Kisah ini berawal dari sebuah chat nomor yang tak di kenal. Saat menerima pesan itu aku mengabaikannya. Karena ku pikir mungkin itu hanya salah nomor karena profil dari chat tersebut seperti sebuah logo bisnis. Chat itu ku abaikan dan langsung ku masukkan dalam daftar arsip tanpa membukanya.
2 hari kemudian aku mendapat notif dari nomor yang sama. Tetapi kali ini bukan sebuah pesan yang ku terima melainkan kiriman sticker.
Mungkin dia tahu aku sedang online dan belum membuka chatnya, jadi si pemilik nomor itu kembali mengirimiku sebuah pesan berupa sticker. Karena rasa penasaran yang tinggi akhirnya aku membuka chat itu. Lalu aku pun mulai mengetik balasan.
"Maaf ini siapa ya?" tanyaku di chat tersebut.
Ternyata si pemilik nomor sangat fast respon untuk membalas chatku. Selang beberapa detik kemudian, notif balasan chat dari nomor yang tak dikenal itu pun masuk.
"Coba tebak aku siapa?", balasnya. Hal itu membuat rasa penasaran ku membumbung tinggi.
"Hei yang benar kamu siapa?", aku membalasnya dengan geram.
"Coba tebak dulu aku siapa," jawabnya.
Apa maksudnya dia men-chat nomor ku. Hanya untuk bermain tebak-tebakan? Sungguh nggak ada kerjaan banget!!
Chat itu masih belum ku buka dan aku mendapatkan chat susulan chat lagi masih dari nomor yang sama.
"Marah ya?", tanyanya.
Jelas saja aku marah benar benar basa-basi yang begitu basi! Bukannya orang baru kenal minta kenalan dulu, dia malah ngajakin main tebak-tebakan dulu, siapa yang tidak marah jika mendapat chat tidak jelas seperti itu?
Karena sebal akhirnya aku membuka chat itu dan membalas.
"Tinggal bilang saja kamu siapa apa susahnya si?".
Dia kembali membalasnya dengan fast respon.
"Iya susah banget," jawabnya yang membuat emosiku seketika naik ke ubun-ubun.
Kini karena sebal aku jadi ikut-ikutan membalas dengan fast respon.
"Memangnya kamu dapat kontak aku dari siapa si?", tanyaku penasaran.
Karena aku merasa tidak pernah membagikan nomor pribadi ku kepada siapapun.
"Ada deh", balasnya.
Emosiku kini benar-benar memuncak. Ku maki-maki dia dalam hati karena saking geramnya.
"Hei yang bener kamu dapat kontak aku dari siapa? Kalau ngga mau ngomong aku blok nomormu sekarang!" balasku disertai dengan sebuah ancaman.
Aku berharap dengan ancaman itu dia mau mengatakan yang sebenarnya.
"Aku dapat kontak mu dari temen kamu", balasnya.
"Hah siapa?" tanyaku karena jiwa kepoku mulai meronta-ronta.
"Adalah pokoknya, temen sekelasnya kamu."
Mendapati jawaban darinya itu semakin membuat diriku penasaran. Siapa yang berani membagikan kontak pribadiku tanpa izin dulu kepadaku? Pertanyaan itu terus berputar-putar di kepalaku. Karena rasa kurang puas dengan jawaban itu, disertai dengan sebuah keingintahuan yang besar, akhirnya aku kembali bertanya lagi.
"Siapa? Laki-laki apa perempuan?"
Chat itu masuk dan sudah terbaca oleh si pemilik nomor yang tak dikenal itu, tetapi kali ini dia tidak langsung membalasnya. Karena dia membalasnya lama akhirnya aku keluar dari room chat itu.
Selang beberapa menit kemudian aku kembali mendapatkan notif chat dari nomor itu lagi.
"Kalau kamu mau tahu siapa aku, coba kamu keluar kelas," pintanya kepadaku.
Membaca balasan chat itu aku sontak langsung terkejut. Jantungku serasa berpacu lebih cepat dari biasanya. Ku pikir dia bukan salah satu orang dari warga sekolah, ternyata kita satu sekolah!! Karena penasaran aku pun mengikuti instruksi itu.
Aku pun keluar kelas dan menengok ke kanan dan ke kiri, sepi, kosong!! Tidak ada orang.
"Mana? Di luar kelas nggak ada orang!"
Chatku terkirim dan langsung ceklis dua biru.
"Coba kamu lihat ke arah tangga," balasnya padaku.
Aku pun mulai penasaran dan kembali menuruti instruksi itu. Pelan-pelan ku putar kepalaku untuk menghadap ke arah tangga dan DEGGHHH!!!
Mataku langsung membulat sempurna, jantungku seakan ingin melompat dari penyangganya!! Dengan spontan aku pun kembali masuk ke kelas dan duduk. Nafasku memburu tak teratur, aku mencoba untuk menetralkan diriku lagi.
