Hi namaku sisi, seorang yang sudah tidak percaya lagi akan pertemanan atau hubungan palsu ataupun toksik.
**inilah kisahku.
Awan sedang mendung mendungnya, sebentar lagi pasti akan turun hujan. Ku selesaikan pekerjaan rumahku, menjemur pakaian sebelum hujan mengguyur menyirami kota ini.
Sebelumnya ku angkat pakaian yangbsudah kering, yang sudah ku cuci kemarin sore. Maklumlah ya, aku mencuci tidak menggunakan mesin seperti orang orang pada umumnya. Mesin cuci rumah kami sudah dijual ke tukang loak, alias sudah rusak.
Jadi ya mau tidak mau, aku mencucinya secara manual. Itung itung fitness hehe,..seperti biasa, acapkali aku membersihkan seluruh ruangan dari dalam dan luar hingga bersih kinclong. Ada saja suguhan yang membuatku kesal akhirnya.
Sudah nyuci capek capek, salah satu jemuranku ada yang jatuh dan terbang, ternyata setelah ku ambil malah ada kotoran binatang. Sungguh aku mual sekali saat itu.
Aku tidak mau ambil pusing ku ambil kantong kresek, ku bungkus lalu ku buang menghempaskan dari pandanganku. Masa bodoh nanti salah satu keluargaku adanya mengomel mencari celananya.
"Haish, kenapa sih, tuh kucing pup sembarangan."
Aku bukan tidak suka binatang, tapi memang aku paling tidak suka jika mereka buang kotoran disembarang tempat.
Karena aku sendiri, pernah memelihara seekor kelinci semua sudah ada tempat yang ku sediakan. Pagi itu aku mau pergi bertemu teman temanku, kami janjian untuk reuni disebuah kafe.
Semua sudahku pesan dan sudah ku bayar sesuai dengan jumlah para tamu yang sudah ku undang untuk reuni.
Satu jam
Dua jam
Jam terus bergerak, dan tak satupun ada yang hadir saat itu. Aku terus meneguk segelas air putih seorang diri. Ditemani teman dunia mayaku. Dan ku ceritakan semua yang ku alami padanya.
Benar benar dunia nyata tak seindah dunia Maya begitulah pikirku. Sejak saat itu aku sudah banyak mundur teratur dari pergaulan yang tidak ada faedahnya sama sekali.
Hari hariku, hanya ku sibukkan dengan berkarya, dan mengikuti banyaknya aktivitas di komunitas online.
Mengikuti beragam seminar yang membuatku semakin berkembang, aku lebih happy memiliki banyak teman di dunia Maya, yang begitu kompak dan solid.
Memiliki adik dan kakak online yang begitu peduli padaku, jam makan ataupun tidur mereka semua tak lupa menyapaku.
Terkadang aku berpikir, beginikah kehidupan dunia nyata yang membuatku miris. Dimana banyaknya orang orang toksik berseliweran.
Selepas seharian di kafe yang ku sewa, pada akhirnya aku dan para oegawaykafe berinisiatif untuk membagikannya ke panti asuhan terdekat.
Aku merasa bahagia saat bersama mereka, berbagi rezeki walau tidak seberapa. Dan Alhamdulillah tidak ada kata mubazir dalam hidupku. Mereka tidak datang tidak masalah. Membuktikan jika mereka tidak cukup baik untuk ku pertahankan dalam pertemanan.
Tak lama dering telpon berbunyi.
Kriiing,...
"Iya hallo"
"Si, sorry ya aku enggak bisa datang, kebetulan keluargaku juga ada acara."
"Oh iya enggak apa apa, santai saja."
Dan ribuan notifikasi pesan masuk meminta maaf dengan berbagai alasan. Dan malamnya aku merebahkan diri dikasur sederhana, merelaksasikan tubuhku dari hari yang penat untukku saat itu.
Menatap langit langit atap rumah bercat merah jambu. Merenungi nasibku saat ini. Yang sudah banyak keluar uang yang tidak sedikit jumlahnya, namun aku bersyukur dibalik itu semua aku jadi bisa berbagi pada mereka yang membutuhkan uluran tanganku saat itu.
Namun berusaha tak ingin berpikiran negatif pada teman temanku, tak lama notifikasi muncul dari beranda akun sosial mediaku. Dimana foto foto teman temanku yang ternyata sedang bersenang-senang di sebuah villa tersebar begitu saja.
