Sore hari ketika Ara baru sampai di rumah, ia memutuskan ikut bergabung dengan Andin Adit juga kakek Wirya yang tengah asyik ngobrol.
"Lagi pada ngomongin apa sih? Kayanya seru banget." Ara duduk di samping kakek Wirya bergelayut manja pada lelaki tua tersebut.
"Biasa kita lagi ngobrolin urusan seputar kehidupan pekerjaan sama masa lalu opa. Tuh mereka pada mau tau kisah romantis opa sama istri opa dulu," jawab lelaki tua seraya mengelus rambut Ara yang di biarkannya tergerai.
"Seru tau Ra, kisah opa itu romantis banget. Kamu sama kak Shaka mah kalah, apa lagi aku. Kalah banget!" sahut Andin dengan memicingkan bibirnya pada Adit.
"Dih, kita juga romantis tau," sergah Adit seraya merangkul bahu Andin dengan senyuman.
"Udah kalian jangan kaya gitu, mesra-mesraan di depan Ara, kalian gak kasian apa sama gadis cantik ini," timpal kakek Wirya.
"Gak apa-apa opa, Ara udah terlatih ngeliat kemesraan mereka," jawabnya dengan tawa manis gadis berlesung pipit itu.
"Yang sabar ya cantik, kamu mesra-mesraanya nanti aja pas halal." Ucapan kakek Wirya membuat senyum Ara seketika hilang, wajah gadis manis itu berubah sendu.
"Ra," panggil Andin. Ia berpindah duduk mendekati Ara.
"Maafin opa nak." Kakek Wirya tau kesedihan gadis itu karna ucapannya.
"Gak apa-apa opa, doain aja semoga Ara dan kak Shaka memang bisa sampai kepernikahan," jawabnya dengan memaksa bibirnya untuk tersenyum.
"Bisa Ra, kamu harus yakin," timpal Adit.
"Ara yakin ko, meskipun rintangannya gak mudah," jawabnya.
"Kita bantu, asal kamu mau dengerin ide kita," tutur Adit lagi.
"Hah! Ide apa maksudnya?" tanya Ara bingung.
"Kamu cukup ikuti perkataan kita, selanjutnya kita yang akan urus semua," sahut Adit seraya menatap pada Andin dan kakek Wirya.
"Maksudnya gimana? Ara bener-bener gak ngerti,"
"Ara dengerin mas, kita bertiga udah punya ide buat hubungan kamu sama Shaka agar bisa melangkah ketahap lebih serius dari ini," ucap Adit. Meskipun Ara terlihat bingung, gadis itu merubah posisi duduk, menyimak ucapan kekasih saudaranya.
"Caranya?"
"Mas tau kamu dapet ancaman lagi dari om Khai, sebulan kan?"
Ara menoleh ke arah kakek Wirya, hanya lelaki itu yang tau ancaman Khaidar padanya. "Opa minta maaf Ra," timpal lelaki tua tersebut.
"Gak apa-apa opa, tapi Ara mohon kalian jangan bilang sama kak Shaka soal ancaman ini ya, Ara gak mau kak Shaka makin benci sama papahnya sendiri," jawab Ara dengan menangkup kedua tangannya di dada.
"It's oke Ra. Kamu gak usah khawatir," sahut Adit.
"Justru kalau opa gak ngomong soal itu kita gak kepikiran bergerak cepat untuk melaksanakan rencana ini, awalnya kita mau nunggu Shaka sampai selesai proyek di sana, tapi sekarang kita berubah pikiran, kita akan merealisasikan semuanya dalam waktu kurang dari dua minggu, kamu maukan ikuti rencana kita?" sambung Adit.
"Rencana seperti apa?"
"Kamu hubungi om Khai sekarang," pinta Adit. Mata Ara membulat.
"Untuk apa?" Pertanyaan Ara disambut penjelasan Adit. Gadis itu menyimak meskipun ia khawatir dengan rencana Adit yang menurutnya terlalu mengambil resiko.
"Kamu nurut aja Ra, kita yakin akan berhasil, ada beberapa rencana yang akan kita jalankan kalau satu rencana pertama gagal," jelas Adit kembali.