Kutarik nafas dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya. Ku lakukan hal itu berulang kali untuk menormalkan detak jantungku.
"Hei kamu kenapa?", tanya Rara teman sebangku ku.
"Ra, kamu baca ini."
Ku berikan ponselku kepada teman sebangku ku dan dia juga membaca chat ku dengan si pemilik nomor tak dikenal itu.
"Din ini siapa?', tanya Rara kepadaku.
Aku pun dengan cepat menggelengkan kepalaku.
"Ngga tahu Ra, tiba-tiba dia chat aku dan ngga mau ngomong dia siapa", ku jawab dengan raut gelisah.
"Terus kamu kenapa kaya panik gitu?", tanya Rara kepadaku.
"Ra kamu tahu dia nyuruh aku keluar kelas, di luar ngga ada siapa-siapa, ternyata pas aku melihat ke arah tangga ada banyak anak laki-laki yang lagi pada duduk di situ", ucapku dengan kepanikan yang luar biasa.
Tiba-tiba tangan dan kakiku terasa gemetaran dan lemas. Bahkan setetes keringat mulai muncul di keningku. Tangan ku mulai dingin dan berkeringat, bibirku bergetar dan terasa kelu untuk berbicara, dan jantungku kini memompa dengan begitu cepat seakan benar-benar memaksa untuk melompat dari penyanggahnya.
Ku dapati kembali sebuah notif dari nomor itu lagi.
"Dinda dia chat kamu lagi," ucap Rara yang melihat notif itu masuk.
Dengan tangan yang masih gemetaran aku berusaha untuk mengambil benda pipih itu.
"Kok langsung masuk si? Coba kamu keluar lagi", aku membaca pesan itu kemudian dengan tangan yang masih gemetaran dan berkeringat dingin ku coba untuk menekan satu persatu huruf yang ada di papan keyboard untuk mengetik balasan padanya.
"Lagi pada ngapain si di tangga? Kok bisa banyak banget anak laki-laki?", ku kirim pesan itu dan langsung terbaca olehnya.
Tetapi kini pesanku hanya dibaca dan tidak lagi di balas olehnya. Beberapa detik kemudian segerombolan anak laki-laki lewat di depan kelasku, beberapa ada yang melempar pandangan ke arah dalam di kelasku.
Aku sontak membuang muka melihat segerombolan anak laki-laki yang lewat itu, karena kebetulan aku duduk di barisan paling depan. Beberapa jam berlalu, akhirnya tibalah waktu pulang. Sedari tadi chat ku kepada nomor tak di kenal itu tak kunjung di balas. Aku pun memilih untuk mengabaikannya saja.
***
Hari selanjutnya datang dengan begitu cepat. Aku terbangun ketika mendengar deringan alarm dari ponselku. Menandakan bahwa pagi yang baru sudah mulai menghampiri. Perlahan aku duduk dan meraih benda pipih yang berbunyi itu untuk mematikan alarm. Aku bangkit dari ranjang dan beranjak menuju ke kamar mandi.
Setelah semua ritual pagiku selesai, aku mulai bersiap-siap untuk berangkat. Sesampainya di sekolah ku buka lagi ponselku dan di situ aku kembali mendapati chat dari nomor yang tak dikenal itu lagi!
"Selamat pagi cantik."
Aku salah tingkah mendapati pesan manis itu di pagi hari. Kini aku pun mulai mengetik balasan untuknya.
"Pagi." Ku jawab dengan singkat, padat, dan jelas.
Pesan itu ceklis satu yang menandakan bahwa dia masih offline. Hari ini aku mengusahakan untuk mengikuti kelas dengan semangat walaupun rasanya masih ingin berbaring di ranjang dan bertelungkup di bawah selimut yang hangat. Jam istirahat pun tiba, hari ini aku sedang malas untuk pergi ke kantin, jadi aku hanya memainkan ponselku saja.
Ketika sedang asyik berselancar di sosial media, aku kembali mendapatkan notifikasi dari nomor itu lagi.
"Kamu cantik banget!"
Aku membaca pesan yang muncul di notifikasi itu. Reflek aku tersenyum, dan dadaku terasa seperti berdebar-debar. Jarang sekali aku mendapatkan pujian dari laki-laki. Kali ini aku mendapatkan pujian itu!! rasanya aku ingin berjingkrak-jingkrak saking senangnya.
"Emangnya kamu tahu aku?" Tanyaku basa-basi.
"Iya tadi aku lewat depan kelasmu."
"Kok kamu ngga nyapa aku si? Biar aku tahu kamu siapa."
"Iya tadi udah nyapa kok tapi kamunya yang ngga denger." Ucapnya seperti sedang mengelak.
"Hah masa sih? Kamu nyapa aku dimana?" Tanyaku pura-pura penasaran.
Ini orang pasti lagi mengelak nih.
"Tadi pas aku lewat depan kelas kamu."
Balasnya lagi dengan kecepatan respon yang tidak perlu diragukan lagi.
