Visual: Jonathan Franklin, Emily Zhou, Anak 1 Omar, Anak ke 2 Ozack, Anak ke 3 : Arora.
Disebuah kota metropolitan, seorang yang terbiasa hidup serba mewah bergelimang harta, namun runtuh dalam sekejap. Saat banyaknya saham anjlok dan banyak usahanya yang hancur karena kesombongannya.
Kini hanya tersisa bangunan yang berdiri sederhana di ujung jalan kecil di kota Surabaya.
Cat tembok yang mulai kusam dimakan waktu, namun bagi Jonatan Franklin rumah itu seringkali ia sebut dengan bangga.
Seolah itu miliknya sendiri padahal hanya sekedar harta waris peninggalan orang tuanya satu satunya.
Menikahi Emily Zhou gadis berdarah Indonesia Korea yang usianya begitu jauh lebih muda darinya.
Emily gadis berusia 23 tahun harus menelan kekecewaan seumur hidupnya, yang ia kira dapat hidup bahagia bersama sosok pria yang awalnya ia kira bisa menjadikannya tempat berlindung pengganti ayahnya yang selama ini tiada.
Bahkan Emily yang kurang akan kasih sayang seorang ayah, begitu sangat menyayangi dan menghormati ayah mertuanya sendiri.
Namun kenyataannya hidupnya tak seindah dari yang ia bayangkan selama ini, memilih pria yang usianya jauh lebih dewasa pun ternyata tidak menjamin akan bahagia.
Nyatanya di usia pernikahan ke tiga belas tahun hidupnya semakin memendam luka yang begitu dalam.
"Dad, bisa bantu aku geser almari ini untuk dipindah dipojokan sana?."
"Kenapa lagi Emily, kamu jangan seenaknya pindah pindahin barang, ingat kamu hanya menumpang dirumah ini."
Bak tersambar petir Emily mendengarnya, awalnya hanya sekali lama kelamaan begitu sering Jonatan suaminya itu melontarkan kata kata yang tidak seharusnya ia ucapkan apalagi selalu saja disaksikan ketiga anaknya.
Emily hanya diam, walaupun sesekali ia membela diri, namun yangbia ucapkan malah menjadi masalah baru bagi Emily, ia selalu dituduh istri durhaka selalu membantah dan masih banyak lagi tuduhan lainnya.
Padahal saat itu niat Emily hanya ingin merapikan rumah suaminya, merasa bertanggungjawab untuk membuat semua nyaman ketika tinggal dirumah sendiri.
Niat hati merawat tapi selalu disalah artikan oleh Jonathan. Disaat Emily sedang rajin rajinnya semuanya lakukan dari mengepel lantai, mencuci pakaian secara manual, tapi selalu saja salah.
"Bulan ini listrik naik, hemat hematlah, kalo enggak karena kamu sering nyuci mungkin aku tidak akan semahal ini membayar tagihan Emily, mana dari keluarga kamu yang membantu ketika kita susah hah!, enggak ada."
"Jadi tau dirilah sedikit, kamu itu hidup numpang disini, jangan asal main sentuh barang yang bukan milik kamu ingat itu."
Emily tak habis pikir dengan sikap suaminya yang semakin hari ada saja kata sarkas yang terlontar jika dia sedang sepi orderanlah, ditagih hutang piutang entah itu kartu kredit, listrik, Air maupun kendaraan yang saat ini dipakai hasil kredit yang masih dalam proses cicilan selama dua tahun.
Selalu saja melimpahkannya emosinya pada Emily, Emily dan Emily hanya Emily lah tempatnya salah Dimata Jonathan.
Hingga acapkali keduanya ribut alias cekcok permasayruma tangga selalu sudah jadi makanan sehari hari ketiga anak anaknya.
Yang membuat ketiga anaknya seolah sudah terbiasa melihat hal seperti itu. Menjadikan mereka sudah tidak lagi melihat emily menjadi sosok ibu dimata mereka.
Suatu hari setelah membersihkan seluruh ruangan, anaknya lapar. Dengan nada ketus meminta makan pada Emily.
"Mom, laper nih, masak apa?." Tanya Omar.
"Itu Momy habis masak telur sama tempe goreng."
"Haish, enggak ah bosen, telor mulu, tempe mulu."
Omar langsung ngeloyor ke kamar dan brak, menutup pintu kamarnya begitu keras.
Emily hanya bisa elus dada, dan kemudian setelahnya, "Mom pengen jajan?." Ia menoleh pada Jonathan.
"Nih sana jajan gih." Ucap Jonathan memberikan uang dengan senyum pada anak ketiganya Arora.
Awalnya sebelum Omar meminta makan, Jonathan lah yang meminta makan lebih dulu, namun ia hanya makan beberapa suap setelahnya menaruh piring dengan kasar.
"Mil, gua pontang panting nyari duit, kenapa elo masaknya telor lagi telor lagi sih?."
