Di meja makan jati yang dipoles mengkilap itu, asap mengepul dari semangkuk gulai nangka muda dan sepiring ikan asin peda yang aromanya memenuhi setiap sudut ruangan. Bagi mertuaku, Ibu, aroma itu adalah undangan kemewahan. Bagiku, itu adalah lonceng peringatan bahwa perutku akan kembali melilit kosong malam ini. Aku duduk di kursi kayu yang terasa keras, memandangi piring keramik putih di depanku yang masih bersih tanpa noda, sementara Ibu dengan semangat bercerita tentang betapa segarnya nangka yang ia beli di pasar subuh tadi. "Ita, ayo makan yang banyak. Ini nangka pilihan, Ibu sengaja belikan buat kamu biar sehat," ucapnya dengan nada yang begitu manis, seolah-olah ia sedang menawarkan potongan surga. Aku hanya bisa tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih mirip ringisan tertahan, sambil meremas jemariku di bawah meja.
Sejak aku menikah dengan Rendy dan memutuskan untuk sementara tinggal bersama mertuaku, dunia kulinernya menjadi penjara bagiku. Aku adalah seorang picky eater yang ekstrem, sebuah label yang sering kali dianggap sebagai "manja" atau "pilih-pilih" oleh orang awam, namun bagiku, ini adalah perjuangan fisik. Ada tekstur tertentu yang membuat tenggorokanku seolah terkunci, dan ada aroma yang bisa membuat perutku bergejolak hebat hingga ingin muntah. Sejak awal, aku sudah mencoba menjelaskan hal ini dengan sangat hati-hati. Aku bercerita bahwa aku tidak bisa makan nangka, tidak suka ikan asin yang baunya menyengat, dan tidak bisa menoleransi sayuran yang dimasak terlalu lembek. Ibu selalu mengangguk, mengelus bahuku, dan berkata, "Iya, Ibu sayang banget sama kamu, nanti kita sesuaikan ya." Namun, kenyataan di dapur bercerita hal yang berbeda.
Kejadian hari ini bermula ketika Ibu menawarkan diri untuk belanja mingguan. "Siniin aja uang belanjanya ke Ibu, Ita. Kamu kan capek kerja, biar Ibu yang ke pasar sekalian olahraga. Nanti Ibu masakkan yang enak-enak buat kamu," katanya pagi tadi. Aku memberikan amplop berisi uang jatah bulanan kami dengan rasa lega, berharap kali ini ia benar-benar ingat bahwa aku sangat ingin makan ayam goreng mentega atau sekadar tumis buncis yang garing. Namun, saat sore tiba, yang memenuhi dapur adalah bahan-bahan yang menjadi daftar hitam dalam kamus makanku. Jengkol, nangka muda, ikan peda, dan daun pepaya pahit. Uangku ludes untuk bahan-bahan yang hanya dinikmati oleh Ibu dan Bapak, sementara aku hanya berdiri mematung di ambang pintu dapur, menatap kantong plastik yang isinya adalah mimpi buruk bagi indra perasaku.
Malam itu, di meja makan, Rendy mulai menyadari diamku. Ia tahu betul bagaimana aku berjuang dengan makanan, tapi di depan ibunya, ia sering kali terjepit dalam posisi yang sulit. "Bu, Ita kan nggak suka nangka. Kok masaknya ini lagi?" tanya Rendy pelan. Ibu langsung menoleh dengan wajah yang tampak terluka, sebuah ekspresi yang selalu berhasil membuatku merasa seperti penjahat. "Loh, Ibu kan pikir kalau dimasak begini Ita jadi suka. Ini bagus buat kulit, Ta. Ibu tuh sayang banget, makanya Ibu usahakan masak yang bergizi. Coba sedikit aja, masa nggak mau menghargai masakan mertua sendiri?" Kalimat itu selalu menjadi senjata pamungkas. Kalimat "sayang" yang digunakan sebagai tameng untuk memaksakan kehendak. Aku menarik napas panjang, mencoba menelan kekecewaanku bersama air putih yang terasa hambar. Akhirnya, aku bangkit berdiri dan meminta izin ke dapur.
Di dapur yang remang, aku membuka lemari atas. Di pojok paling belakang, tersembunyi di balik tumpukan toples, ada stok terakhir mie instan gorengku. Inilah penyelamatku, sekaligus simbol kegagalanku untuk berbaur di rumah ini. Saat aku merebus air, air mataku nyaris jatuh. Rasanya sungguh ironis; aku yang mengeluarkan uang untuk belanja, aku yang memberikan subsidi dapur, tapi aku pulalah yang berakhir makan sendirian dengan sebungkus mie instan sementara orang lain di ruang tengah menikmati pesta pora dengan uangku. Aku merasa seperti orang asing di rumah yang seharusnya menjadi tempatku pulang. Suara tawa Ibu dan Bapak dari ruang makan terdengar seperti ejekan. Mereka makan dengan lahap, memuji masakan yang katanya "dibuat khusus untuk menantuku tersayang," padahal mereka tahu aku tidak akan menyentuhnya.
