Seoul, Korea Selatan
Tidak pernah tidur, begitu juga dengan Vaa, seorang konten kreator sukses yang dikenal karena vlog gaya hidup mewahnya. Di balik layar, suaminya, Feng, adalah seorang fotografer studio ternama yang karyanya selalu menghiasi sampul majalah fashion. Kehidupan mereka tampak sempurna bagi jutaan pengikut Vaa di Instagram.
"Aiyo, Vaa! You look so pale lah. Senyum sikit, kita nak live ni," tegur Yatu, sahabat karib Vaa asal Malaysia yang kini menjadi manajernya di Seoul. Yatu selalu ada di sana, mengatur jadwal, memegang kamera, dan... menyembunyikan rahasia besar.
Feng masuk ke studio dengan langkah gontai. "Vaa, the lighting today is weird. Just focus on your pose, okay? Arraseo? (Paham?)" ucapnya dengan aksen Korea yang kental bercampur bahasa Inggris. Vaa hanya mengangguk lemas.
Sejak seminggu lalu, ia merasa ada sesuatu yang mengikuti di sudut matanya—bayangan hitam yang selalu muncul setiap kali Feng mengambil fotonya.
[Tipu Daya dan Pengkhianatan]
Malam itu, di sebuah apartemen mewah di daerah Cheongdam-dong, Vaa menemukan sesuatu yang menghancurkan dunianya. Di dalam kamera cadangan milik Feng, tersimpan foto-foto intim antara suaminya dan Yatu. Namun, ada yang aneh. Dalam setiap foto mereka, wajah Yatu tampak membusuk, dan tangan Feng terlihat seperti cakar hitam yang mencekik leher Yatu.
"Vaa, what are you doing?" suara Yatu terdengar dingin dari belakang.
Vaa berbalik, air mata mengalir. "How could you, Yatu? Korang berdua khianati aku? (Kalian berdua mengkhianatiku?)"
Yatu tertawa kecil, namun suaranya terdengar seperti dua orang yang berbicara sekaligus. "Vaa, don't be so dramatic. Feng tak pernah cintakan kau. Dia cuma perlukan... jiwa kau untuk 'karya' dia."
Feng muncul dari balik kegelapan. Wajahnya tidak lagi tampan. Matanya hitam pekat. "Series baru kamu, Vaa... 'The Final Vlog'. Itu akan jadi konten paling viral. Jeongmal kkeut-iya (Ini benar-benar akhirnya)."
[Di Rumah Sakit Tua]
Ternyata, Feng dan Yatu telah melakukan ritual gelap untuk menukar keberuntungan Vaa dengan keabadian mereka. Vaa dijebak dan dibawa ke sebuah bekas rumah sakit di pinggiran Seoul. Lokasi ini di sebuah ruangan dengan ranjang besi, dinding kayu tua, dan suasana yang mencekam.
Vaa terbaring lemah di ranjang, mencoba makan bubur yang diberikan Yatu.
"Makan, Vaa. Eat up. You need strength for the ritual," ucap Yatu pura-pura peduli sambil mengelus dahi Vaa—sebuah gerakan penuh kepalsuan yang menyembunyikan niat busuk.
Tiba-tiba, lampu di ruangan itu berkedip. Suara tangisan wanita terdengar dari lorong rumah sakit yang kosong. Feng, yang sedang menyiapkan kamera studionya untuk merekam 'saat-saat terakhir' Vaa, tiba-tiba mematung.
Melalui jendela bidik kameranya, ia tidak melihat Vaa, melainkan sesosok mahluk mengerikan dengan rambut panjang yang merayap di atas tubuh Vaa.
[Pembalasan dari Alam Lain]
"Feng! What's wrong? Why you stop?" tanya Yatu gelisah.
"Yatu... look at the screen...," bisik Feng gemetar.
Di layar monitor, mahluk itu menoleh ke arah kamera. Wajahnya mirip dengan Vaa, tapi tanpa mata. Mahluk itu adalah manifestasi dari semua rasa sakit dan pengkhianatan yang dialami Vaa.
Ternyata, selama ini Vaa tanpa sadar telah 'memberi makan' mahluk itu dengan penderitaannya.
"Vaa... jebal... (tolong...)," rintih Feng saat tangan hitam mulai keluar dari lensa kameranya, mencengkeram lehernya.
Yatu mencoba lari ke pintu, tapi pintu itu menghilang, digantikan oleh dinding bata yang dingin. "No! Tolong! Aku minta maaf, Vaa!" teriak Yatu dalam bahasa Melayu yang kental.
Vaa bangkit dari ranjang, matanya kini putih bersih. Ia menatap kedua pengkhianat itu dengan dingin. "Inilah konten terakhirku," ucapnya dalam aksen English yang sempurna. "Dan kalian adalah bintang utamanya."
Kamera terus merekam. Bukan kemewahan, melainkan jeritan yang bergema di seluruh gedung tua itu hingga fajar menyingsing. Keesokan harinya, kanal YouTube Vaa mengunggah video berjudul "The Truth".
Isinya bukan vlog, melainkan rekaman diam sebuah ruangan kosong dengan noda darah di lensa kamera.