"Dad, uang yang Dady kasih tuh enggak cukup dad, Dady kan tau, gimana harga dipasar, Dady saja yang belanja kalau tidak percaya."
"Alah, alasan saja, dasar istri pemalas."
Selalu saja seperti itu yang terjadi, masak salah, enggak masakpun selalu salah dimata suaminya itu.
Suatu ketika ia tidak masak sama sekali, pun sama lebih disalahkan, apalagi dengan puasnya melontarkan kata sarkas didekat salah satu keluarganya. Semakin sudah Emily terpojok saat itu.
Emily hanya menelan pahit setiap harinya. Sampai suatu ketika Emily sudah diambang batas sabar.
Saat ia mendengar suaminya sendiri selalu saja meracuni pikiran anak anaknya dengan kebencian.
Dibalik pintu kamar, Emily mendengar pembicaraan anak anaknya dan juga Jonathan.
"Dad, kenapa momy selalu dirumah?.'
Jonathan hanya mengendikan bahunya tak menjawab, dan dijawablah oleh Omar, "Ya memang momy kerjanya dirumah mulu, tempat nyamannya di rumah, tidak seperti momynya teman Omar dia berkarir loh dad."
"Ya gimana lagi, semua semuanya kan sama Dady, kalian lihat sendiri ka?."
"Berasa tamu nggak sih momy, disini haha?."
"Emang, kan ini rumah Dady, bukan rumah momy, momy hanya menumpang dirumah ini kalian mengerti."
Lagi dan lagi Elis hanya mengelus dada menahan tangisnya saat dimana anak anaknya sendiri sudah tak menganggapnya ada.
Dan pagi hari saat semua belum pada bangun dari tidurnya, ia menyelipkan secarik surat yang ia tinggalkan di area nakas kamarnya.
Emilya pergi tanpa pamit saat itu. Awal mula semua nampak enjoy enjoy saja tanpa kehadirannya, satu hari, dua hari, tiga hari tidak ada yang menanyakan keberadaannya sama sekali.
Akan tetapi setelah satu Minggu, semua berubah, semua berbeda. Rumah nampak sepi, terasa kosong tak ada suara wajan, Taka ada aroma masakan, takanada suara lengkingan teriakan. Sudah tidak ada lagi.
Awalnya Jonathan berpikir ah biasa mana mungydia berani pergi lama, lapar juga bakal pulang..
Tapi hingga satu Minggu, satu bulan berlalu anak anaknya sudah mengeluh meminta makan, meminta ini dan itu. Rumah pun biasa tertata rapi menjadi tak terarah sama sekali.
Semua bagaikan kapal pecah, banyak sampah dimana mana yang tidak sekalipun pada inisiatif untuk membersihkannya. Rumah itu pun sudah mulai berdebu, semakin hampa tak bernyawa.
Sampai suatu ketika Jonathan melihat ada secarik kertas yang berisikan pesan dari Emily.
"Dear suamiku Dady jika aku sudah pergi, katakan pada anak anak bukan aku tak ingin kembali, bukan momy tak sayang kalian, tapi momy sangat sayang pada kalian cinta momy pada kalian semua lebih dari apapun, tapi momy sudah cukup lelah untuk kembali."
Tak terasa airmata luruh begitu saja, Jonatan terisak sejadi jadinya. Ingin meminta maaf pun sudah percuma.
Tak lama ia mendengar kabar dari salah satu tetangga Emily diluar kota.
"Hallo, apa benar ini kediaman suami nyonya Emily?."
"Oh iya saya sendiri, ada apa ya Bu?."
"Begini pak, nyonya Emily ditemukan tak bernyawa di rumah kontrakannya tiga hari lalu."
Bak tersambar petir saat itu Jonathan serasa begitu sesak mendengarnya. Dengan tubuh lemah dan rambut acak acakan, ia memanggil anak anaknya.
"Omar, Ozack, Arora sini nak."
"Ada apa dad, momy mana?, aku mau momy dad, Dady kan janji mau bawa momy, aku kangen momy dad?." Ucap Arora anak bungsunya.
Jonatan langsung memeluk dengan tangis sesekali ia menyeka airmatanya. "Maafin Dady nak, momy sudah enggak ada, momy meninggal."
"Enggak, enggak mungkin Dady bohong sama Ara."
"Kita banyak salah sama momy, pasti momy sedih hix."
"Kalo aja momy bisa kembali kumpul sama kita lagi, Omar mau minta maaf sama momy dad."
"Iya Ozack juga, Ozack kangen sama momy."
Penyesalan memang datang diakhir, maka hargailah istrimu atau ibumu dan orang orang terdekatmu selagi ada. Jangan sampai semua terlambat hanya karena keegoisanmu.
Penyesalan tidak akan datang diawal ia akan datang diakhir yang pada akhirnya sulit kita terima.
Selesai