Di sebuah dimensi berdirilah sebuah gedung sekolah - kampus. Di sekolah itu ada kepala sekolah bukan tua tapi muda, awalnya kepala sekolah itu hanya anak biasa sampai ayahnya menyuruhnya untuk mengambil ahli menjadi pemilik sekolah sekaligus kepala sekolah di sana. Namanya adalah Nathan. ia tampan, tinggi, berwibawa, dingin, putih, berambut hitam, dan mata zamrud. Dan ada juga gadis yang sangat nakal di sana bernama Hima, ia cantik, sedikit pendek, bandel, suka berantem dan... Yatim piatu. Hima sangat terkenal di sekolahnya dengan sikapnya yang sangat nakal ia juga puluhan kali di panggil oleh kepala sekolah tapi Hima tetap tidak berubah atas sikap nya
Di suatu hari Hima berulah dengan kasus ia memukuli kakak kelas nya dan tentu saja Hima di panggil untuk menghadap pada kepala sekolah
♪ saat diruangan kepala sekolah ♪
Hima masuk dengan angkuh ke dalam ruangan
Hima: wah! Lihat ini, aku datang lagi...
Hima duduk di kursi dengan kaki di atas meja
Nathan: jaga sopan santun mu Hima...
Dengan nada datar dan tak peduli
Hima: intinya saja langsung
Memakan permen lolipop nya, Nathan bangkit dari kursinya dan mendekat ke arah Hima
Nathan: sudah berulang kali saya peringatkan, jangan berantem dengan teman mu. Ini sudah yang ke 16-nya kau berulah di kampus. Menghela nafas aku peringatkan sekali lagi Hima...
Hima: berisik ahhh... Dasar tua bangka
Dengan mengejek
Nathan: apa katamu? 'tua bangka'? Kau benar-benar... Kau dihukum bersihkan kamar mandi satu minggu, tidak ada penolakan.
Hima: apa-apaan! Nggak mau enak aja! Bangkit dari kursi dengan kesal sebelum akhirnya pergi. Nathan hanya tersenyum tipis melihat punggung Hima yang sudah pergi
Nathan: ya... Terserah kamu saja.. sampai jumpa besok, Hima~
Keesokan harinya, Hima mengacau lagi kali ini dengan mendirikan spanduk bertuliskan 'kepala sekolah si tua bangka' Nathan yang melihat dari jendela hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku Hima tapi ia langsung bertindak dan menghampiri Hima di depan sekolah. Kedatangan Nathan membuat siswa penasaran terutama para siswa perempuan.
Siswa I: bukan kah itu kepala sekolah kita!? Benar-benar sangat tampan!
Siswa II: kau benar! Pak Nathan benar-benar tampan. Tapi kenapa kepala sekolah disini? Apa Hima berulah sampai-sampai membuat kepala sekolah kita turun tangan?
Dengan penasaran
Nathan mendekati Hima dengan tenang, Hima masih terlihat angkuh
Hima: Yo! Bukankah ini 'si tua bangka' itu~ tertawa kecil
Nathan masih bersikap santai dan tenang
Nathan: tidak tidak, cantik~ sekarang sudah puas dengan mengejek ku hm?
Hima: huh? Apaan?
Tanpa aba-aba Nathan langsung menggendong Hima ke pundaknya dengan mudah tak peduli dengan protes Hima
Hima: turunkan aku dasar sialan! Beraninya kau melakukan ini padaku!
Nathan: ssst diamlah, cantik. Jika kau terus memberontak aku akan menciummu~
Hima langsung diam seketika. Saat sampai di ruangan Nathan - ruangan kepala sekolah, Nathan menaruh Hima perlahan di kursinya lalu menjebak Hima dengan tangan di meja agar Hima tidak bisa pergi.
Nathan: nah... Sekarang. Kau mau aku hukum bagaimana atas tindakan mu huh? Memegang dagu Hima agar menatap nya. Katakan sebelum aku yang bertindak~
Hima: apa-apaan! Kau! Hmph!
Nathan: baiklah kalau begitu... Kau membersihkan semua lorong sekolah sampai benar-benar bersih, bagaimana?
Hima: ogah gua! Enak aja. Walau kau kepala sekolah di kampus ini aku tidak takut padamu, hmph!
Kesal dan akhirnya pergi. Nathan hanya melihat punggung Hima yang mulai menghilang dan tersenyum
Nathan: kamu sangat menarik sayang~
♪keesoksn harinya♪
Hari dimana Hima tidak ada kelas dan hanya waktu bersantai, Hima berada di rumah menikmati waktu liburnya dengan menonton TV henpon dan makan cemilan dengan sesuka hati. Sementara Nathan berada di kampus mengurus dokumen-dokumen yang menumpuk setiap harinya dan tentu saja merindukan Hima juga, jadi... Nathan memutuskan untuk datang ke rumah Hima. Sebelum itu ia memanggil seorang guru, setibanya guru itu
Guru: ada apa ya.. tuan Nathan? Dengan penasaran
Nathan: apa kau tahu dimana rumah siswa bernama Hima? Kau kan wali kelasnya
Guru itu kaget dengan pertanyaan Nathan
Guru: tuan Nathan! Jangan marahi Hima, dia kemarin hanya bercanda! Kumohon tuan Nathan jangan hukum anak itu... Memohon
Nathan: kau ini kenapa? Aku pengen kerumah Hima saja, sejak kapan aku marah padanya..
