Andra.
Gue seharusnya ada di depan rumah dia, sambil megang seikat bunga plus coklat, tapi gue gak tau apa yang terjadi, gue sekarang cuma bisa denger orang orang teriakin nama gue, seakan gue Andra yang bener bener artis terkenal si pencipta lagu sempurna.
Gue menyunggingkan senyum karena nyeri di kepala gue, perlahan semuanya gelap, gue cuma denger bunyi, "Tut, tuuuut, tut." Mesin operasi.
***
Dua bulan.
Gue gak sadarkan diri dua bulan, gue lupa sesuatu, gue belum ngasih coklat sama Alisa, di hari valentine kemarin, lebih tepatnya dua bulan lalu.
"Liss..." gue udah siap-siap majang senyum di depan rumah dia, tapi senyum gue langsung hilang, bunga yang tadinya ada di punggung gue buat gue sembunyikan semakin gue sembunyikan karena gue liat seseorang.
Cowok.
"..."
Gue hancur Lis, dan penyebabnya elo. Gue cuma gak sadar dua bulan dan elo udah menganggap gue mati. Gue koma, bukan mati.
Cewek itu matre. Mutlak, gue tau kok, mana mungkin ada cewek yang mau nerima cowok yang diam dan bisu di rumah sakit, sementara kebutuhan jasmani dan rohani cewek juga perlu dituruti.
Gue tau, gue udah ingkar janji sama lo. Gue pernah janji di valentine day gue bakal bawa bunga yang gede sama coklat yang super manis.
Tapi tuhan gak mengizinkan gue buat ngasih itu ke elo. Lis, sewindu lho. Lo lupain tujuh valentine kita, lo lupa sama tujuh coklat gue, cuma karena gue gak bisa ngasih satu coklat di valentine ke delapan kita.
Sekali lagi, gue benci hujan.
Gue benci disaat gue lagi kesepian, hujan justru turun lebih lebat, suaranya seakan mengutuk gue buat pergi dari dunia secepatnya. Hujan ramai sama air yang jatuh dari langit, seakan langit tau apa yang gue rasakan sekarang. Kesepian, sendirian, di tengah hujan sore.
Tuhan masih baik memberi gue satu kesempatan lagi buat hidup, Tuhan masih baik memberi tahu gue kalau selama ini cewek yang gue sayang itu gak bener-bener tulus sama gue, selama sewindu gue bareng dia.
Hampir tiap hari gue kasih alasan ke nyokap gue buat gak antarin dia ke kantor, buat apa? Buat jemput lo Lis. Tapi apa, apa balasan lo?
Gue cuma nutup mata dua bulan dan lo di butakan sama paras dan uang cowok yang barusan ada di rumah lo, senyumnya memang membawa harapan ke siapapun cewek yang di temuinya, itu gak sama dengan gue yang pengangguran dan cuma bergantung dari orang tua. Apa karena itu lo ninggalin gue?
Oke. Semoga lo bahagia. Alisa.
Gue bahkan benci buat manggil nama lo. Gue terlalu benci buat sekedar nyebut nama lo.
Nama yang gak bisa gue lupa dan paling benci gue sebut. Alisa.
***
"Terimakasih pak Andra, pengusaha muda berbakat seperti anda sangat menguntungkan kami."
Gue sama sekali gak tau harus bilang apa, intinya gue bangga dengan diri gue sendiri, keputusasaan gue akibat cinta masa muda bikin gue melupakan semuanya, gue jadi lebih fokus merawat mama gue dan juga mengurus bisnis papa gue.
Sekarang gue yang megang kendali, papa gue cuma ongkang-ongkang kaki di rumah sambil menikmati hasil kerja gue. Andra.
"Pas! Tepat sasaran!"
Gue senyum, gue liat dia, satu satunya cewek yang masih gue percaya, "Thanks, Reana. Kita berhasil juga karena dukungan lo." Gue gak bermaksud buat sombong, karena hampir semuanya di tangani sama Reana, si gadis jenius yang dari kecil udah bareng gue.
Reana yang selalu dukung gue disaat gue susah, mungkin dia bukan sekedar teman buat sekarang, dia pendamping baru gue, istri gue.
"Eh, lo itu suami gue, gak mungkin gue gak dukung lo, istri durhaka dong gue?"
