Kotak susu coklat itu mendarat di tengah meja perpustakaan dengan bunyi duk yang cukup keras untuk menarik perhatian, tapi tidak cukup keras untuk dimarahi penjaga. Cairan di dalamnya berguncang, sama seperti emosi Alana yang sejak pagi belum juga stabil.
Dia memilih meja di pojok ruangan,wilayah favoritnya. Rak buku tinggi menutupi pandangan dari arah lorong utama, dan pengawas jarang berjalan sampai ke sini. Alana datang sepuluh menit lebih awal hanya untuk memastikan tempat itu aman.
Tidak ada gangguan.
Setidaknya sampai Gavin datang.
Cowok itu muncul tanpa suara. Yang lebih dulu terasa justru aroma mint yang tajam, seperti udara dingin yang tiba-tiba menyusup ke dalam ruang sempit.
Kursi di depan Alana ditarik perlahan.
Derit kayunya terdengar jelas di tengah sunyinya perpustakaan.
Alana tidak mendongak.
Dia pura-pura sibuk meremas sisi kotak susu di tangannya, seolah kehadiran Gavin tidak berarti apa-apa.
Di hadapannya, Gavin meletakkan buku kalkulus setebal bantal dengan santai. Buku itu jatuh ke meja dengan bunyi berat, seperti ancaman yang tidak perlu diucapkan.
"Susu coklatnya masih utuh."
Suara Gavin rendah, hampir seperti bisikan.
Laptopnya terbuka, cahaya layar memantul di matanya yang terlihat terlalu tenang untuk seseorang yang akan menghadapi simulasi olimpiade matematika.
"Minum dulu," lanjutnya datar.
"Daripada otak lo macet di soal pertama."
Alana mendesis pelan.
Kalimat itu terdengar seperti ejekan yang dibungkus perhatian.
"Fokus aja sama soal lo sendiri," balasnya ketus.
Dia menarik lembar soal simulasi dan langsung menatap deretan angka yang memenuhi halaman pertama.
Matanya menyipit.
Beberapa detik kemudian, dadanya mulai terasa tidak nyaman.
Soalnya lebih sulit dari yang dia bayangkan.
Alana menusukkan sedotan ke kotak susu dengan sekali sentakan keras.
Sepuluh menit berlalu.
Tidak ada suara selain gesekan pulpen di kertas dan detak jarum jam dinding yang terasa makin keras setiap detiknya.
Alana mulai pusing.
Angka-angka di depannya seperti bergerak, menari-nari dengan cara yang menyebalkan.
Tanpa sadar dia melirik ke arah Gavin.Cowok itu terlihat terlalu santai. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard laptop, sesekali berhenti untuk menulis sesuatu di kertas.
Tidak ada tanda panik.
Tidak ada keraguan.
Alana menggertakkan gigi.
Tidak adil.
"Nomor empat pakai rumus limit," kata Gavin tiba-tiba.
Dia bahkan tidak menoleh.
"Bukan substitusi langsung."
Pulpen Alana berhenti di tengah garis.
Dia menatap kertasnya, lalu menatap Gavin dengan tatapan tajam.
Cowok itu masih fokus ke layar laptopnya.Seolah komentar tadi hanya fakta sederhana.
Alana sengaja menjatuhkan pulpennya ke lantai.
Bunyi kecil itu memecah keheningan.
Gavin berhenti mengetik dan mencondongkan tubuh ke bawah meja untuk mengambil pulpen itu sebelum Alana sempat bergerak.
Tangan mereka hampir bersentuhan.
Alana langsung menarik jemarinya seperti tersengat.
Gavin meletakkan pulpen itu kembali ke meja, tepat di sisi Alana.
"Lo nggak perlu ngerasa terancam cuma karena gue lebih cepat."
Kalimat itu keluar dengan nada yang terlalu tenang.
"Gue nggak terancam," desis Alana tajam.
"Gue cuma nggak suka lo sok tahu."
Dia mengambil paksa pulpennya dan kembali menatap soal.
Rumus limit.
Alana menulis ulang langkah perhitungannya.Perlahan, otaknya mulai menemukan pola yang benar.
Namun rasa kesalnya belum juga hilang.Dia tidak akan kalah.
Apalagi di depan Gavin.
Kotak susu coklat di tangannya kosong dalam tiga tegukan besar.Sore semakin larut.AC perpustakaan menyala lebih dingin dari sebelumnya, membuat ruangan terasa seperti kotak es yang sunyi.
Alana sampai di soal nomor lima belas,bagian paling sulit dari simulasi itu.
Dia mencoret jawaban sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tetap salah.
Ada sesuatu yang hilang dari persamaannya.Tapi gengsinya terlalu tinggi untuk bertanya.
Tiba-tiba Gavin menutup laptopnya.
Plak.
Suara itu cukup keras untuk membuat Alana mendongak.Cowok itu menggeser selembar kertas coretan ke arah Alana tanpa berkata apa-apa.
Tulisan tangan Gavin rapi, hampir terlalu rapi.Di sana ada langkah penyelesaian soal nomor lima belas.
Pendek.
Efisien.
Dan benar.
Alana menatap kertas itu lama.
Lalu meremasnya.Kertas itu berubah menjadi bola kecil.
"Gue bilang gue bisa sendiri."
Bola kertas itu dilempar ke arah Gavin.Cowok itu menangkapnya dengan mudah.
Ekspresinya tetap datar.
"Ego lo bakal bikin kita berdua gagal, Alana," katanya tenang.
"Sekolah butuh medali emas. Bukan drama siapa yang paling pintar."
Gavin berdiri.
Tasnya disampirkan ke bahu.
Seolah sesi latihan hari ini memang sudah selesai.
Dia menatap Alana sebentar.
Tatapan itu sulit ditebak.
"Besok di tempat yang sama," katanya.
Lalu menambahkan dengan nada santai,
"Jangan lupa bawa otak lo yang lebih tenang."
Gavin pergi begitu saja.
Aroma mintnya perlahan memudar di udara.
Beberapa detik kemudian,
Alana menjatuhkan kepalanya ke atas meja.
Duk.
Dia mengerang pelan.
Sangat menyebalkan.
Sangat menjengkelkan.
Dan yang paling buruk…
Gavin benar.
Perlahan Alana membuka bola kertas yang tadi dia remas.Langkah perhitungannya masih jelas.
Logis.
Efisien.
Jauh lebih baik dari caranya sendiri.
Alana mendesah kesal.Lampu di sudut perpustakaan mulai berkedip, tanda tempat itu akan segera tutup.
Dia merapikan buku-bukunya dengan gerakan kasar dan memasukkan semuanya ke dalam tas.
Udara di ruangan itu terasa semakin menyesakkan.Di koridor luar, dia melihat punggung Gavin dari kejauhan.
Cowok itu berjalan santai menuju parkiran.Alana mempercepat langkahnya agar tidak perlu berpapasan.
Satu hal yang dipelajari sore ini,Gavin bukan cuma jago angka.Cowok itu juga ahli memancing emosinya.
Alana berhenti di samping motornya dan menarik napas panjang.
Besok mereka akan bertemu lagi.
Dan kali ini…
Dia tidak akan kalah.