Guru itu berhenti memohon
Guru: oh.. saya mengerti, saya... Akan mengirim alamatnya pada anda
Nathan: sudah, pergilah... Guru itu mengangguk dan pergi
♪di rumah Hima♪
Suara bel di rumah Hima terdengar membuat Hima yang tertidur di ruang tamu terbangun. Dengan kondisi yang masih setengah sadar Hima membuka pintu. Saat Hima membuka pintu ternyata itu adalah Nathan, Hima yang masih setengah sadar sedikit linglung dan bilang 'siapa?'. Nathan melihat Hima yang masih mengantuk itu sedikit menahan tawa lalu berubah menjadi senyum misterius saat malihat baju Hima yang oversize terlihat miring membuat pundak Hima terlihat
Nathan: kamu terlihat cantik kalau begini sayang~
Hima: huh? Tidak mendengarkan karena terlalu mengantuk
Nathan: tertawa kecil. Tidak apa... Kau bisa tidur lagi, tapi bersama ku~
Menggendong Hima masuk, Nathan membawa Hima ke ruang tamu ia duduk dengan Hima di pangkuannya membiarkan Hima bersandar di dadanya
Nathan: tidurlah lah sayang~ aku akan disini Hima pun kembali tertidur. Nathan membenamkan wajahnya di leher Hima
Nathan: kamu wangi... [Memeluk Hima lebih erat, menghirup aroma tubuh Hima] andai kamu bangun... Aku pasti sudah mencium mu~ membenamkan diri semakin dalam di leher Hima
Hima: hmmm.. apaan dah... Mulai terbangun. Saat Hima terbangun dan melihat Nathan ia langsung melompat menjauh dari Natan karena kaget.
Hama: ka-kau! Kau ngapain disini!? Dan bagaimana kau bisa masuk!?
Nathan: kamu yang menyuruhku masuk kok~
Hima: huh! sejak kapan aku bilang!? Aku nggak tahu
Nathan: *terkikik* mungkin kamu nggak menyadarinya... Karena kamu mengantuk
Hima menjadi kesal dan menjadi tantrum
Hima: kau!! Pergi dari rumah ku! Dasar tua bangka!
Nathan: ayolah Hima... Aku nih kangen sama kamu... Kenapa sih kamu harus nggak ada kelas...
Hima: ya.. itu bukan urusanku lah bodoh~ pergi sana, jangan ganggu ketenangan ku.
Nathan: ayolah Hima... Masuklah ke kampus setiap hari...
Hima: nggak
Nathan: kalau kamu mau ke kampus dan di ruangan ku, aku akan membelikanmu bebek panggang, sup daging, kue, dan ada lagi nanti~ bagaimana–
Hima: setuju! Aku langsung setuju!
Nathan tersenyum puas dan membawa Hima keluar dari rumah dan membawa Hima ke mobilnya.
♪ sesampainya di kampus ♪
Nathan membawa Hima ke ruangan nya, di sana Hima langsung duduk di sofa sementara Nathan kembali mengerjakan dokumen di mejanya
Nathan: tunggu aku sampai selesai...
Hima: hmm...
♪ beberapa menit kemudian ♪
Hima: kapan selesainya... Aku bosan tahu.. katamu aku dapat makanan yang enak... Mana? Mana bebek panggang ku, sup daging ku, dan kue ku...? Menjadi murung
Nathan: sabar ya sayang~ bentar lagi juga sele–
Sebelum Nathan menyelesaikan kalimatnya Hima langsung melempar bantal ke wajah Nathan dengan kesal
Hima:nggak usah manggil sayang b*ngsat!
Nathan: hi...ma... Dengan tegas
Hima: apa lagi!
Nathan bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah Hima dengan langkah mantap
Hima: apa lagi sekarang huh..?
Nathan menarik pinggang Hima untuk mendekat.
Hima: lepasin!
Nathan: [menarik pinggang Hima lebih dekat agar Hima tidak bisa bergerak] jangan melawan...
Hima: anjrit lah...
Nathan tertawa pelan lalu, membawa Hima ke mejanya membawa Hima duduk di pangkuan nya
Nathan: kalau begitu duduk di sini saja, tunggu aku. Kamu tidurlah kalau mau... [Kembali fokus pada komputer dokumennya, sesekali melirik Hima dan mengusap kepala Hima]
Beberapa menit kemudian Hima tertidur karena terlalu bosan untuk untuk menunggu Nathan selesai. Tak lama ada dua guru yang masuk, saat guru itu masuk ia terkejut karena melihat Hima yang tertidur di pangkuan Nathan dan Nathan tidak marah sama sekali.
Guru: tu-tuan... Dia...
Nathan: [melirik guru sekilas sebelum kembali pada komputernya] kenapa..? Jika tidak ada yang penting lebih baik pergilah
Guru: bukan bukan! Saya hanya ingin bilang kalau festival bunga sakura sebentar lagi datang, menurut anda... Bagaimana dengan ini?
Nathan: festival bunga sakura ya... Baik. Kita adakan, siapkan festivalnya. Nanti saya beritahu lagi, sekarang pergilah dulu.
Guru: baik tuan...
Guru itu pun akhirnya pergi, beberapa menit kemudian Nathan selesai dengan pekerjaannya ia ingin membangunkan Hima tapi tidak tega karena Hima tidur terlalu nyenyak dan akhirnya memutuskan untuk menggendong Hima. Nathan membawa Hima ke mobilnya dan menuju pulang ke rumahnya
Hima: aneh... Ini bukan jalan menuju rumah ku
Nathan: ini memang bukan jalan ke rumah mu Sayang~ tapi kerumah ku
Hima: gila lu ya! Gua nggak mau ke rumah mu! Kembalikan aku kerumah ku! [Merengek]
Nathan:sst diam dulu ya sayang~
Hima menatap dengan geli dan jijik