Suara hujan di Stasiun Balapan selalu punya nada yang sama bagi kebanyakan orang: bising, dingin, dan sedikit menyebalkan karena menghambat perjalanan. Namun bagi Arlan, hujan adalah sebuah peta. Bunyi rintik yang menghantam atap seng peron memberikan dimensi pada ruang hampa di kepalanya. Ia duduk tegak di bangku kayu panjang yang catnya sudah mengelupas, tangannya menggenggam erat gagang tongkat lipat yang ia sembunyikan di balik tas ranselnya yang kusam.
Arlan tidak sedang melihat air yang jatuh dari langit. Ia sedang mendengarkannya. Ia bisa merasakan arah angin dari bagaimana butiran air itu memercik ke sepatunya. Ia tahu di depannya ada genangan air yang mulai meninggi karena suara langkah kaki orang-orang yang melintas berubah menjadi kecipak yang berat. Dunia Arlan tidak gelap gulita; dunianya penuh dengan gema, tekstur, dan aroma tanah basah yang menyeruak masuk ke paru-parunya.
Hari ini adalah hari terakhir sebelum lebaran. Ia sedang menunggu seseorang. Seseorang yang berjanji akan menjemputnya di peron ini, menemaninya naik kereta api menuju Yogyakarta untuk pulang mudik setelah lima tahun ia merantau dalam kesunyian. Arlan mengenali janji itu seperti ia mengenali getaran ponsel di saku celananya.
"Mas, hujannya makin deras. Keretanya masih satu jam lagi, ya?" suara seorang pedagang asongan lewat di depannya.
Arlan tersenyum kecil, mengangguk ke arah suara itu berasal dengan presisi yang mengejutkan. "Iya, Pak. Saya menunggu teman dulu."
Arlan memang buta, sebuah kenyataan yang ia terima tiga tahun lalu akibat kecelakaan kerja di proyek konstruksi yang merenggut cahaya dari matanya. Namun, ia tak pernah memberi tahu keluarganya di kampung. Ia ingin pulang dengan martabat yang masih utuh, atau setidaknya, dengan seseorang yang bisa membantunya tampak "normal" selama perjalanan. Seseorang itu adalah Kirana.
Kirana adalah teman masa kecilnya. Mereka kehilangan kontak selama sepuluh tahun, hingga akhirnya bertemu kembali lewat media sosial—tentu saja dengan bantuan fitur pembaca layar di ponsel Arlan. Kirana tidak tahu Arlan buta. Arlan terlalu takut untuk mengatakannya. Dalam pesan-pesannya, Arlan hanya bercerita bahwa ia bekerja sebagai penulis lepas dan hidup baik-baik saja di Jakarta. Dan hari ini, di stasiun ini, mereka berjanji untuk bertemu dan pulang bersama.
Detik jam di peron seolah berdetak di dalam dada Arlan. Hujan bukannya reda, malah semakin mengamuk. Suara petir menggelegar di kejauhan, membuat beberapa calon penumpang mengeluh. Tiba-tiba, Arlan menangkap aroma yang sangat ia kenal. Aroma melati yang samar, bercampur dengan bau hujan yang segar. Langkah kaki itu mendekat. Langkah yang ringan, sedikit ragu-ragu, dan berhenti tepat di depan bangkunya.
"Arlan?" suara itu lembut, sedikit bergetar.
Arlan berdiri dengan hati-hati. Ia memastikan tongkatnya tetap tersembunyi di balik kakinya. Ia menatap lurus ke depan, ke arah yang ia perkirakan adalah wajah Kirana. "Kirana? Kamu sudah sampai?"
Hening menyelimuti mereka selama beberapa detik, hanya ada suara hujan yang mengisi sela-sela percakapan. Arlan mencoba mempertahankan fokus matanya agar tidak tampak kosong, sebuah teknik yang ia latih berbulan-bulan di depan cermin sebelum ia benar-benar kehilangan sisa cahaya terakhirnya.
"Kamu... kamu nggak banyak berubah, Lan," kata Kirana. Suaranya terdengar seperti sedang menahan sesuatu. "Tapi, kenapa kamu nggak bawa payung? Bajumu sedikit basah."
