Sejak kejadian malam itu, ada sesuatu yang berubah dalam hidupku.
Bukan hanya di rumah, tapi juga di dalam hatiku sendiri.
Aku mencoba menepis semua pikiran buruk. Berkali-kali aku meyakinkan diri bahwa mungkin aku hanya terlalu sensitif. Mungkin aku hanya lelah. Mungkin semua yang kulihat hanyalah kebetulan.
Tapi perasaan tidak pernah benar-benar bisa dibohongi.
Hari-hari berikutnya terasa aneh.
Raka menjadi lebih sering pulang malam. Kalau dulu ia selalu memberi kabar, sekarang pesannya singkat. Kadang bahkan tidak ada kabar sama sekali.
“Aku lembur.”
Hanya dua kata itu yang sering muncul di layar ponselku.
Sementara itu, Lila... sahabatku sejak kecil... juga berubah.
Biasanya dia selalu datang ke rumah tanpa perlu janji. Tapi sekarang dia jarang sekali muncul. Kalau aku yang menghubunginya, jawabannya sering terlambat.
“Lagi sibuk.”
Jawaban itu terdengar sederhana. Tapi entah kenapa terasa begitu jauh.
Aku duduk di ruang tamu suatu sore, menatap hujan yang turun perlahan di luar jendela.
Rumah ini terasa terlalu sepi.
Padahal dulu rumah ini penuh tawa.
Tiba-tiba ponselku bergetar.
Nama Lila muncul di layar.
Aku tersenyum kecil. Entah kenapa, melihat namanya membuat hatiku sedikit lega.
“Halo, Li?” kataku begitu telepon tersambung.
“Dhe... kamu lagi di rumah?” suaranya terdengar ragu.
“Iya, kenapa?”
“Hm… nggak apa-apa sih. Cuma nanya.”
Aku tertawa kecil.
“Kamu aneh deh. Biasanya langsung datang.”
Beberapa detik hening.
Lalu dia berkata pelan,
“Dhe… Raka lagi di rumah?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam sejenak.
“Nggak. Dia lembur lagi.”
“Oh… gitu.”
Ada sesuatu dalam nada suaranya yang sulit dijelaskan.
Seperti lega.
Atau… seperti memastikan sesuatu.
Aku mengerutkan kening.
“Kamu kenapa nanya gitu?”
“Nggak apa-apa kok,” jawabnya cepat. “Aku cuma… penasaran aja.”
Kami mengobrol sebentar lagi sebelum akhirnya telepon ditutup.
Tapi setelah itu, hatiku justru terasa semakin gelisah.
Kenapa Lila menanyakan Raka?
Kenapa juga suaranya terdengar seperti orang yang sedang berhati-hati?
Aku menggelengkan kepala.
“Ah, Dhe. Kamu ini kebanyakan mikir,” gumamku pada diri sendiri.
Malam itu Raka pulang lebih larut dari biasanya.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas ketika pintu rumah akhirnya terbuka.
Aku yang masih duduk di ruang tamu langsung menoleh.
“Kamu belum tidur?” tanya Raka sambil meletakkan tasnya.
“Aku nunggu kamu.”
Dia tersenyum tipis, tapi senyum itu terasa berbeda.
Tidak hangat seperti dulu.
“Kamu capek?” tanyaku.
“Iya. Kerjaan lagi banyak.”
Aku berdiri dan berjalan mendekatinya.
“Aku buatkan teh hangat ya?”
“Nggak usah, Dhe. Aku langsung mandi aja.”
Dia berjalan melewatiku begitu saja.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada ciuman di kening seperti biasanya.
Aku hanya berdiri di sana, memandangi punggungnya yang semakin terasa jauh.
Kadang jarak tidak selalu soal langkah.
Kadang jarak bisa muncul di antara dua orang yang berdiri sangat dekat.
Beberapa hari kemudian.
Aku pergi ke sebuah kafe kecil untuk bertemu dengan teman lamaku, Sinta.
Sudah lama kami tidak bertemu.
“Dhe!” serunya begitu melihatku.
Aku tersenyum dan memeluknya.
“Kamu makin cantik aja,” katanya sambil duduk.
“Kamu juga.”
Kami mulai mengobrol tentang banyak hal.
Tentang pekerjaan.
Tentang kehidupan.
Tentang masa lalu yang kadang terasa lucu jika diingat kembali.
Sampai tiba-tiba Sinta berkata sesuatu yang membuatku terdiam.
“Eh, aku kemarin lihat suami kamu.”
Aku mengangkat alis.
“Raka?”
