"Hai aku Gia gadis SMA tinggal di salah satu kota di jakarta. Hidup bersama lima orang di sebuah rumah bertingkat, satu ibuku dan tiga adikku laki laki semua hanya aku perempuan satu satunya dirumah sederhana kami ini.
Ayahku sudah lama meninggal sekitar empat tahun lalu, ayahku meninggal beberapa harta warisan yang dilimpahkannya untuk kami semua sama rata.
Dan kami masih tetap tinggal bersama meski masing masing sudah memiliki rumah yang diwariskan oleh ayah kami di luar kota.
Karena rumah ibuku begitu luas, dan ibuku berpikir untuk bagaimana caranya memiliki usaha yang konsisten pada akhirnya rumah yang awalnya tidak ada tangga semua dirombak total.
Menjadi sebuah rumah bertingkat, dan dijadikannya tempat kos kosan untuk para pria perantau yang masih single.
Kenapa ibuku tidak mau menyewanya pada yang sudah berumah tangga, karena akan jauh lebih boros dalam pengeluaran listrik juga air katanya.
Belum lagi perawatan rumah, tidak sesimpel orang orang yang masih pada single lebih cenderung banyak ditinggalkan dari pada dirumah, begitulah pikirnya.
Sekeliling rumah kami, banyak rumah kos kosan, tapi satu hal yang berbeda yaitu dari harga yang kami tawarkan dan fasilitas yang kami miliki tidak sama dengan yang lainnya.
Memiliki kamar dan kamar mandi di dalam, disetiap ruangan sudah kami sediakan kasur ataupun lemari dan tak lupa dipasang wifi secara gratis untuk para anak kos dirumah kami.
Dan satu hal yang pasti harga kos kosan rumah kami tidak semahal dari rumah kosan yang lainnya, dan setiap kali ada kerusakan ibuku selalu sigap membantu mereka secara cuma cuma.
Makanya banyak yang pada bertahan dan walaupun mereka pulang kampung tidak pernah sampai meninggalkan tanpa jejak alias kabur gitu aja. Tidak, mereka justru malah pada bertahan di tempat kami.
Suatu ketika, rombongan karyawan yang baru diterima kerja disebuah perusahaan di area dekat kami tinggal, mereka sedang mencari rumah kos kosan.
Kebetulan rumah kami saat itu masih baru sekali diperbaiki, dan sudah pada kosong karena masa kontrak mereka sudah pada habis. Jadilah kami sewakan pada rombongannya Mas Dimas namanya pengelola para pegawai baru saat itu.
Bernegosiasi harga dengan ibuku, dan deal. Semua masuk ke kamarnya masing masing setelah kunci kamar kos ibuku berikan saat itu.
Satu yang menjadikan ku gagal fokus yaitu pada pemuda yang gantengnya kelewatan.
Dia pendiam tapi juga kalo senyum ya Alloh ibarat coklat lumer yang manisnya masyaallah tabarakallah gitu loh.
Aku jadi salah tingkah, meskipun endingnya bukan senyum padaku juga. Jleb banget kan.
Dia Mas Pram Setiaji, dia salah satu pegawai yang paling disorot banyak wanita.
Hampir setiap hari paket berdatangan dari, si Wati, dari Dea, dari Bu Saodah, dan masih banyak lagi entah isinya apa.
Tapi mirisnya semua paket berada ditong sampah. Tidak ia buka sama sekali. Aku jadi berpikir mungkin kalau aku diantara cewek cewek itu pasti akan ditolak juga.
Oh tidak bisa, gengsi ku lebih tinggi, anti tolak malahan. Makanya aku berusaha acuh padanya. Sudah cukup taulah kalau cowok sok kecakepan aku juga jadi ilfil kan jadinya.
Hari hariku, ku sibukkan dengan beragam aktivitas disekolah. Ikutan OSIS, Pramuka dan tentunya marching band.
Dan saat jam istirahat, tiba tiba saja aku melihat mas Pram melewati sekolahku dengan motor sportynya.
