Setelah kehilangan suami di malam pertama, Nayla kembali menelan pil pahit. Paman memaksanya menikah lagi dengan lelaki asing dari kota. Antara cinta, kesedihan, dan harapan, akankah dia menemukan kebahagiaan?
Bab 03
Wanita itu cukup kebingungan di dalam kamar mandi. Bagaimana ia keluar? Hanya handuk yang menutupi sebagian anggota badannya itu. Namun, Adam mengetuk pintu kamar mandi.
Tok! Tok!
"Dek, ini bajunya. Buka dulu pintunya?" pinta Adam dari balik pintu.
"I--iya, Bang," jawab Nayla dari kamar mandi dengan terbata.
Wanita itu membuka pintu kamar mandi dengan pelan. Hanya tangan kokoh Adam yang ia lihat.
Tak menunggu waktu lama, ia keluar dari kamar mandi dengan gamis berwarna maroon yang membalut tubuhnya beserta jilbab dan niqabnya.
Manik itu menyapu ke sekeliling kamar. Lelaki halalnya sudah tak ada di kamar. Ia telah berangkat ke mesjid, saat Nayla masih di kamar mandi.
***
Di rumah yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu itu, Bibi Nayla terus mengomel. Biasanya ia hanya bersantai dari segala pekerjaan rumah. Namun, kini ia kerepotan setelah Nayla dibawa oleh Adam. Sedangkan anaknya, Arumi, ia sama sekali tak mau membantunya.
Bibi mengacak rambut pendeknya itu, melihat Mang Jaja yang tengah santai menyeruput kopinya. Suaminya itu tak jauh berbeda pemalasnya. Keluarga itu hanya mengandalkan uang milik Nayla untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Nayla bagaikan sapi perah untuk keluarga Mamangnya itu.
"Bang, ayolah kamu kerja. Kita mau makan apa, kalau kamu enggak kerja? Sekarang si Nayla udah enggak tinggal sama kita."
"Nih, ada uang tadi dari si Adam." Lelaki itu memberikan uang dari Adam saat tadi di KUA.
"Segini?"
"Sudah, dicukup-cukupin aja! Besok Abang nyari kerja dah!"
***
Tak terasa hari telah gelap. Rumah-rumah penduduk sekitarnya hanya ada lampu penerangan lima watt yang terlihat menyala di teras-teras sederhana rumah mereka.
Air wudhu telah membasahi wajah putih itu. Nayla segera melaksanakan yang tiga rakaat dan dilanjutkan dengan membaca ayat-ayat suci.
Tak terasa waktu isya telah lewat. Ternyata lelaki halalnya itu memiliki kebiasaan pulang dari mesjid setelah shalat isya.
Kreek!
Degh! Suara pintu terbuka itu mampu membuat detak jantung Nayla tak terkendali.
"Adek, sudah selesai shalat isyanya?" tanya Adam mengagetkan wanita halalnya.
"S--sudah, Bang." Berbicara pun selalu terbata. Nayla berusaha untuk mencairkan suasana.
"Abang ... silakan buka cadar Nay. Abang sekarang sudah berhak melihat wajah Adek," ucap Nayla dengan wajah menunduknya.
Adam melangkah dengan perlahan. Lalu, lelaki itu duduk di atas bed. Tepatnya di samping Nayla.
"Dek, terima kasih, Adek sudah mau menikah dengan Abang," ucap Adam dengan mata berkaca-kaca.
Nayla hanya mengangguk pelan seraya tersenyum tipis menatap lelaki halalnya dari jarak dekat. Seketika tangan kokoh itu melingkar di tubuh kurusnya. Dua titik air hangat itu jatuh di pundak Nayla. Dengan pelan lelaki itu melepaskannya seraya tersenyum manis ke arah Nayla. Namun, maniknya berembun.
Tiba-tiba---
"Adam ... hayuk, kita makan?" ajak Ummi Ida dari balik pintu kamar.
"Iya, Umm. Sebentar," jawab Adam dari dalam kamar. Adam langsung merapikan baju kokonya.
Saat pengantin baru itu tiba di meja makan, Ummi Ida langsung memberi alas yang lengkap dengan lauk pauknya.
"Terima kasih, Ummi," ucap Nayla seraya tersenyum tipis menatap perempuan yang telah melahirkan lelaki halalnya itu.
"Iya, Nak. Ini kesukaannya Adam, ayam goreng serundeng," ucap Ummi seraya memperlihatkan piring berisi daging ayam.
"Wah, beneran Ummi? Besok-besok ajarkan Nayla bikin ya, Ummi?" pinta Nayla pada ibu mertuanya itu.
"Tentu, pasti Ummi ajarkan. Nanti, Nak Nayla yang masak ini buat Adam," jawab Ummi seraya menatap wajah menantu satu-satunya itu.
"Mudah-mudahan Nak Nayla betah, tinggal di sini sama Ummi dan Abah," ucap Ummi seraya mengelus pelan kepala Nayla.
"Ini Syaa Allah, Ummi."
Mereka langsung membaca doa dan melanjutkan makan malam dengan lahap. Meskipun Nayla masih merasa malu jika berhadapan dengan orang tua Adam, tapi, ia harus berusaha untuk mencairkan suasana.
Tak berapa lama mereka selesai menikmati makan malam. Abah langsung meninggalkan meja makan. Sedangkan Adam masih nyaman duduk.
"Bang, Adek mau nyuci piring dulu. Abang duluan saja ya?" pinta Nayla setengah berbisik. Karena di dapur masih ada Ummi.
"Iya, Abang tunggu di kamar, ya?"
Deg! Lagi-lagi jantung Nayla berdegup kencang. Adam mau menunggunya? Dengan secepat kilat badan kokoh itu sudah tak terlihat seiring dengan langkah yang cepat. Nayla segera merapikan bekas makan dan mencucinya.
"Nak, enggak usah biar Ummi saja. Pengantin baru segera ke kamar, Ummi pengen cepat punya cucu," ucap Ummi mengambil alih cuci piring. Nayla merasa malu.
"Ya Rabbana ... apa maksudnya dari perkataan Ummi barusan. Ummi ingin segera memiliki cucu dari Bang Adam. Benarkah malam pertama itu malam yang selalu dinantikan oleh setiap pasangan yang sudah memiliki ikatan halal?" tanya batin Nayla.
"Sudaah, Nak. Biar Ummi saja," ucap Ummi lagi. Karena menantunya itu masih mematung di dapur.
"B--baik, Ummi."
Perlahan, Nayla melangkah ke kamar dengan perasaan yang tak bisa diartikan. Apakah syurga dunia itu akan terjadi malam ini?
Kreek!
Sepasang manik itu melihat ke sekeliling kamar. Namun, Adam tidak ada di kamar. Nayla mengira, mungkin Adam tengah berada di kamar mandi. Namun, sama sekali tidak ada suara air mengalir. Tiba-tiba Nayla tersandung.
Bruuuk!
Nayla tersentak kaget melihat tubuh kokoh lelaki halalnya yang sudah tergeletak di samping bed.
"Bang Adam?" panggilnya seraya mendekatkan wajahnya
"Bang Adam ...."
"Abaaaang!"
"Apa yang terjadi, Bang Adam?" tanya Nayla dengan suara bergetar.