Kebiasaan ini berulang terus menerus seperti lingkaran setan yang tidak berujung. Setiap kali aku mencoba menawarkan diri untuk belanja sendiri, Ibu akan memasang wajah sedih dan berkata bahwa aku tidak mempercayainya. Setiap kali aku membeli makanan luar yang bisa kumakan, ia akan berkomentar betapa borosnya aku dan betapa tidak sehatnya makanan di luar sana dibandingkan masakannya. Ia menggunakan kata "sayang" sebagai rantai yang mengikatku. "Ibu tuh pengen kamu belajar makan apa aja, Ta. Nanti kalau kamu hamil gimana?" ucapnya suatu kali saat memaksaku mencicipi tumis pare yang pahitnya membuatku langsung lari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutku. Baginya, itu adalah bentuk perhatian. Bagiku, itu adalah bentuk penyiksaan yang dibalut dengan keramahan palsu.
Suatu hari, kesabaranku mencapai titik nadir. Aku baru saja pulang lembur dan menemukan meja makan kembali dipenuhi dengan olahan seafood yang aromanya sangat amis—hal lain yang sangat aku benci. Aku melihat Rendy sedang asyik makan, dan Ibu duduk di sana sambil tersenyum lebar. "Ita, ayo makan. Ini kepitingnya segar banget, tadi Ibu bela-belain antre di pasar," katanya. Aku menatap piring-piring itu, lalu menatap dompetku yang kosong karena baru saja memberikan sisa gaji untuk keperluan rumah ini atas permintaan Ibu. Rasa lapar, lelah, dan rasa tidak dihargai meledak menjadi satu di dalam dadaku. "Ibu tahu aku alergi bau amis kepiting, kan? Aku sudah bilang berkali-kali," suaraku bergetar, bukan karena marah yang meledak-ledak, tapi karena kelelahan yang luar biasa.
Suasana meja makan mendadak hening. Ibu meletakkan sendoknya dengan suara denting yang tajam. "Kok kamu ngomongnya gitu? Ibu kan niatnya baik. Ibu sayang sama kamu, Ita. Ibu pengen kamu ngerasain makanan enak. Kamu tuh terlalu pilih-pilih, jadi orang jangan susah dikasih tahu." Aku tertawa kecil, tawa yang kering dan menyakitkan. "Sayang? Kalau Ibu sayang, Ibu nggak akan membiarkan aku makan mie instan setiap malam sementara Ibu belanja barang yang Ibu suka pakai uangku. Ibu nggak sedang memperhatikan aku, Ibu sedang memuaskan selera Ibu sendiri dengan dompetku." Kalimat itu keluar begitu saja, jujur dan tajam. Wajah Ibu memucat, sementara Rendy hanya bisa terpaku, tidak menyangka aku akan bicara sevokal itu.
Malam itu, tidak ada lagi mie instan di dapur. Aku masuk ke kamar dan mulai mengemasi beberapa barang ke dalam tas. Rendy masuk dengan wajah penuh rasa bersalah. "Ta, Ibu cuma... Ibu memang begitu orangnya. Dia ngerasa tahu yang terbaik buat kita," bisiknya. Aku menoleh padanya, menatap matanya dalam-dalam. "Ren, ada batas tipis antara sayang dan pemaksaan. Aku nggak butuh orang yang bilang sayang tapi nggak pernah mau mendengar apa yang aku butuhkan. Aku lapar, Ren. Bukan cuma lapar secara fisik, tapi aku lapar akan rasa dihargai di rumah ini." Aku menyadari bahwa selama tinggal di sini, aku telah kehilangan hak atas seleraku sendiri, atas uangku, dan atas kenyamananku demi menjaga perasaan seseorang yang bahkan tidak peduli apakah perutku kenyang atau tidak.
Keputusanku sudah bulat. Aku tidak bisa terus-menerus hidup dalam kepura-puraan di bawah bayang-bayang mertua yang dominan. Aku menyadari bahwa menjadi picky eater bukanlah sebuah dosa yang harus disembuhkan dengan paksaan, melainkan bagian dari diriku yang butuh dipahami. Keesokan harinya, aku mengajak Rendy untuk mulai mencari kontrakan kecil, tempat di mana aku bisa memasak apa pun yang aku suka tanpa takut dipandang aneh, tempat di mana meja makanku akan berisi makanan yang benar-benar bisa kutelan. Ibu mungkin tetap akan mengatakan bahwa ia "sayang" padaku, tapi sekarang aku tahu, sayang yang tulus tidak akan pernah membiarkan orang yang dicintainya merasa kelaparan di tengah kemewahan yang ia ciptakan sendiri. Aku berjalan keluar dari rumah itu dengan langkah yang lebih ringan, membayangkan aroma tumis bawang putih yang sederhana di dapurku sendiri nanti—sebuah aroma kemerdekaan yang selama ini aku rindukan.