Tak Ada yang tau, pernikahan yang terlihat bahagia, romantis tapi semua belum tentu seperti yang terlihat.
Karena pada kenyataannya yang ia alami malah berkebalikannya.
Kakakku menyimpan seribu duka maupun luka. Hal inilah yang terjadi pada kakakku Elisia Aisya, dia bersembunyi dibalik cadar yang ia pakai.
Menutupi segala luka yang lama ia pendam dari kami semua. "Kak tumben kakak, sekarang bercadar?, ada angin apa nih?." Tanyaku penasaran.
"Enggak ada apa apa kok Mia, Insya Allah mulai hari ini dan seterusnya kakak akan memakai cadar Mia, do'akan kakak ya biar bisa semakin Istiqomah dan mulai berhijrah dari sekarang." Ucap kakakku lembut, yang biasa dipanggil kak Elis ia sering menyebutku Mia karena namaku memang Emilia Fazira biasa dipanggil Mia. Lebih simple katanya.
Yasudahlah apalah arti sebuah nama, tibang nama panggilan doang kan, begitulah pikirku.
Kak Elis menikah dengan seorang pria yang lebih muda usianya tiga tahun, Bang Denis namanya. Dia seorang duda punya anak tapi pernikahannya terdahulu terjadi begitu saja tanpa ia sadari.
Entah mengapa ia pun tak tahu, ada yang bilang ia terkena sihir, wajar saja sih, karena bang Denis itu memiliki tampang yang cukup tampan.
Mana ada cewek yang mau nolak ketika melihat keramah tamahan bang Denis yang begitu lembut dan sopan pada semua orang.
Siapapun pasti akan meleleh oleh ketampanannya. Bang Denis paling anti bekerja di perusahaan karena dia pikir untuk apa menjadi kacung di perusahaan orang mending menjadi bos diusahanya sendiri.
Tapi cara pandang kami semua sekeluarga sangat berbeda, karena kami termasuk kakakku berpikir jika usaha mandiri, tentu harus memiliki modal yang tidak sedikit. Apalagi harus mengatur sedemikian mungkin antara kebutuhan rumah ataupun usaha. Dan itu bukanlah hal yang mudah.
Karena kenapa kami bisa berbeda pandangan perihal itu, karena mungkin jalan hidup yang berbeda juga.
Kehidupan keluarga kami mengalami jatuh bangun, tapi malah lebih sering jatuhnya. Untuk menjadi sukses saja sangat sulit bagi keluarga kami yang diluar kata cukup saat itu.
Hanya mengandalkan dari kak Elis dan kak Sayeeda lah kami bisa bertahan hidup. Ditengah perekonomian ayah kami yang penuh kesulitan.
Ayah kami baru saja mengalami kecelakaan besar, kakinya terlindas truk hingga sulit untuk berjalan. Sampai pada akhirnya rumah dan tanah satu satunya pun harus di jual untuk memenuhi kebutuhan kami sehari hari.
Saat ayah kami di detik detik sakaratul mautnya, Ayah kami berpesan agar Kak Elis segera menikah. Dan menitipkan kami pada Kak Elis saat itu.
Awal mula kak Elis bertemu dengan seorang pria yang menyatakan cintanya lebih dulu, Kak Yosef septiansyah nama pria itu. Namun sampai mereka menikah kak Elis belum pernah menjawab iya atau tidaknya semua mengalir saja seiring berjalannya waktu.
Melihat kebaikan mantan suaminya saat itu, membuat Kak Elis pada akhirnya luluh juga. Sampai akhirnya mereka memiliki dua buah hati.
Anand Septian dan ane Septian nama kedua anaknya. Namun dipernikahan pertama tidak berjalan mulus, hanya rentang usia lima tahun keduanya berakhir dimeja persidangan.
Tak kuat menahan luka akan perselingkuhan yang jelas jelas terjadi, ditambah lagi nafkah yang semakin hari hanya kak elislah yang bersusah payah. Sementara sang suami lebih memilih mengurus rumah.
Sempat pernah suaminya bekerja namun penghasilan yang besar malah membutakannya menjadikannya ia lupa akan istri dan kedua anaknya.
Bahkan sempat meragukan salah satu anak kak Elis, padahal sudah jelas wajahnya sangat mirip dengannya.
Dibawa pengaruh mantan tunangannya yang pada akhirnya ia memilih kembali, padahal hanya sesaat saja, sampai dimana hartanya sudah terkuras habis suami kak Elis malah ingin kembali ke sisinya.
Tentu saja kak Elis menolaknya, ia sudah sangat lelah dengan banyaknya drama, "Lis kita rujuk aja ya, Pupu enggak bisa hidup tanpa kamu dan anak anak Lis."
Pupu panggilan kak Elis pada suami pertamanya saat itu. "Maaf Elis enggak bisa, Pu, lagi pula kita sudah hidup masing masing jadi biarkan Elis menata hidup Elis sendiri, jangan ganggu hidup Elis lagi." Tegas kak Elis pada mas septian saat itu.
