Pyongyang, Korea Utara
Di bawah lampu sorot Teater Besar kota, Loya berdiri sebagai permata bangsa. Ia adalah penyanyi solo paling dipuja, namun suaranya hari ini terdengar getir. Mengenakan hanbok modern, ia menyanyikan lagu tentang kerinduan, sementara di barisan depan, para pejabat tinggi bertepuk tangan kaku.
Di balik tirai panggung, Krem, seorang penulis lagu jenius yang dipindahkan paksa dari luar negeri karena bakatnya, menatap Loya dengan tatapan kosong. Krem-lah yang menciptakan setiap nada yang dinyanyikan Loya—melodi yang indah namun terasa seperti penjara.
"Loya, you sang like a broken bird today," bisik Krem dalam aksen English-nya yang halus saat Loya turun panggung. "Gwaenchana? (Kamu tidak apa-apa?)"
Loya hanya menunduk, memeluk bingkai foto kecil yang ia sembunyikan di balik gaunnya—foto ibunya yang dikabarkan 'hilang' di kamp kerja paksa. "Aku hanya lelah, Krem. I feel like every note I sing is a lie."
[Sahabat atau Srigala?]
Masuklah Honne, teman lama Loya yang juga bekerja di departemen propaganda. Honne selalu terlihat ceria, sering membawakan Loya cokelat selundupan dari perbatasan Malaysia.
"Aiyo, Loya! Janganlah sedih sangat," kata Honne dengan aksen Melayu-nya yang kental. "Aku sudah aturkan semuanya. We will get you out of here. Sikit lagi, sabar ya?"
Namun, di balik senyum lebar Honne, ada "udang di balik batu". Honne sebenarnya adalah informan tingkat tinggi. Ia tidak berniat menyelamatkan Loya; ia hanya memancing Loya untuk membuat kesalahan besar sehingga ia bisa naik jabatan dengan cara menjatuhkan sang diva.
[Pengkhianatan di Balik Notasi]
Malam itu, di sebuah studio pengap, Krem memberikan sebuah partitur baru kepada Loya. "Ini lagu terakhir kita, Loya. A song for freedom. Jika kau menyanyikannya di festival besok, dunia akan tahu penderitaanmu."
Honne, yang menguping dari balik pintu, tersenyum licik. Ia segera melaporkan rencana 'pembangkangan' itu kepada atasan. Namun, yang tidak diketahui Honne adalah Krem telah mencurigainya sejak awal.
Keesokan harinya, panggung telah siap. Loya berdiri dengan air mata yang mulai mengalir——memeluk foto ibunya dengan erat sebelum naik ke podium. Ia tahu ini mungkin lagu terakhirnya.
[Akhir yang Memilukan]
Saat musik dimulai, Loya tidak menyanyikan lagu pemberontakan yang diberikan Krem. Ia justru menyanyikan lagu pujian untuk rezim, namun dengan lirik yang disisipkan kode rahasia yang hanya dimengerti oleh intelijen luar negeri.
Honne bingung. Rencananya gagal. Saat ia mencoba memberikan isyarat pada penjaga, Krem menarik tangan Honne. "Neo... nappeun saram-iya (Kamu orang jahat)," bisik Krem dingin. "You thought you could sell her life for a promotion?"
Ternyata, "udang di balik batu" itu bukan hanya milik Honne. Krem telah memalsukan dokumen yang menyatakan bahwa Honne-lah yang menghasut Loya untuk membelot. Di Korea Utara, tuduhan tanpa bukti sudah cukup untuk melenyapkan seseorang.
[Duka yang Abadi]
Suara tembakan terdengar di kejauhan saat konser berakhir. Honne dibawa paksa ke kegelapan, teriakannya dalam bahasa Melayu minta ampun tidak dipedulikan.
Loya duduk di ruang tunggu yang dingin, masih memeluk bingkai fotonya. Krem masuk, wajahnya pucat.
"Honne is gone," kata Krem datar.
"And my mother?" tanya Loya lirih.
Krem menggeleng. "She never existed in their records, Loya. Mianhae (Maafkan aku)."
Loya menangis sejadi-jadinya . Di dunia hiburan yang penuh tipu daya ini, ia kehilangan sahabat yang mengkhianatinya, dan ia tetap terjebak dalam sangkar emasnya, bernyanyi untuk orang-orang yang telah membunuh jiwanya.
"The show must go on, right?" bisik Loya dengan tawa pahit yang memecah kesunyian malam di Pyongyang.