnya tadi bukan hanya untuk menghukum Lukman, tapi untuk memvalidasi penderitaan yang ia tanggung sendirian selama sepuluh tahun ini. Ia adalah ibu, ayah, dan kakak bagi mereka. Ia adalah benteng terakhir yang tidak boleh runtuh.
Pencuri itu mungkin sudah menjalani hukumannya secara hukum, tapi bagi Fitri, hukuman yang sebenarnya adalah hidup yang terus berjalan dengan lubang besar di hati yang tak akan pernah bisa ditambal oleh siapa pun. Ia memilih untuk tidak memaafkan bukan karena ia jahat, tapi karena ia menolak melupakan betapa berharganya nyawa dan kebahagiaan yang telah dirampas secara paksa darinya.
Esok pagi, ia akan bangun lagi, bekerja lagi, dan memastikan adik-adiknya sukses. Itulah cara terbaik untuk membalas dendam pada takdir yang kejam: dengan tetap tegak berdiri meski badai pernah meratakan dunianya.
---