Wush
Aku hanya menatapnya dari kejauhan, "mas Pram lagi boncengan sama siapa ya?." Begitulah pikirku. "Ah mungkin itu ceweknya, auto patah hati nasional ini mah" celetukku dalam hati sambil tersenyum dan geleng kepala.
"Gila, nanti jadikan kita ke mall?." Tanya kakak kelasku kak Erik namanya. Dia sudah lama mendekatiku tapi aku masih ogah pacaran. Maklum baru aku kasih kabar kalo ada yang mendekatiku saja serempak semua adik adikku berdiri siaga.
"Siapa, yang deketin kamu, Gia?." Semua sudah pada siaga mengeluarkan jurus jurusnya untuk melindungi ku, karena aku perempuan satu satunya anak ibuku.
Aku pun langsung kabur ke kamar lalu kututup pintu keras dan tertawa cekikikan aku berhasil menggoda adik adikku.
Dan parahnya semua pada mengetok pintu kamarku berkali kali. "Gila, awas ya kalo masih sekolah pacar pacaran, inget pesan si mama sama ayah enggak boleh pacaran sebelum lulus."
Aku menutup kedua telingaku, dan ku jawab "Iyaaa." Teriakku.
Namun seiring waktu berlalu, saat aku mau pergi ke sekolah atau keluar rumah selalu saja entah secara kebetulan atau apa, aku selalu bertubrukan denganas Pram, hingga jidatku ke jedor jidatnya mas Pram.
Dan bukan sekali dua kali, aku yang ceroboh ini selalu kemanapun dengan grasa grusu tanpa melihat ada yang sedang turun dari tangga, atau ada orang di hadapanku, aku jarang memperhatikannya fokusku hanya buru buru, mau pergi kemanapun itu.
"Aw, haish kamu lagi, kamu lagi ,enggak bisa apa jalan tuh yang bener mba."
"Eh mas, masnya aja yang enggak lihat."
"Lah si mbaknya yang sering grasa grusu masih saja tidak mau mengaku, bisa benjol terus ini jidatku mbak."
Aku hanya mengendikan bagiku lalu pergi tak perduli mas Pram sedang komat Kamit tak terima perlakuan ku.
Dan semenjak saat itu, aku jadi semakin sering bertemu, dan mulai akrab dengannya. Masalah kejedot jidat berubah jadi kejedot cinta. Dan tak ku sangka mas Pram melamarku setelah kelulusan.
Namun sayangnya, saat dimana ia ingin menikahiku kelak lulus nanti, tiba tiba saja libur ramadhan semua anak kos pada izin pamit pulang kampung.
Dan mas Pram pun pamit pada kamu semua, ia mengirimkan pesan padaku. "Gila, maafkan mas ya, sepertinya kita tidak bisa lanjutin hubungan kita, mas bulan depan akan segera menikah dengan calon yang dipilih orang tua mas, maafkan mas ya Gia, mas pamit jaga diri kamu, assalamualaikum. Pram."
Bak tersambar petir, aku jatuh luruh menangis sejadi jadinya, semua adik adikku langsung berhamburan memelukku, menguatkanku.
"Sudah ya mbak, memang cinta itu tidak harus dimiliki, dan jangan juga menaruh harapan besar pada anak kos, suka boleh cinta ya pikir pikir dulu." Begitulah saran adikku Leo.
"Hwaa, tapi aku udah sayang banget sama dia, gimana dong?."
"Ya enggak gimana gimana, hilang satu tumbuh seribu, pria satu pergi muncullah pria baru, nanti juga bakal ada anak kos yang baru lagi, kali aja lebih tampankan." Jawab enteng feri adik tengahku.
Dan seolah langit mendengar ucapan adikku, tak lama mobil melesat dan berhenti di depan rumahku.
Seorang pria berkaca mata membuka jendela mobilnya dan bertanya padaku saat aku sedang menyapu halaman rumahku saat itu.
"Rumah kos kosan ibu Kamila?." Tanyanya. Dan aku mengerjapkan mataku berkali kali. "OMG TAMPANNYAA."kataku dalam benakku yang masih tak ada hentinya ku tatap lekat. Dan pemuda itu hanya tersenyum dan malah sengaja membuka kaca mata hitamnya slow motion.
SELESAI