"Iya Ra, gak usah pesimis gitu, kita yakin rencana ini berhasil, ada beberapa bukti yang pastinya bakalan bikin om Khai mikir untuk menjodohkan kak Shaka dengan mbak Sherin," tukas Andin.
"Bukti?"
"Ya. Tapi biarlah itu akan menjadi kejutan nanti, yang kita mau kamu ikuti rencana awal ini," pinta Adit lagi.
"Ara mau, tapi bagaimana dengan kak Shaka?"
"Tenang aja, Shaka udah kita telpon tadi, dia juga udah ngasih jawaban, nih barusan dia kirim chat ke mas, kalau dia setuju rencana kita,"
"Huuft. Semoga rencana kalian berhasil. Makasih ya, kalian jadi ikut repot sama urusan ini,"
"Santai Ra, kamu gadis baik yang berhak bahagia, dan kebahagian kamu ada bersama Shaka, bukan? Lagian mas gak akan biarkan sahabat mas menikah dengan wanita yang gak baik seperti Sherin," tutur Adit yang di sambut dengan senyum tipis Ara.
"Ya udah sekarang hubungi om Khai, bilang seperti yang mas tadi ucapin kekamu," pinta Adit.
"Ara gak punya nomber om Khai,"
"Di mas Ada sih, tapi nanti dia curiga yah. No tante Arini punya dong?"
"Ada ko, tapi apa nanti tante Arini gak curiga kalau Ara mau bicara sama om Khai, Ara gak mau tante Arini salah paham, dia kan gak tau rencana ini, iyakan?"
"Atau kita telpon dulu tante Arini dan bilang rencana mas Adit," sambung Ara.
"Enggak..enggak. Takutnya ada om Khai disebelah tante Arini. Udah sekarang telpon aja tante Arini dan bilang mau bicara sama om Khai, nanti lain waktu kita ceritain rencana ini sama beliau," saran Adit yang disetujui Andin juga kakek Wirya.
"Huuft. Oke deh. Doain yah, semoga Ara gak grogi,"
"Pasti. Jangan nervous, kamu harus kedengeran yakin dengan apa yang kamu ucapin." Ara mengangguk lalu mulai mencari kontak Arini. Setelah mendapatkan yang di cari, Ara kembali menekan tanda hijau untuk memulai obrolannya.
"Load speaker Ra," bisik Andin sebelum tersambung.
"A--assalamua'laikum tante," sapa Ara kala telponnya tersambung.
"[Wa'alaikum salam sayang, apa kabar kamu? Udah lama gak ketemu, tante kangen tau,]" jawab Arini.
"Ara juga kangen tan, Ara baik alhamdulillah. Gimana kabar tante?"
"[Alhamdulillah, tante juga sehat Ra, oh iya tumben kamu telpon tante, ada apa?]"
"Mm, gi--ni tante, boleh gak Ara mau bicara sama om Khai, atau mungkin Ara minta nomber telponnya om Khai,"
"[Hah! Tumben banget. Ada apa Ra? Apa papahnya Shaka ngelakuin hal aneh lagi sama kamu?]"
"Mmm eng--gak ko tan, Ara cuma mau bicara aja sebentar. Ara mohon,"
"[Ra, tante gak percaya kalau gak ada apa-apa, jujur sama tante sayang, ada apa?]"
"Mm beneran tan, gak ada apa-apa, Ara cuma mau berusaha mengambil hati om Khai, semoga aja om mau membuka hati untuk menerima Ara sebagai calon menantunya,"
"[Oke. Semoga apa yang kamu bilang beneran. Tapi tante yakin kamu lagi nyembunyiin sesuatu. Tunggu yah, tante kirimin nomber papahnya Shaka aja yah, soalnya dia tadi ijin keluar katanya mau ketemu orang.]"
Sambungan telponnya terputus. Ara menghela nafas panjang untuk mengurangi perasaan yang bercampur aduk yang tengah di rasakannya.
Cling
Suara pesan masuk, nomber Khaidar sudah ada di ponselnya, namun ia kembali terlihat ragu.
"Ayo Ra, jangan buang-buang waktu, kita yakin kamu bisa," tutur Adit.