Gue ketawa, cewek humoris gini kok bisa jadi istri gue, "Ya, lo istri paling baik sejagad."
"Nah kan, pokoknya apapun keputusan lo, gue always dukung deh."
"Thanks lagi." Dengan cepat gue mendaratkan bibir gue ke keningnya.
"Yoi." Reana ngasih jempol ke gue, jempol yang sama, jempol yang bikin gue bangkit.
Gue jadi ingat, waktu gue lagi masa down, dia bawa belanjaan banyak banget dan nyuruh gue jagain, gue gak peduli dan memilih buat pergi. Tapi dia menghentikan gue dan malah memohon ke gue, dia kehilangan anak kecil.
"Anak lo?"
"Bukan lah, masa ada cewek semuda gue punya anak, gak kali, ini keponakan gue."
Gak tau kenapa waktu itu gue seneng dia ternyata bukan seorang ibu yang udah punya anak perempuan kecil berusia tiga tahun.
Kita dipertemukan lagi di kantor, gue bikin satu rapat kacau, tapi Reana maju bagai wonder woman buat menyelamatkan gue dari cibiran mengenai gue yang gak tau masalah bisnis.
"Lo harus banyak belajar."
"Oke." Pertama kali gue merasa gue punya dukungan, gue punya orang yang ada di belakang gue.
Sampai akhirnya gue sendiri memutuskan buat menjalin hubungan dengan Reana, walaupun gue sendiri gak tau apa perasaan gue sama dia yang sebenarnya.
Kita bahkan kelihatan kayak sahabat, bukan suami istri.
"Ndra?!" kibasan dari tangan Reana bikin gue sadar dari lamunan, mengingat kejadian itu selalu bikin gue semangat dan bahagia.
Reana senyum, "Lo ngelamun apa sih?"
"Gak kok,"
"Hmm..."
Gue ketawa, gak tau kenapa dia bisa gemesin gini.
"Pak Andra, anda punya klien yang ingin bertemu," kata asisten gue. Gue langsung pergi ke tempat pertemuan itu, bareng Reana.
Bak petir, gue gak menyangka kalau yang ada di depan gue itu dia. Alisa.
"Oh kamu..." dengan santai gue duduk di seberang meja pertemuan. Walaupun dada gue terasa sesak di sana.
"Andra, gue mau minta maaf."
"Gue udah maafin lo kok." Berat bagi gue buat bilang ini. Tapi gue harus kuat, dia cinta pertama gue yang sekarang lagi gendong anak cewek di pangkuannya.
"..." Alisa tampak menolak buat menjawab gue.
"Gue udah bahagia Alisa, gue udah berkeluarga,"
"Oh," Alisa nunduk. Gue liat ada air mata yang lolos dari pelupuknya, "gue cerai."
Seketika gue lemah. Lemah lihat Alisa yang pernah gue cintai sekarang nangis. Nangis terisak-isak.
"Mbak kalau mau ngeluh jangan sama suami saya dong mbak, suami saya tuh udah sering mbak sakitin pas masih sama mbak. Cuma sebentar suami saya koma dan gak datangin mbak, tapi mbak justru berpaling sama lelaki lain, saya gak terima yah mbak," ujar Reana membela gue.
Dia langsung narik tangan gue dan bawa gue pergi dari hadapan Alisa yang masih nangis itu.
"Udah, lo gak boleh lemah lagi!" tukas Alisa keras ke gue.
"Lo ingat siapa dia? Dia yang ninggalin lo!"
"Reana," panggil gue, disaat dia benar-benar menhindar buat melakukan kontak fisik sama gue.
"Thanks," kata gue sekilas, tapi dia langsung nurunin tangannya yang sebelumnya terlipat di depan dada.
"Makasih udah dukung gue selama ini,"
Reana memutar bola matanya dan langsung meluk gue, "Lo bukan cowok pembuat onar, lo kuat, lo bisa semua, lo gak lemah. Poin pentingnya gue disini, bareng lo."
Disaat yang sama gue sadar. Ini perasaan gue sama dia. Gue menghargai dia gimanapun dia. For now, I don't love him yet. Maybe tomorrow, or the day after tomorrow.
Kita saling dukung antar sahabat sebagai suami-istri, sebagai teman.
Mungkin itu cukup buat hari ini.