Aku pindah ke rumah tua itu tepat satu bulan lalu. Rumah itu diwariskan nenek dari pihak ayah, di pinggiran kota yang sepi. Bangunannya besar, dua lantai, dengan loteng yang selalu tertutup rapat. Tetangga bilang, rumah itu “memiliki sejarah aneh”, tapi aku hanya tertawa dan menganggapnya cerita kosong orang tua.
Hari pertama di rumah baru, semuanya terasa normal. Aku menata perabot, membersihkan debu, dan berusaha menyesuaikan diri dengan suasana sepi. Anak-anak tetangga kadang bermain di halaman depan, tapi aku lebih sering sendirian. Aku suka kesunyian, pikirku.
Namun malam pertama, suara itu muncul.
Awalnya hanya samar. Seperti langkah kaki di lantai atas, padahal aku tinggal sendiri. Aku menelan ludah, mencoba menenangkan diri. “Mungkin tikus,” bisikku. Tapi suara itu semakin jelas, terdengar seperti seseorang berjalan, mendekati tangga menuju loteng. Hatiku berdegup cepat.
Aku menyalakan lampu ruang tamu. Sunyi. Aku berani-beraninya naik ke loteng. Pintu kayu tua itu tertutup rapat, tapi entah kenapa, seolah menantangku. Dengan tangan gemetar, aku memutar kenop… dan pintu itu membuka dengan suara berderit panjang.
Di dalam, gelap. Debu menutupi lantai, dan aroma apek memenuhi hidung. Aku menyalakan senter. Tidak ada apa-apa. Hanya kotak-kotak tua, boneka yang kusut, dan lemari tua yang berderak ketika aku menyentuhnya. Aku tersenyum kecut, merasa sedikit lega. “Hanya rumah tua,” batinku.
Tapi saat aku menuruni tangga, aku mendengar suara itu lagi. Kali ini, suara bisikan, pelan, nyaris tak terdengar:
"Tinggal di sini… jangan pergi…"
Aku berhenti, menahan napas. Hanya angin? Aku mencoba menertawakan ketakutanku sendiri. Tapi ada sesuatu yang berbeda. Suara itu… seperti berasal dari loteng.
Hari-hari berikutnya semakin aneh. Barang-barang berubah posisi. Suara langkah kaki terdengar di malam hari. Kadang aku mendengar tawa kecil, seperti anak-anak bermain, padahal aku tidak memiliki tetangga dekat lagi.
Suatu malam, aku terbangun oleh suara tangisan di kamarku sendiri. Suara itu mengiris telinga, membuat jantungku serasa berhenti. Aku menyalakan lampu, tapi kamar kosong. Pintu loteng, yang biasanya terkunci, terbuka sedikit. Angin dingin menerpa wajahku. Aku menutupnya rapat-rapat dan mencoba tidur, tapi mata sulit terpejam.
Minggu kedua, rasa takutku mulai menjadi penasaran. Aku memutuskan memeriksa loteng lebih teliti. Kali ini aku membawa senter lebih terang. Setiap langkah mendekati tangga loteng, tubuhku bergetar. Tapi aku harus tahu.
Di loteng, aku menemukan sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya: sebuah boneka tua duduk di atas kotak kayu, wajahnya retak, matanya yang satu hilang, tapi… boneka itu menghadap ke arah pintu, seolah menunggu kedatanganku.
Aku menunduk untuk memeriksa boneka itu. Tanganku menyentuh boneka, dan tiba-tiba lampu senter berkedip, lalu mati. Gelap. Aku mendengar langkah kaki… kali ini jelas, berat, seolah seseorang berdiri di belakangku.
Aku menoleh—tidak ada siapa-siapa. Napasku memburu. Aku berbalik lagi… dan boneka itu berpindah tempat. Duduk di atas lemari, menatap lurus padaku. Aku berlari turun, menabrak pintu loteng. Jantungku berdebar seperti mau meledak.
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku mendengar bisikan-bisikan:
"Kenapa kau datang… kenapa kau mengambilnya… rumah ini milikku…"
Beberapa hari kemudian, aku mencari informasi tentang rumah itu. Di arsip kota, aku menemukan catatan lama: rumah itu dulunya milik seorang wanita bernama Saraswati, yang meninggal misterius di loteng, lebih dari lima puluh tahun lalu. Tetangganya mengatakan, ia kehilangan anaknya yang hilang secara misterius, dan sejak saat itu, orang-orang yang tinggal di rumah itu sering mendengar suara tangisan dan tawa anak-anak di malam hari.
Aku menelan ludah. Semua yang kulalui sebulan terakhir… bisa jadi… benar.
Malam itu, aku memutuskan untuk tidak pergi tidur di kamar utama. Aku tidur di ruang tamu, dekat lampu, dengan pintu terkunci. Namun tengah malam, suara tangisan itu kembali, lebih keras. Aku menggigil. Tiba-tiba, terdengar suara langkah naik tangga loteng.
Aku meraih senter, dan perlahan naik tangga. Pintu loteng sedikit terbuka. Aku menekan kenop pintu… dan seketika, aku terkejut. Ruangan itu penuh boneka. Puluhan, mungkin ratusan. Semua menatapku. Semua bergerak sedikit… seperti menunggu aku.
Di sudut ruangan, ada sosok seorang anak perempuan, rambut panjang kusut, mata kosong, menatap lurus padaku.
"Kau tidak seharusnya di sini…"
Aku mundur, terjatuh. Sosok itu melangkah mendekat. Angin dingin menerpa seluruh tubuhku. Aku menjerit. Sosok itu menutup wajahnya dengan tangan, dan suara serak terdengar:
"Ambil bonekamu… pulang…"
Aku menoleh ke boneka di lantai… dan saat aku meraihnya, seluruh ruangan bergetar, pintu loteng menutup sendiri dengan keras. Aku jatuh pingsan.
Aku terbangun pagi berikutnya, tubuhku dingin, penuh luka kecil. Boneka tua di tanganku, tapi ruangan kosong. Tidak ada boneka lain. Tidak ada anak perempuan. Loteng tampak normal, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
Aku memutuskan satu hal: aku tidak boleh tinggal di sini lagi.
Saat aku menyingkirkan boneka itu ke dalam kardus, aku mendengar bisikan terakhir, lembut namun menakutkan:
"Jangan pergi… tapi kau sudah terlambat…"
Aku menelan ludah. Rasanya seluruh rumah menatapku. Aku tidak peduli. Aku mengemas semua barangku. Anak-anak dan aku pergi dari rumah itu.
Namun malam terakhir di rumah itu, saat aku menutup pintu depan, aku melihat bayangan di jendela loteng. Sosok anak perempuan itu menatap lurus padaku, senyum tipis di bibirnya.
Sejak hari itu, aku tidak pernah kembali. Rumah tua itu tetap berdiri di sana, sunyi, tapi entah mengapa… aku selalu merasa bahwa rumah itu menunggu. Menunggu penghuni baru.
Dan boneka tua yang aku bawa pulang… kadang, tengah malam, terdengar bisikannya:
"Aku menunggumu… jangan pergi…"
Aku tidak pernah bisa membuangnya. Karena setiap kali aku mencoba… boneka itu selalu kembali, duduk di sudut kamarku, menatap lurus, menunggu, mengingatkan aku bahwa rumah itu… belum selesai denganku.