"Ara takut mas, om Khai bukan orang bodoh yang akan langsung percaya, Ara khawatir rencananya gagal,"
"Ra, Adit kan udah bilang, kalau satu rencana gagal, tenang masih ada seribu rencana yang bisa di pakai," tukas kakek Wirya.
"Huuft. Bismillah." Ara mulai menyambungkan telponya pada Khaidar dengan mengeraskan suaranya sebelum Andin meminta.
"[Siapa ini?]" Suara lelaki di sebelah sana langsung membuat Ara kaku seakan tak mampu berkata-kata, mulutnya pun seakan terkunci.
"[Hallo. Jangan main-main. Saya gak punya waktu!]" Nada tinggi mengejutkannya. Tangan Andin menggoyangkan tubuh Ara dan memberi kode untuk mulai bicara.
"Assalamua'laikum om," sapanya terbata-bata.
"[Kamu, Ara kan?] Khaidar nampak sudah tidak asing dengan suara Ara yang memang bernada lembut meskipun terdengar gugup.
"Iya om, sa--ya Ara,"
"[Ada apa kamu hubungi saya? Apa kamu sudah berubah pikiran?]"
Huuft. Ara menghela nafas panjangnya kembali untuk mengurangi rasa nervousnya.
"Sepertinya yang om mau. Ara udah mengakhiri hubungan dengan kak Shaka, bahkan membuat kak Shaka jadi benci sama Ara. Ya, itukan yang om mau?" Khaidar hampir loncat mendengar kabar bahagia yang di tunggunya, namun ia kembali menjaga imagenya agar terlihat tenang di depan orang banyak.
"[Sebentar. Kamu gak lagi bercanda kan sama saya?]"
"Enggak ko. Om bisa tanya sama kak Shaka, Ara udah menuruti semua yang om mau,"
"[Bagus. Kenapa gak dari dulu, kan kalau kamu nurut semuanya gak akan seribet ini. Oke jadi berapa uang yang kamu mau untuk bayaran atas permintaan saya?]"
"Maaf om. Ara udah bilang sama om, Ara tulus sayang sama kak Shaka, biarlah Ara berkorban demi kebahagiaan kak Shaka dengan cara seperti ini, Ara gak minta uang tapi Ara cuma mau satu syarat sebelum Ara benar-benar pergi dari kehidupan kak Shaka,"
"[Syarat? Apa,]"
"Jika kak Shaka sama mbak Sherin jadi bertunangan, ijinkan Ara untuk menghadiri acara pertunangan kak Shaka. Hanya itu,"
"[Apa kamu yakin? Apa jangan-jangan kamu mau mengacaukan acara tersebut,]"
"Dengan cara apa? Ara hanya gadis miskin dan lemah. Gak ada rencana untuk mengacaukan pertunangan lelaki yang sangat Ara cintai, Ara hanya ingin menyaksikan senyum bahagia kak Shaka di hari istimewanya, setidaknya dengan seperti itu Ara yakin kak Shaka memang bisa bahagia tanpa Ara,"
"[Setuju. Saya pastikan akan mengundang kamu untuk acara besar itu, kamu siapkan mental saja. Dan saya sangat yakin Shaka akan tersenyum bahagia dengan gadis pilihan saya.]"
Tut tut tut.
Khaidar memutuskan telponnya secara sepihak.
Pria yang masih terlihat gagah itu menyumbingkan senyum bahagia mendengar keputusan perempuan yang di anggapnya sebagai penghalang selama ini, ia kembali duduk di kursi cafe seraya menunggu Sherin yang sedari tadi belum terlihat batang hidungnya.
"Sekarang satu penghalang sudah hilang. Oke, Khaidar permainan kita mulai, Heru boleh punya kartu as kamu, tapi setelah pernikahan, kamu akan saya buat menjadi gembel. Shaka dan Sherin akan berada di bawah kendaliku,Ckk! Khaidar tersenyum miring setelah membayangkan kemenangan yang sebentar lagi akan di dapatnya.
"Om." Sherin menggoyangkan tubuh Khaidar yang tengah melamun dengan senyum yang menghiasi wajahnya.
"Eh. Kamu ternyata sudah sampai," ucap Khaidar.