“Iya.”
“Di mana?”
“Di mall.”
Aku mengangguk santai.
“Oh, mungkin dia lagi ada meeting.”
Sinta ragu-ragu.
“Dia… nggak sendirian sih.”
Aku tertawa kecil.
“Ya iyalah. Masa meeting sendirian.”
Sinta menggigit bibirnya.
“Dia sama perempuan.”
Aku terdiam.
Tanganku yang memegang gelas kopi berhenti bergerak.
“Perempuan?” ulangku pelan.
“Iya…”
“Temannya kali.”
Sinta terlihat ragu.
“Mereka… kelihatannya dekat banget.”
Aku mencoba tetap tersenyum.
“Dekat gimana?”
“Mereka jalan bareng. Ketawa bareng. Bahkan…” dia berhenti.
“Bahkan apa?”
“Mereka pegangan tangan.”
Dunia seperti berhenti sejenak.
Aku menatap Sinta tanpa berkedip.
“Perempuan itu siapa?”
Sinta menghela napas.
“Kayaknya kamu kenal.”
Jantungku tiba-tiba berdetak lebih keras.
“Siapa?”
Sinta menatapku dengan ragu.
“Lila.”
Namanya jatuh seperti petir di tengah langit cerah.
Aku langsung tertawa.
Tertawa keras.
Sampai Sinta terlihat kaget.
“Dhe… kamu nggak apa-apa?”
“Tentu aja nggak apa-apa,” kataku sambil menghapus air mata yang entah kenapa muncul.
“Itu nggak mungkin.”
Sinta terlihat semakin bingung.
“Kenapa?”
“Karena Lila itu sahabatku.”
Aku tersenyum, tapi hatiku terasa seperti sedang retak perlahan.
“Dia nggak mungkin melakukan itu.”
Aku terus mengulang kalimat itu dalam hati.
Tidak mungkin.
Tidak mungkin.
Tidak mungkin.
Tapi kenapa dadaku terasa sesak?
Malam itu aku pulang dengan pikiran yang penuh.
Rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.
Raka belum pulang.
Aku duduk di kamar sambil memandangi ponselku.
Nama Lila ada di daftar kontak.
Jari-jariku gemetar saat menatapnya.
Haruskah aku bertanya?
Haruskah aku pura-pura tidak tahu?
Akhirnya aku memutuskan menelponnya.
Telepon berdering beberapa kali sebelum akhirnya diangkat.
“Halo, Dhe.”
Suaranya terdengar biasa saja.
Seolah tidak ada apa-apa di dunia ini.
“Li… kamu lagi di mana?”
“Aku di rumah.”
Aku menelan ludah.
“Kamu… hari ini ke mall?”
Beberapa detik hening.
“Enggak.”
Jawabannya datang cepat.
Terlalu cepat.
Hatiku seperti ditusuk sesuatu yang tajam.
“Oh… gitu.”
Aku tidak tahu harus berkata apa lagi.
Telepon itu akhirnya berakhir dengan percakapan singkat yang terasa sangat panjang.
Begitu telepon ditutup, air mataku jatuh.
Bukan karena aku yakin mereka berselingkuh.
Tapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupku…
Aku merasa sahabatku mungkin sedang berbohong kepadaku.
Pintu rumah tiba-tiba terbuka.
Raka pulang.
Aku segera menghapus air mata dan keluar dari kamar.
“Kamu udah makan?” tanyaku.
“Udah.”
“Di mana?”
“Di kantor.”
Aku menatapnya.
“Sendiri?”
Dia terlihat sedikit terkejut dengan pertanyaanku.
“Iya.”
Aku mengangguk pelan.
“Kenapa?”
Aku memaksakan senyum.
“Nggak apa-apa.”
Dia berjalan ke kamar tanpa berkata apa-apa lagi.
Aku berdiri di ruang tamu dengan hati yang semakin berat.
Untuk pertama kalinya…
Aku mulai takut pada sebuah kemungkinan.
Kemungkinan bahwa dua orang yang paling kupercaya di dunia ini…
mungkin sedang menyimpan sesuatu dariku.
Dan jika itu benar…
maka yang akan hancur bukan hanya pernikahanku.
Tapi juga persahabatan yang telah bertahan seumur hidup.
Aku menutup mata perlahan.
Berharap semua ini hanya mimpi buruk.
Tapi jauh di dalam hati…
aku mulai tahu satu hal.
Kebenaran itu mungkin sedang berjalan pelan menuju hidupku.
Dan ketika ia tiba…
hidupku tidak akan pernah sama lagi.