Selang waktu berganti, kak Elis berkenalan dengan seorang pria yang berwajah oriental jepang, ia ingin mualaf, bang Denis namanya, awal awal mereka dekat dan bersahabat namun lama kelamaan keduanya saling memiliki rasa.
Pada akhirnya keduanya meresmikan hubungan mereka, satu tahun pernikahan nampak baik baik saja, namun disaat pernikahan ke 5, 9 dan 13 tahun kak Elis mencoba terus bertahan.
Diselingkuhi, hingga hampir dipoligami kak Elis rasakan saat itu. Menjadi korban kdrt untuk kedua kalinya yang terus ia pendam seorang diri.
Namun di pernikahan yang ke dua cinta kak Elis yang begitu besar yang membuatnya begitu buta, hingga wajah dan tubuhnya penuh dengan lebam ia sengaja tutupi oleh hijab dan cadarnya.
Semua nampak baik baik saja, namun satu hal yang pasti kami sekeluarga justru melihatnya tidak sebaik itu. Ada dimana kedua netra yang memancarkan kesedihan dan luka yang mendalam. Meski mungkin sebagian orang tidak menyadari tapi kami semua sangat menyadari akan hal itu.
Berkali kali kami memastikan dan menanyakannya pada kak Elis, berkali kali juga ia menutupi aib suaminya itu.
"Kak, please bilang sama Mia, kalo kak Elis enggak baik baik saja, jangan pernah kakak menutupi suami kakak kalo dia berbuat kdrt lagi kak?."
"Kakak juga butuh bahagia, apa salahnya kakak jujur pada kami, ummah dan yang lain semua enggak bodoh kak, jawab kak,..kenapa kak Elis diam saja."
Kak Elis hanya diam dengan tatapan kosongnya sesekali ia mengusap airmata yang jatuh disudut matanya.
"Lis elo ngomong sama gue, itu si Denis kalo macam macam sama elo, gue enggak terima, elo jangan bohong Lis, keliatan loh itu ada lebam di dekat mata elo itu kenapa elo masih berusaha menutupinya Lis?." Ucap kakak laki laki yang sudah kelewat emosi saat itu.
"Sudah Cukup!, ini semua urusan Elis, Elis bisa hadapin ini sendiri, tau apa kalian sama hidup Elis."
"Ya Allah Lis istighfar, Lis,..kita semua pengen yang terbaik buat kamu, tapi kalo kamu kelewat kecintaan sama dia kamu yang rugi Lis, dia enak enakan selingkuh sementara kamu disiksa lahir batin sama dia hah, buka mata kamu Lis, ummah pengen kamu bahagia."
"Ummah, apa dengan Elis gugat cerai Elis akan bahagia ummah?."
"Anak ummah ini jangan pernah khawatir nak, masih banyak pria diluar sana yang bisa menghormati kamu layaknya istri yang terhormat dan patut dibanggakan Elis."
Kak Elis langsung memeluk ibuku saat itu dengan tangis yang tak bisa lagi terbendung.
Semua memeluk kak Elis memberikan support dan menguatkan. Dalam perjalanan hidup kak Elis yang begitu rumit, jatuh bangunnya kak Elis baik dalam bisnis l, pertemanan maupun kisah cinta dan pernikahan selalu saja tidak berjalan mulus.
Ada saja para penghianat yang mengatasnamakan rasa saudara dan lainnya hingga membuatnya memiliki hati yang keras dan tegas dalam bersikap.
Diselingkuhi berkali kali, kdrt baik verbal maupun fisik sudah ia alami, hingga dua kali ia jatuh lalu kembali ia bangkit kembali menjadi seorang Elis Aisya seorang wanita tangguh yang kini terjun menjadi seorang motivator yang tekun menyuarakan suara hati pada setiap perempuan diluar sana.
Hingga namanya melambung dan tak lama bertemu dengan seorang dosen tampan sekaligus seorang yang begitu besar dalam menyuarakan kebenaran tentang agama yang dianutnya.
Dia bernama Sultan Mohammed Altef seorang pria berkewarganegaraan Aljazair yang sudah memendam rasa cintanya pada Elis Aisya.
Dan keduanya dipertemukan disebuah majlis ta'lim bernama Nurul Aqidah. Perceraian yang baru beberapa bulan pun tak membuat Elis menjadi trauma akan menikah kembali dengan sultan, keduanya resmi menyandang status suami istri meski prosesnya begitu rumit.
Harus bolak balik ke kedutaan dan lain sebagainya, dan diantara banyaknya yang bahagia atas pernikahannya dengan sultan Aljazair hanya satu yang masih belum menerima kenyataan yaitu seorang Denis yang sampai kini masih seringkali mencari masalah baru dengan Elis di sosial media.
Namun Elis tidak mau ambil pusing kini dirinya hanya fokus bahagia dengan suami baru yang begitu meratukannya saat ini.
Fin