"Maaf om. Macet,"
"Santai, mau pesen apa?"
"Minum aja." Khaidar memanggil pelayan meminta dua gelas kopi untuknya dan Sherin.
"Sepertinya om lagi bahagia, kenapa tadi senyum-senyum?" tanya Sherin tiba-tiba.
"Iya dong. Ada kabar baik Rin, rencana om buat ngancam gadis kampung itu berhasil, dia nyerah. Dia udah mutusin Shaka," jelasnya antusias. Begitupun dengan Sherin yang menyambut bahagia ucapan Khaidar.
"Om serius? Yeey. Akhirnya, kenapa gak dari dulu sih tu cewek nyerah, kan gak akan seribet ini,"
"Ya. Tapi sekarang yang terpenting penghalang kita sudah pergi, tinggal om yakinin Shaka buat nikah sama kamu,"
"Ya udah secepatnya om, jangan sampai gadis miskin itu berubah pikiran dan kembali sama Shaka,"
"Oke. Sabar dong, nanti om hubungi Shaka, om pastikan acara pernikahan kamu akan di gelar secepatnya." Khaidar dan Sherin tersenyum puas dengan khayalannya masing-masing.
Gawai Khaidar kembali bergetar, membuat keduanya mengehentikan obrolannya sesaat. "Shaka." Khaidar memperlihatkan nama Shaka di ponselnya pada Sherin.
"Cepet angkat om. Sherin mau dengar,"
"Hust kamu diem. Nanti Shaka curiga." Khaidar mulai menekan tanda hijau untuk memulai obrolannya.
"Shaka, tumben kamu nelpon papah, gak biasanya ada apa? Ada masalah kah dengan perusahaan kita di sana?" tanya Khaidar pura-pura.
"[Enggak pah. Bukan perusahaan yang ada masalah, tapi Shaka,]" jawabnya dengan nada sedih untuk meyakinkan sang ayah.
"Maksud kamu apa?"
"[Papah bener. Ara gak tulus sayang sama Shaka pah, kali ini semua sudah terbongkar. Maafin Shaka pah, Shaka gak pernah dengerin omongan papah,]"
"Kamu udah tau sekarang wanita itu memang cuma mau harta kamu Kha,"
"[Iya pah. Ara memang gak sayang sama Shaka, ketulusan cinta Shaka dihianati, pengorbanan Shaka selama ini gak di anggap. Shaka menyesal udah nentang papah dari dulu demi dia,]"
"Papah kan sudah bilang, gadis itu pasti pengen sesuatu aja sama kamu, untung saja belum terlambat, tuhan buka mata kamu,"
"[Iya pah, maafin Shaka pah. Shaka berdosa banget sama papah. Sebagai gantinya Shaka mau menerima perjodohan itu. Shaka mau tunjukin sama dia kalau Shaka akan bahagia tanpa dia,]"
"Yes. Ini baru anak papah. Anak pewaris tunggal Jkgroup. Kamu memang kebanggaan papah sayang,"
"[Makasih pah. Papah mau berbaik hati memaafkan Shaka,]"
"It's oke sayang. Papah sudah maafin kamu, yang jelas keputusan yang kamu ambil benar-benar membuat papah seneng,"
"[Shaka hanya mau nunjukin kalau Shaka bisa hidup tanpa dia pah. Ya, Sherin adalah gadis yang tepat untuk Shaka, seperti yang papah mau,]"
"Iya dong. Papah gak akan salah mencarikan jodoh yang terbaik untuk kamu,"
"[Baik pah, Shaka percayakan semuanya sama papah, Shaka mau pertunangan Shaka di percepat. Shaka ingin memulai hidup baru dengan wanita yang tepat,]"
"Tentu. Papah urus pesta pertunangan kamu di sini setelah selesai kamu baru pulang, nanti urusan pesta pernikahan kamu yang urus sama Sherin biar papah yang lanjutin proyek kamu di sana,"
"[Makasih pah, Shaka slalu ngerepotin papah,]"
"Enggak dong, kamu kan anak papah, kewajiban papah selagi papah bisa sayang,"
"[Sekali lagi makasih pah. Oh iya, Shaka mau pesta pertunangan di adakan di Rumah Sherin aja, gak usah di gedung, tapi Shaka mau di adakan secara besar-besaran. Papah undang media juga patner bisnis papah, dan semua orang-orang penting begitupun dengan om Heru, Shaka mau di kenalin sama semua patner kerja om Heru,]"
"Oke, itu hal gampang. Ada hal lain?"
