[Aroma dari Hutan Terlarang]
Di pinggiran desa Oakhaven yang sunyi, hiduplah seorang gadis bernama Violetta yang menghabiskan seluruh waktunya di balik pagar kayu rumahnya. Ia dikenal sebagai sosok yang aneh karena sepasang mata ungu jernihnya yang dianggap sebagai pembawa sial oleh para tetua desa. Dunianya hanya sebatas taman belakang rumah, tempat di mana ribuan bunga violet mekar dengan indahnya sepanjang tahun tanpa pernah layu.
Pagi itu, udara di Oakhaven terasa sangat berat dan lembap, seolah-olah awan akan segera jatuh menyentuh bumi. Violetta sedang berlutut di tanah, membelai kelopak bunga violetnya yang basah oleh embun, ketika sebuah sensasi aneh menyerang indra penciumannya. Itu bukan aroma bunga yang biasa ia kenal; itu adalah wangi yang sangat pekat, manis, namun memiliki getaran mistis yang kuat.
Aroma itu seolah memiliki tangan gaib yang menarik jiwa Violetta untuk berdiri dan menatap ke arah Hutan Terlarang yang gelap di utara desa. Penduduk Oakhaven selalu memperingatkan agar tidak pernah menginjakkan kaki ke sana, karena hutan itu konon menelan siapa pun yang masuk. Namun, bagi Violetta, aroma itu terasa seperti sebuah panggilan pulang yang sudah ia nantikan selama belasan tahun hidupnya.
Tanpa berpikir panjang, ia melompati pagar rendah tamannya dan mulai berjalan menuju kegelapan pepohonan raksasa yang menjulang tinggi. Semakin jauh ia melangkah, cahaya matahari semakin meredup, digantikan oleh pendaran lumut hijau yang bercahaya di batang-batang pohon tua. Langkah kaki telanjangnya tidak merasakan tajamnya ranting, karena ia hanya fokus pada wangi yang semakin menyengat dan memabukkan itu.
Di tengah hutan, ia menemukan sebuah lembah yang tertutup kabut tebal berwarna perak yang tampak bergerak seperti makhluk hidup. Di pusat lembah tersebut, tumbuh sebuah bunga kristal tunggal yang memancarkan cahaya ungu yang jauh lebih terang dari warna matanya sendiri. Violetta merasa jantungnya berdebar kencang, menyadari bahwa inilah sumber dari segala keajaiban yang ia rasakan sejak tadi pagi.
Ia perlahan mendekati bunga kristal itu, namun tanah di bawah kakinya ternyata hanyalah tumpukan daun kering yang menutupi sebuah lubang menganga. Saat jarinya hampir menyentuh kelopak kristal tersebut, tanah itu runtuh dengan suara gemuruh yang memecah kesunyian hutan yang mencekam. Violetta terjerembap, tubuhnya melayang di udara saat ia jatuh ke dalam jurang gelap yang tampaknya tidak memiliki dasar.
Rasa takut yang luar biasa sempat mencengkeram dadanya, namun bunga kristal itu ikut terjatuh bersamanya dan tiba-tiba pecah menjadi ribuan serpihan cahaya. Serpihan cahaya itu mulai masuk ke dalam pori-pori kulitnya, membakar habis darah manusianya dan menggantinya dengan energi suci yang murni. Violetta berteriak tanpa suara saat ia merasakan sel-sel tubuhnya disusun ulang oleh kekuatan yang belum pernah ada di dunia ini.
Rambut hitamnya yang panjang perlahan berubah warna, mulai dari akar yang memutih seputih salju hingga ujungnya yang menjadi biru laut yang pekat. Perubahan itu tidak berhenti di sana; mata ungunya mulai terasa panas seolah-olah ada bara api dan bongkahan es yang dimasukkan ke dalamnya. Ia bisa merasakan penglihatannya pecah, memisahkan spektrum warna menjadi dua kutub yang sangat berbeda dan sangat kuat.
Ketika tubuhnya akhirnya menyentuh dasar jurang, ia tidak hancur, melainkan mendarat dengan lembut di atas sebuah altar kuno yang telah lama tertidur. Altar itu bersinar terang, menyambut kembalinya kekuatan yang telah hilang selama ribuan tahun dari muka bumi melalui tubuh Violetta. Di sana, di kegelapan bawah tanah, transformasi terakhirnya selesai dengan sebuah ledakan energi yang melenyapkan seluruh kabut di hutan.
Violetta perlahan membuka matanya, dan dunia di sekitarnya tampak bergetar karena kekuatan yang terpancar dari tatapannya yang baru. Mata kanannya kini berwarna merah darah yang menyala, melambangkan kehancuran bagi kejahatan, sementara mata kirinya biru safir yang menenangkan. Ia berdiri dengan anggun, jubahnya yang dulu lusuh kini telah berganti menjadi gaun sutra putih dan biru yang berkilau lembut.
Ia melihat ke cermin air yang ada di samping altar dan tertegun melihat sosok yang ada di hadapannya; seorang gadis yang tidak lagi ia kenali. Rambut putih-birunya tergerai panjang hingga ke pinggang, memancarkan aroma bunga yang sangat pekat, jauh lebih kuat dari bunga di hutan tadi. Di dahinya, muncul sebuah tanda suci berbentuk kelopak violet kecil yang bersinar keemasan, menandai otoritasnya atas alam semesta.
"Siapa aku?" bisiknya pelan, namun suaranya menggema di seluruh gua seperti musik surgawi yang mampu menyembuhkan luka apa pun. Secara naluriah, ia mengangkat tangannya, dan dari tanah yang gersang di dasar jurang itu, ribuan bunga violet kristal mekar seketika. Ia menyadari bahwa ia bukan lagi sekadar gadis desa yang dikucilkan karena warna matanya yang aneh oleh penduduk Oakhaven.
Kini, ia adalah The Saintess of Dual Eclipse, sosok legendaris yang diramalkan akan muncul saat dunia berada di ambang kehancuran total. Kekuatan besar mengalir di nadinya, memberinya pengetahuan tentang masa lalu dan masa depan yang belum terjadi pada benua yang ia tinggali. Namun, di balik semua kekuatan itu, hatinya masih menyimpan memori tentang taman kecil di belakang rumahnya yang sederhana.
Violetta mendongak ke atas, menatap lubang jauh di langit-langit gua tempat ia terjatuh, dan sebuah tekad baru muncul di dalam hatinya yang suci. Ia harus kembali, bukan untuk membalas dendam pada mereka yang menghinanya, tetapi untuk menjalankan tugas berat yang kini diletakkan di bahunya. Dengan satu langkah kaki, ia melayang naik, meninggalkan dasar jurang yang telah melahap gadis desa dan melahirkan seorang dewi.
Kisah tentang bunga violet yang mekar di taman belakang kini berubah menjadi legenda tentang bunga yang mekar di setiap jejak langkah sang Saintess. Oakhaven tidak akan pernah sama lagi, dan seluruh kekaisaran akan segera berlutut di hadapan keajaiban mata merah dan birunya.