"Aku suka suara hujan, Na. Rasanya seperti sedang diajak bicara," jawab Arlan berusaha puitis untuk menutupi kecanggungannya.
Kirana duduk di sampingnya. Arlan bisa merasakan suhu tubuh wanita itu yang sedikit menggigil. Mereka berbincang tentang masa kecil, tentang pohon mangga yang dulu sering mereka panjat, dan tentang rencana mereka di kampung nanti. Namun, Arlan merasa ada yang aneh. Kirana tidak banyak bergerak. Biasanya, Kirana adalah orang yang ekspresif, tangannya selalu bergerak saat berbicara. Tapi kali ini, ia seolah terpaku.
"Na, kamu baik-baik saja?" tanya Arlan.
"Aku baik, Lan. Hanya saja... hujan ini mengingatkanku pada kejadian delapan tahun lalu. Kejadian yang membuatku merasa berutang nyawa pada seseorang yang bahkan nggak sempat aku lihat wajahnya dengan jelas," suara Kirana merendah.
Arlan tertegun. Jantungnya berdegup kencang. "Delapan tahun lalu? Di mana?"
"Di Jakarta. Saat itu aku masih kuliah. Aku sedang menyeberang jalan saat hujan badai seperti ini. Sebuah truk kehilangan kendali karena jalanan licin. Seseorang mendorongku ke pinggir jalan. Aku selamat, tapi orang itu... dia tertabrak. Orang-orang bilang dia dilarikan ke rumah sakit, tapi aku kehilangan jejaknya karena aku sendiri pingsan karena syok. Aku selalu merasa, sebagian dari diriku hilang hari itu karena aku nggak pernah bisa berterima kasih."
Arlan mendengarkan dengan napas tertahan. Ia meraba bekas luka kecil di pelipisnya yang tertutup rambut. Ia ingat hari itu. Hari di mana ia masih seorang pemuda yang penuh ambisi, bekerja sebagai kurir untuk biaya kuliah adiknya. Ia ingat melihat seorang gadis yang mematung di tengah jalan saat sebuah truk meluncur ke arahnya. Ia ingat rasa sakit yang luar biasa, suara dentuman, dan kegelapan sesaat sebelum ia bangun di bangsal rumah sakit dengan luka-luka yang perlahan sembuh, meski penglihatannya saat itu masih baik-baik saja. Namun, komplikasi dari benturan di kepala itulah yang perlahan-lahan menggerogoti saraf optiknya bertahun-tahun kemudian, hingga akhirnya benar-benar padam tiga tahun lalu.
Arlan tidak pernah tahu siapa gadis itu. Sampai hari ini.
"Kenapa kamu diam, Lan?" tanya Kirana.
Arlan menarik napas panjang. Ia ingin mengatakan semuanya. Ia ingin bilang bahwa ia tidak bisa melihat wajah Kirana sekarang bukan karena hujan, tapi karena pengorbanannya delapan tahun lalu telah mencapai titik akhirnya. Namun, ia urungkan. Ia tidak ingin Kirana menemaninya karena rasa kasihan atau hutang budi.
"Hanya... kebetulan yang luar biasa, Na," bisik Arlan.
Hujan mulai sedikit mereda, menyisakan rintik-rintik kecil yang tenang. Pengumuman keberangkatan kereta mereka berkumandang. Arlan tahu saatnya telah tiba. Ia harus bergerak, dan itu artinya rahasianya akan terbongkar.
"Ayo, Lan. Keretanya sudah masuk di jalur dua," ajak Kirana. Ia berdiri.
Arlan tetap diam. Ia tahu jalan menuju jalur dua harus melewati tangga penyeberangan atau jalur bawah tanah yang ramai. Ia tidak akan bisa melewatinya tanpa tongkatnya.
"Na," panggil Arlan. Tangannya perlahan meraih tongkat lipat di balik tasnya. Dengan gerakan pelan namun pasti, ia mengibaskan tongkat itu hingga memanjang dengan bunyi *klik* yang tajam.
Kirana tersentak. Arlan bisa mendengar isakan kecil yang tertahan dari arah depan.