"[Enggak pah itu aja, makasih pah. Salam buat om Heru dan juga Sherin. Shaka lanjut kerja lagi ya pah, biar cepet selesai.]" Sambungan telponnya terputus.
"Maafin kakak sayang, semoga rencana Adit berhasil, dan bisa mempersatukan kita." Shaka menghempaskan tubuhnya ke sofa di apartementnya.
Sementara Khaidar benar-benar merasa di atas angin, rona bahagia benar-benar terpancar dari wajahnya. Jika tak ada orang mungkin saja Khaidar sudah jungkir balik karna begitu bahagianya.
Sherin pun menyambut kabar bahagia dari Khaidar, rencananya akan segera terwujud. Ia akan menjadi nyonya Shaka dan akan mengendalikan Shaka di genggamannya, begitupun dengan Heru yang mempunyai rencana yang sama liciknya.
***
Kabar tersebut sudah di dengar Arini, meskipun awalnya ia sangat terkejut, namun wanita paruh baya itu hanya bisa menuruti ucapan sang suami. Pernah Arini menuntut penjelasan dari Ara juga Shaka tentang kabar ini, namun keduanya seolah bungkam, naluri sang ibu bekerja, ia meyakini kalau ada rencana dibalik semuanya.
Khaidar sudah membuat baju dari tempat biasa yang slalu jadi andalannya untuk acara besar. Begitupun Arini dan Shaka. Warna silver dan putih menjadi pilihan untuk acara pertunangan Shaka dan Sherin. Awalnya Sherin menolak, gadis itu lebih tertarik dengan warna gold kesukaannya, namun ia harus mengalah demi permintaan Shaka, alasan Shaka simple, warna silver dan putih adalah warna kesukaannya dan kekasih sebenarnya.
Satu lagi permintaan Shaka yang kembali tak bisa di tolak Sherin, pria tampan itu menginginkan dekorasinya dipenuhi dengan bunga mawar putih, bunga kesukaan Ara, yang bertolak belakang dengan dirinya.
"Huft. Sekarang gue harus ngalah dulu. Tapi liat entar, lo gak bisa berkutik di bawah kaki gue!" Sherin berucap dalam hatinya setelah selesai berdiskusi dengan Arini.
****
Siang hari di hari minggu Ara masih bermalas-malasan di ranjang kamar tidurnya, menonton drama korea jadi teman dikala sepinya, ac dikamarnya membuat tubuhnya kedinginan, begitupun suasana diluar yang tengah hujan deras. ia kembali menarik selimut dan melanjutkan melihat adegan romantis di film tersebut.
Tak terasa rasa kantuk mulai menderanya, gadis itu tertidur kembali dengan drama korea yang masih menyala.
Sementara Andin pergi ke cafe beserta Adit, kali ini bu Vita dan Shaki juga ikut sedari pagi, mereka menghabiskan akhir pekan di cafe milik Adit.
Tingtong
Suara bel di rumahnya berbunyi, kakek Wirya menoleh ke arah kamar Ara, namun gadis itu tak kunjung keluar.
Ia bergegas mendekati pintu setelah dua kali bel rumah tersebut kembali berbunyi.
"Shaka!" Lelaki tua itu mengintip dari lobang pintu. Ia terkejut kala melihat Shaka yang tengah berdiri di depan pintu seraya mengibaskan rambutnya yang basah karna hujan diluar memang cukup deras.
Kakek Wirya membuka pintunya. "Nak Shaka," ucapnya.
Shaka tersenyum lalu mencium tangan kakek Wirya.
"Assalamua'laikum opa, apa kabar?"
"Wa'alikum salam. Alhamdulillah, opa sehat. Ko kamu tiba-tiba ada di sini?"
"Iya opa, Shaka baru sampe Jakarta tadi, langsung dateng kesini, bolehkan Shaka masuk?"
