Suara takbir bergema dari pelantang musala di ujung gang, menyelinap masuk melalui celah-celah ventilasi rumah yang pengap. Biasanya, suara itu adalah melodi kemenangan, sebuah undangan untuk bersuka cita setelah sebulan penuh menahan dahaga. Namun, bagiku, setiap ketukan beduk itu terasa seperti hantaman godam yang menghancurkan sisa-sisa ketegaran yang kupunya.
Pagi itu, di hari pertama Lebaran, aku terduduk lemas di lantai dapur yang dingin. Tidak ada aroma opor ayam yang gurih, tidak ada wangi rendang yang menusuk hidung, apalagi tumpukan ketupat yang menggantung di sudut ruangan. Rak piring di hadapanku kosong melompong. Di dalam lemari makan, hanya ada satu liter beras yang kusisihkan sejak tiga hari lalu dan sebotol kecil minyak jelantah sisa menggoreng tahu minggu lalu. Hitam, pekat, dan berbau tengik. Sama seperti nasibku hari ini.
Aku menoleh ke arah kamar. Anakku, yang baru berusia empat tahun, masih tertidur lelap dengan perut yang mungkin sudah mulai keroncongan. Di sampingnya, suamiku masih terlelap, mendengkur halus seolah-olah tidak ada beban yang menghimpit pundaknya. Ia tertidur tanpa sedikit pun bertanya, "Ibu, hari ini kita makan apa?" atau "Ibu, ada uang tidak untuk beli daging sedikit saja?" Ia menyerah pada keadaan sebelum peperangan dimulai, membiarkan aku menjadi satu-satunya jenderal yang memegang bendera putih di medan kelaparan ini.
Air mataku jatuh tanpa suara. Aku menangis, bukan karena aku takut lapar, tapi karena aku merasa gagal menjadi ibu. Bagaimana mungkin di hari raya ini, aku bahkan tidak bisa menyajikan sesuap nasi hangat dengan lauk yang layak untuk anakku? Aku merasa seperti sampah yang tersapu arus kemiskinan, terpojok dalam sunyi sementara dunia di luar sana sedang merayakan pesta.
Tiba-tiba, ponsel tua di atas meja kayu bergetar. Sebuah nama muncul di layar: Ayah. Napasku tertahan sejenak. Aku menghapus air mata dengan ujung daster yang sudah kusam, mencoba menstabilkan suara agar tidak terdengar gemetar.
"Halo, Ayah? Selamat Lebaran, Yah," ucapku berusaha terdengar ceria.
"Selamat Lebaran, Nak. Kamu sudah makan? Ayah tadi baru saja selesai salat Id. Di rumah ramai, Ibu masak banyak sekali. Kamu sudah beli daging, kan? Anakmu pasti senang makan rendang hari ini," suara Ayah terdengar begitu hangat di seberang sana.
Tenggorokanku terasa seperti disumbat batu besar. Aku melihat ke arah botol minyak jelantah itu. "Sudah, Yah. Tadi aku sudah masak daging. Anak-anak juga senang sekali. Ayah tidak usah khawatir ya, kami di sini kenyang," jawabku berbohong. Setiap kata yang keluar dari bibirku terasa seperti sembilu yang menyayat lidah. Aku baru saja membohongi orang yang paling mencintaiku di dunia ini demi menutupi luka pernikahan yang kusembunyikan rapat-rapat.
"Syukurlah kalau begitu. Jangan sampai anakmu kelaparan ya, Nak. Nanti siang Ayah tunggu kalau mau mampir."
Setelah telepon tertutup, pertahananku hancur total. Aku terisak sejadi-jadinya di pojok dapur. Kebohongan itu terasa jauh lebih berat daripada rasa lapar yang meremas perutku.
Menjelang siang, suamiku terbangun. Tanpa rasa bersalah, ia memintaku bersiap-siap untuk berkunjung ke rumah ibunya. Dengan langkah berat dan perut kosong yang melilit, aku menggendong anakku yang terbangun dengan wajah lesu. Kami pergi ke rumah mertua dengan tangan kosong. Tidak ada kaleng biskuit, tidak ada bingkisan, hanya raga yang penuh dengan kesedihan.
Begitu sampai di sana, suasana sangat kontras dengan rumah kami. Meja makan penuh dengan hidangan mewah. Aroma gulai kambing memenuhi ruangan. Namun, sambutan yang kuterima justru lebih dingin daripada es. Ibu mertuaku melihat ke arah tangan kosonku dengan tatapan menghina.
"Eh, datang juga akhirnya. Kok tumben tidak bawa apa-apa? Lihat itu kakak iparmu, dia bawa parsel besar dan daging sapi pilihan dari kota. Menantu yang tahu cara membalas budi orang tua memang beda ya," sindirnya di depan kerabat yang lain.
Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa memikirkan bahwa aku sedang menahan pusing karena belum memasukkan apa pun ke mulutku sejak kemarin malam. Suamiku? Ia hanya diam, asyik menyendok nasi ke piringnya, membiarkan istrinya menjadi bulan-bulanan hinaan ibunya sendiri. Aku hanya bisa menunduk, meremas jemariku sendiri sampai memutih. Hancur. Hatiku benar-benar hancur. Lebaran yang seharusnya menjadi ajang silaturahmi justru menjadi panggung penghakiman atas kemiskinan yang tidak aku pilih.
Aku tidak tahan lagi. Dengan alasan ingin mampir ke rumah orang tuaku, aku pamit dengan terburu-buru. Aku berjalan kaki di bawah terik matahari, menggendong anakku yang mulai rewel karena haus. Suamiku memilih tetap di sana, mungkin karena ia tahu di sana ada makanan enak yang tidak bisa ia dapatkan di rumah.
Begitu menginjakkan kaki di halaman rumah orang tuaku, pertahananku yang terakhir runtuh. Aku tidak melewati pintu depan. Aku langsung menyelinap lewat pintu dapur, tempat Ayah dan Ibu biasanya bersantai. Begitu melihat tudung saji di atas meja, aku tidak lagi memikirkan harga diri. Aku duduk di lantai dapur, mengambil piring, dan menyendok nasi serta soto buatan Ibu dengan tangan gemetar.
Aku makan sambil menangis sesenggukan. Suapan demi suapan masuk ke mulutku bersama air mata yang asin. Aku tidak peduli lagi jika wajahku berantakan. Aku hanya ingin kenyang, aku hanya ingin merasa aman.
Tiba-tiba, aku merasakan sebuah tangan hangat mengelus pundakku. Aku menoleh. Ayah dan Ibu berdiri di sana, menatapku dengan tatapan yang menghunjam jantung. Mereka tidak bertanya mengapa aku menangis, mereka tidak bertanya mengapa aku makan seperti orang yang tidak pernah melihat nasi selama setahun.
Ayah hanya diam, tapi matanya berkaca-kaca. Ibu kemudian berlutut di sampingku, mengambilkan air minum, dan memelukku erat tanpa kata. Di situlah aku menyadari, kontak batin antara anak dan orang tua tidak pernah bisa dibohongi oleh kata-kata "aku baik-baik saja". Mereka tahu aku sengsara. Mereka tahu pernikahanku adalah penjara tanpa jeruji. Mereka tahu, tapi mereka memilih untuk tidak mempertanyakan, hanya untuk menjaga sisa harga diriku yang sudah terkoyak.
Di dapur tua itu, di hari Lebaran yang seharusnya megah, aku menyadari bahwa pelukan orang tua adalah satu-satunya tempat di mana aku tidak perlu berpura-pura menjadi kuat saat duniaku sedang runtuh berkeping-keping.