"Aku nggak bisa melihatmu, Na. Bukan karena hujan yang menghalangi pandanganku, tapi karena duniaku memang sudah seperti ini selama tiga tahun terakhir," ucap Arlan dengan suara yang tenang namun penuh wibawa. "Dan jika benar pria delapan tahun lalu itu adalah aku, maka jangan pernah merasa berutang. Aku melakukan itu karena aku ingin kamu tetap melihat dunia yang indah ini, bahkan jika aku sendiri tidak bisa melakukannya lagi."
Suasana di peron itu mendadak sunyi bagi mereka berdua, meski suara peluit kereta mulai menjerit di kejauhan. Kirana melangkah mendekat. Arlan merasakan jemari yang hangat dan gemetar menyentuh punggung tangannya yang memegang tongkat.
"Lan..." Kirana terisak. "Aku... aku juga punya rahasia."
Arlan mengerutkan kening. "Rahasia apa?"
Kirana menarik tangan Arlan, membimbingnya untuk menyentuh wajahnya. Arlan merasakan tekstur kulit yang halus, namun saat jemarinya bergerak ke arah mata Kirana, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Ada sebuah kacamata hitam yang sejak tadi dikenakan Kirana, yang Arlan kira hanya aksesori mode. Dan di balik kacamata itu, Arlan merasakan kelopak mata yang tertutup rapat dengan jaringan parut yang halus di sekitarnya.
"Truk itu... percikan kacanya mengenai mataku saat aku terjatuh, Lan," bisik Kirana. "Aku kehilangan penglihatanku setahun setelah kejadian itu karena infeksi saraf yang tidak bisa disembuhkan. Aku datang ke sini hari ini dengan pemandu yang menemaniku sampai pintu masuk stasiun. Aku berbohong padamu karena aku ingin kamu mengingatku sebagai Kirana yang dulu, yang matanya selalu berbinar saat melihatmu."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Arlan. Dua jiwa yang kehilangan cahaya karena satu peristiwa yang sama, kini duduk bersisian di atas bangku stasiun yang dingin. Tak ada lagi yang perlu disembunyikan. Tak ada lagi rasa malu.
Arlan melepaskan tongkatnya sejenak, lalu meraba wajah Kirana dengan kedua tangannya. Ia menghapus air mata yang mengalir di pipi wanita itu. "Jadi, kita berdua sedang menunggu hujan reda untuk pulang ke kegelapan yang sama?"
Kirana tersenyum di tengah tangisnya, ia menggeleng pelan. "Tidak, Lan. Kita pulang untuk saling menjadi cahaya. Aku punya telinga yang tajam untuk mendengarkan duniamu, dan kamu punya hati yang kuat untuk membimbing langkahku. Kita tidak butuh mata untuk sampai ke rumah."
Hujan benar-benar reda tepat saat kereta api kelas ekonomi itu berhenti sempurna di depan mereka. Arlan mengambil tasnya, sementara Kirana menggandeng lengan Arlan dengan erat. Mereka berjalan beriringan, dua tongkat mereka mengetuk lantai peron dengan irama yang saling bersahutan, seperti sebuah simfoni tentang ketabahan.
Di dalam gerbong kereta yang mulai bergerak meninggalkan stasiun, Arlan menyandarkan kepalanya di jendela, mendengarkan deru roda besi yang beradu dengan rel. Ia tidak bisa melihat pemandangan sawah yang menghijau atau senja yang memerah di cakrawala, tapi ia bisa merasakan kehangatan tangan Kirana yang menggenggam jemarinya.
Perjalanan mudik kali ini bukan lagi tentang menyembunyikan kekurangan, tapi tentang merayakan kepulangan dua jiwa yang telah lama tersesat dalam sunyi. Mereka pulang bukan hanya ke kampung halaman, tapi pulang ke dalam sebuah pemahaman bahwa kehilangan bukanlah akhir dari segalanya. Terkadang, kita harus kehilangan cahaya di mata agar bisa melihat dengan lebih terang menggunakan hati.
Dan di antara sisa-sisa aroma hujan yang tertinggal di jendela kereta, Arlan tahu bahwa meski ia tak lagi bisa melihat pelangi, ia tengah menggenggam sumber warna yang jauh lebih abadi.
---