Di hari yang sama, secara kompak semua menghianatiku. Tidak apa pikirku. Tuhan sudah menunjukkan mana teman mana sahabat yang baik untukku.
Sekarang, saatnya aku fokus pada diriku sendiri. Ku ganti nomor ponselku saat itu. Tanpa menghilangkan jejakku sama sekali. Sudah cukup tau mereka seperti apa. Sudah malas sekali aku ikut perkumpulan dengan mereka.
Hingga tak terasa di usiaku menginjak 23 tahun saat itu aku memutuskan menikah dengan teman dunia mayaku. Kami bertemu secara tidak sengaja.
Dan dia yang sudah membuatku menemukan sosok yang menurut ku saat itu paket komplit.
Dia tidak tampan tapi bisa membuatku tertawa, menghilangkan rasa sedihku saat aku baru saja kehilangan ayahku.
Namun seiring waktu berlalu. Yang ku pikir dia bisa ku percaya, malah berkebalikannya. Dia juga yang membuat luka ku semakin dalam. Dan sulit ku memaafkannya sampai sekarang.
"Bang Bagas, ini maksudnya apa?." Tanyaku pada suamiku, saat aku menemukan bukti transfer sebesar 15 juta untuk seorang wanita yang tak ku kenali sebelumnya.
"Kamu kok lancang sih jadi istri kepo banget." Jawabnya ketus.
"Loh wajar dong bang, aku kan istrimu, kamu kan sering bilang belum dapet uang tapi nyatanya kamu bisa transfer lima belas juta ke cewek lain."
"Sudahlah enggak usah kamu ikut campur urusanku, mau aku transfer ke siapapun itu uangku. Makanya cari uang dong sana, jadi istri enggak berguna, bisanya nyusahin suami saja."
Bak tersambar petir perkataanya padaku saat itu. Aku hanya diam menunduk seorlag tertampar oleh kenyataan dimana duniaku hancur luruh ditangan pria yang salah ku pilih.
Awal mula ku kira baik, bertahun tahun ku habiskan waktu dengannya, tanpa memandang dia kaya ataupun tidak. tapi nyatanya kesabaran ku menerima apa adanya dirinya tidak pernah dia anggap sama sekali.
Setiap hari aku hanya dianggap sebagai pajangan, tak pernah ada komunikasi semenjak pernikahan ku sudah menginjak lima tahun.
Dan sampai sekarang aku masih belum dikaruniai buah hati. Terpikir olehku, apakah dia berubah karena aku masih belum bisa memberikannya keturunan ataukah memang dia setengah hati menikahiku.
Kembali ku sibukkan dengan aktivitas lamaku, bergerilya di ponsel ikut beragam komunitas yang sudah lama aku abaikan.
Kembali ku disibukkan dengan belajar dan belajar mengalihkan rasa kesepianku. Meskipun tak jarang aku memeluk diriku sendiri dalam kesendirian.
Ku putuskan untuk meminta cerai, tapi suamiku ingin aku masih bertahan dengannya. Kembali sok baik tapi setelah ku maafkan kembali ke sikap dia yang awal.
Lelah, sudah pasti,..sampai akhirnya ku beranikan diri, rasa lelahku yang sudah di penghujung batas sabar, yang membuatku menjadikanku membuat keputusan bodoh.
Seharian suamiku tak pulang kerumah, namun setelah ia kembali pulang berakhir dengan penyesalan yang tak pernah bisa ia bayar dengan apapun.
Saat bang Bagas mencari ku di setiap sudut ruangan ia sampai mendobrak kamar mandi, karena air keran yang masih menyala terus menerus, hingga menggenangi seluruh lantai sampai keluar kamar.
Dan disitulah akhir dari kisahku dengan bang Bagas,.
"Si,..bangun si, maafkan Abang si" Ucap bang Bagas yang tak bisa lagi menahan tangisnya penuh penyesalan.
Ia menemukanku terbujur kaku, tenggelam di sebuah kolam bathub kamar mandi. Dan menemukan banyaknya pil yang dapat membahayakan nyawaku.
"Sisiii." Teriak Bagas histeris saat menemukan secarik kertas berisikan.
"Dear suamiku, terimakasih selama ini sudah membuatku kuat, meski kuatku sabarku sudah habis ditelan waktu. Maafkan aku jika aku belum bisa menjadi istri yang berguna untukmu, dan belum bisa menjadi yang sempurna, semoga kamu bisa bahagia tanpa aku, salam sayang sisi."
Tamat