"Oh astagfirullah, opa sampe lupa. Ayo,"
"Papah kamu tau kamu udah sampe Jakarta?"
"Enggak ko, Shaka sengaja gak kasih tau kepulangan Shaka dari Jepang, Shaka mau ketemu Ara dulu sebelum Shaka melanjutkan rencananya, Ara ada di rumahkan?"
"Iya dia ada di kamar, sepertinya dia tidur,"
"Mm. Yang lain pada kemana ko sepi?"
"Mereka semua pergi ke cafe, cuma Ara sama opa aja yang ada di rumah,"
"Oh. Kalau gitu bolehkan Shaka kekamar Ara. Shaka gak bakal macem-macem ko. Opa percayakan sama Ara dan Shaka,"
"Iya, opa tau kamu bukan laki-laki kurang ajar,"
"Makasih opa." Shaka berjalan perlahan masuk kekamar gadis pujaan hatinya.
Shaka sengaja membiarkan pintunya terbuka, sebelum ia menghampiri Ara yang tengah tertidur pulas dengan selimut tebal yang membungkus tubuh mungilnya.
Cup
Shaka mengecup pipi kiri sang kekasih seraya mengelus rambutnya yang dibiarkan ter'urai.
Ia mengikuti Ara merebahkan badanya seraya masuk kedalam selimut kekasihnya. Pelukan hangat dari belakang membuat Ara menggeliat perlahan.
Ia terkejut merasakan tangan yang melingkari perutnya. Sementara Shaka bersembunyi di dalam selimut menahan tawa akibat reaksi yang di tunjukan sang kekasih.
"Wanginya!" Ara berusaha melihat ke arah belakang namun pelukan Shaka begitu erat membuat ia kesusahan melihat wajah orang di belakangnya yang seluruh tubuhnya tertutup selimut.
"Kamu siapa?" teriak Ara.
Tangan Shaka berpindah membekap mulutnya untuk berhenti berteriak. Lalu merubah posisinya menjadi terlentangan menarik selimutnya untuk menutupi bagian kepala Ara.
Mmmmpttt mmmmptt
Ara panik, ia tak bisa berteriak dengan bekapan tangan dimulutnya.
Ia mencurigai Shaka karna wangi tubuhnya, namun ia tak berani berkhayal jauh dan ia pun merasa tidak mungkin Shaka tiba-tiba hadir.
Bekapan mulutnya perlahan di buka. Baru saja Ara akan berteriak kembali, seketika bibirnya di cium Shaka. Kedua tangan Ara di pegang kuat. Gadis itu mulai berontak takut.
"Diem kenapa!" ucap Shaka setelah melepaskan ciumannya dan membuka selimut yang menutupi wajahnya.
"Kakak!!" teriak Ara dengan cubitan manja di pinggang sang kekasih.
"Apa? Kaget yah tiba-tiba kakak ada di sini?" sahutnya dengan tatapan nakal pada sang kekasih.
"Ko kakak bisa ada di sini?" tanyanya heran.
"Bisa. Apa sih yang enggak bisa buat kakak," tuturnya dengan senyuman.
"Ish. Dasar! Kenapa gak bangunin Ara dengan cara biasa aja sih, bikin Ara takut tau, Ara pikir ada orang jahat yang tiba-tiba masuk kekamar," sungutnya manja.
"Lagian tidur ko kaya orang mati, kebo banget," sahutnya dengan menempelkan hidungnya pada hidung mancung Ara.
"Ish gitu banget sih sama Ara,"tukasnya manja.
"Emang kenyataan," jawabnya lagi.
"Wajar kali, hujan selimutan eh ketiduran. Kan nikmat," jawabnya.
"Lebih nikmat lagi kalau kaya gini." Shaka kembali menarik selimutnya menutupi wajah keduanya memeluk erat tubuh sang kekasih.
"Ilove you Zahra khumairah."
Cupp
Shaka kembali mencium bibir tipis Ara. Kali ini gadis itu membalasnya dengan mesra.
***
Aaaaa hayang...!!!😗😗😗
Haluuuuuu 😆😆
Guguling deui... guguling deui.😌🤗
Selamat Ulang Tahun untuk kamu yang ulang tahun hari ini.