Di bawah naungan langit sore yang mulai menguning, Naya duduk terdiam di teras rumah tuanya. Di tangannya, selembar uang lima puluh ribu rupiah yang sudah agak lusuh itu digenggamnya erat, seolah-olah kertas itu adalah bongkahan berlian yang paling berharga di dunia. Matanya yang sembab menatap kosong ke arah kursi kayu panjang yang kini kosong. Kursi tempat biasanya ibunya duduk, menunggu kepulangannya setiap hari.
Ingatan itu datang lagi, tajam dan menyayat, tentang sebuah percakapan singkat yang menghancurkan hatinya lebih dalam daripada bentakan mana pun yang pernah ia terima seumur hidupnya.
Sore itu, tiga bulan yang lalu, hujan turun rintik-rintik di Cicalengka. Naya baru saja pulang dengan bahu yang merosot, membawa beban pekerjaan kantor yang seolah tak ada habisnya. Ia baru saja dimarahi atasannya karena kesalahan kecil, dan kepalanya terasa berdenyut-denyut.
Saat ia masuk ke rumah, ia melihat Ibu sedang duduk di kursi kayu itu, memilin ujung daster batiknya yang sudah memudar warnanya. Wajah Ibu tampak ragu, ada sesuatu yang tertahan di kerongkongannya.
"Naya... sudah pulang, Nak?" tanya Ibu lembut.
Naya hanya bergumam, melempar tasnya ke kursi. "Iya, Bu. Capek banget."
Ibu berdiri, berjalan pelan mendekati Naya yang sedang meneguk air di dapur. Ibu berdeham kecil, suaranya hampir tidak terdengar di tengah deru hujan di luar.
"Nak... bolehkah Ibu meminjam uangmu? Lima puluh ribu saja. Ibu... Ibu mau beli obat salep untuk kaki Ibu yang gatal, dan sisanya buat beli beras sedikit karena stok kita habis," bisik Ibu dengan nada yang begitu rendah, seolah ia sedang melakukan sebuah dosa besar.
Naya tertegun. Gelas di tangannya hampir saja terlepas.
Selama ini, Naya sering dibentak Ibu jika ia telat bangun pagi atau jika ia lupa mencuci piring. Bentakan-bentakan itu tidak pernah membuat hatinya hancur; ia tahu itu adalah bentuk perhatian Ibu yang keras. Namun, ketika mendengar kata "meminjam" keluar dari mulut wanita yang telah mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya, Naya merasa dunianya runtuh.
Ibu meminjam uang padaku? batin Naya menjerit. Wanita yang telah memberiku ribuan liter ASI, wanita yang ribuan kali membasuh kotoranku tanpa pernah meminta ganti rugi, sekarang harus merendahkan dirinya hanya untuk meminta selembar uang yang bahkan tidak cukup untuk membeli satu porsi pizza di mal?
Naya terdiam lama. Keheningan itu terasa mencekam. Ibu salah mengartikan diamnya Naya.
"Kalau tidak ada, tidak apa-apa, Nak. Ibu... Ibu pakai bedak biasa saja nanti," kata Ibu cepat-cepat, mencoba tersenyum meskipun matanya menyiratkan rasa malu yang dalam.
Naya langsung berbalik, memeluk ibunya erat-erat. Air matanya tumpah seketika. "Kenapa Ibu bilang pinjam? Uang Naya itu uang Ibu juga. Semua yang Naya punya itu milik Ibu. Maafkan Naya, Bu... Maaf kalau selama ini Naya kurang memperhatikan Ibu sampai Ibu harus merasa sungkan begini."
Ibu hanya mengelus punggung Naya dengan tangannya yang sudah mulai berkerut. Tangan yang dulu begitu kuat memandikan Naya saat bayi, kini terasa begitu rapuh.
Ingatan Naya beralih jauh ke masa kecilnya. Ia ingat betul bagaimana Ibu tertawa renyah setiap kali memandikannya di dalam ember plastik besar. Ibu akan mencipratkan air ke wajah Naya, membuat Naya kegirangan. Tawa Ibu saat itu adalah suara paling merdu di dunia. Bagi Ibu, memandikan anaknya adalah sebuah ibadah yang penuh suka cita.
Namun, roda waktu berputar dengan kejam.
Seminggu yang lalu, di bawah lampu kamar mandi yang temaram, Naya berdiri dengan kaki gemetar. Di depannya, di atas dipan kayu yang sudah ditutupi kain putih, jenazah Ibu terbujur kaku.
Tugas terakhir Naya adalah memandikan Ibu.
Jika dulu Ibu tertawa saat memandikannya, kini Naya hanya bisa tersedu-sedu. Setiap usapan air di kulit Ibu yang dingin terasa seperti tusukan jarum di dadanya. Ia membasuh rambut Ibu yang sudah memutih, mengingat bagaimana dulu Ibu dengan sabar menyisir rambut Naya setiap pagi sebelum berangkat sekolah.
Ia membasuh tangan Ibu yang dulu selalu menggandengnya menyeberang jalan. Ia membasuh kaki Ibu yang dulu sering menempuh berkilo-kilo meter demi mencari nafkah agar Naya bisa kuliah dan menjadi orang sukses.
"Satu ibu bisa merawat sepuluh anak," bisik Naya di telinga jenazah ibunya yang sudah tidak bisa lagi mendengar, "tapi ternyata, sepuluh anak pun belum tentu sanggup merawat satu ibu dengan sempurna."
Naya menyadari betapa benarnya kalimat itu. Ia teringat saudara-saudaranya yang lain, yang sibuk dengan urusan masing-masing di kota besar. Yang hanya mengirim uang sebulan sekali namun jarang menanyakan kabar, apalagi datang untuk sekadar memijat kaki Ibu. Hanya Naya yang tersisa di rumah tua ini, dan itu pun ia merasa masih sangat kurang.
Ia teringat betapa suksesnya ia sekarang di kantor, betapa banyaknya pujian yang ia terima. Namun, ia tahu di balik setiap langkah mulusnya, ada doa-doa Ibu yang dipanjatkan di sepertiga malam. Jika tidak ada jalan tanpa debu, maka tidak akan ada kesuksesan tanpa doa ibu. Naya sukses bukan karena ia hebat, tapi karena Ibu selalu mengetuk pintu langit demi dirinya.
Kini, di pemakaman yang sunyi, Naya berdiri di depan gundukan tanah yang masih basah. Bunga kamboja berjatuhan di atas pusara. Ia meletakkan uang lima puluh ribu rupiah yang ia pegang tadi ke dalam kotak amal di depan gerbang makam, meniatkannya atas nama Ibu.
Ia tersadar, penyesalan memang selalu datang di akhir. Namun, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu mengenang "hutang" yang takkan pernah lunas itu—bukan hutang uang, melainkan hutang nyawa dan kasih sayang.
Naya melangkah pulang. Rumahnya mungkin akan terasa sepi tanpa suara Ibu yang mengomel, tapi ia tahu, di setiap sudut rumah itu, aroma kasih sayang Ibu akan tetap tinggal selamanya. Ia akan terus melangkah di atas jalanan yang penuh debu ini, dengan keyakinan bahwa meskipun Ibu sudah tiada, doa-doa yang telah Ibu tanam di langit akan terus menaunginya hingga akhir hayat.
Sebab, tidak ada cinta yang lebih tulus daripada seorang ibu yang rela "meminjam" dari anaknya sendiri demi menjaga agar anaknya tidak merasa terbebani, dan tidak ada duka yang lebih dalam daripada seorang anak yang baru menyadari arti kehadiran ibunya saat semuanya telah menjadi kenangan.