"Yah... Lain kali kalau kamu mau nyapa aku panggil namanya biar aku tahu ada yang nyapa."
"Hehehe... Iya deh nanti kalau aku ketemu kamu lagi aku panggil nama kamu ya," ucapnya yang seperti sedang menghiburku.
"Kamu kelas berapa si?"
"Coba tebak." Balasnya.
Lagi-lagi dia ngajakin aku main tebak-tebakan.
"Nebak-nebak mulu deh dari kemarin," balasku sambil pura-pura ngambek.
"Hehehe... Ya ngga papa biar seru."
"Males ah kalau kaya gitu. Jangan-jangan kamu adik kelas ya. Kamu mau ngeprank kaka kelas hah?" Balasku.
Kali ini aku mulai mengeluarkan taringku agar dia mau mengatakan yang sebenarnya.
"Ampun," balasnya yang seolah-olah sedang memohon pengampunan dari sang baginda.
"Cepet ngaku kamu kelas berapa? Kalau kamu ngga mau ngaku ngga aku kasih ampun kamu!" Ku gunakan jurus taringku lagi agar dia takut.
"Aku seangkatan sama kamu." Balasnya.
Aku terkejut membaca balasannya. Kali ini aku pun mulai meresponnya dengan lebih serius. Akan ku gunakan kesempatan ini untuk mengkorek-korek informasi tentangnya.
"Kamu kelas 9 apa?" Balasku.
"Ada lah pokoknya," lagi-lagi balasan menyebalkan itu muncul.
"Serius nih kamu kelas apa?!" Tanyaku mulai ngegas.
"Coba tebak."
Balasannya sungguh membuat diriku jengkel. Ternyata dia benar-benar tidak ingin aku tahu dia siapa.
"Jangan-jangan kamu kelas 9D ya." Tanyaku asal.
"Salah."
"9A?"
"Salah."
"9C?"
"Salah!"
"Terus yang benar kamu kelas berapa?" Tanyaku yang mulai geram.
"Ada lah intinya aku seangkatan sama kamu, bukan adik kelas."
"Tinggal ngaku aja apa susahnya si?"
"Susah banget."
"Susahnya dimana?" Tanyaku kesal.
"Nanti kalau aku ngaku aku siapa, takut kamu ilfeel terus ngejauhin aku."
Balasnya yang membuat ku mengerutkan kening.
"Loh kok kamu bisa mikir gitu?"
"Hehehe berdasarkan pengalaman."
"Nggak semua orang kaya gitu. Kamu harus berpikir positif."
"Iya, cuma buat antisipasi aja. Aku masih ingin melihat kamu dari jauh hehehe."
"Terus kapan kamu mau ngaku, kamu tahu aku masa aku gatau kamuu?"
"Kalau bisa aku ingin secepatnya."
"Yaudah ngaku aja sekarang!"
"Kalau sekarang aku belum siap," balasnya yang seakan mulai mengelak lagi.
"Terus kamu siapnya kapan?" Tanyaku mulai mendesak.
"Intinya nanti kalau aku udah siap aku akan memberitahumu."
"Sebelum ujian ya?" Pintaku.
"Hehehe akan aku usahakan."
Chating terus berlanjut hingga beberapa saat. Masih seputar perdebatan receh dan main tebak-tebakan. Hari-hari ku berjalan seperti biasanya. Kehadiran nomor tak di kenal itu sedikit membuat hidupku jadi lebih berwarna. Apalagi dia yang selalu mengajakku untuk bermain tebak-tebakan.
Merasa kehadirannya cukup untuk menghibur hidupku, akhirnya aku pun menyimpan nomornya dan menamai kontaknya 'Gak tau'. Aku mulai terbiasa dengan kehadirannya. Pesan manis yang dia kirimkan saat aku bangun tidur.
Hari ini ketika aku terbangun, seperti biasa aku selalu mengharapkan pesan darinya. Namun kali ini berbeda, balasan pesan yang ku kirim tadi malam kepadanya masih ceklis satu. Artinya dia masih offline. Aku tak menghiraukannya dan memilih untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah. Hingga siang hari aku masih belum mendapatkan pesan darinya.
Ku coba untuk mengecek nomornya. Ternyata profilnya sudah kosong. Aku mencoba untuk mengklik profilnya ternyata nomor diundang. Aku terkejut, kecewa, dan lemas. Apa ini? Aku merasa seolah-olah aku dipermainkan olehnya.
Tiba-tiba saja nomornya sudah tidak aktif padahal tadi malam kami masih bisa bertukar pesan. Pantas saja tadi pagi dia tidak mengirimiku pesan lagi. Dan anehnya kenapa aku bisa merasa seperti kecewa? Apakah mungkin aku yang sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya?
Apa maksudnya ini? Dia datang hanya untuk mengajakku bermain tebak-tebakan? Lalu setelah itu dia menghilang bagai di telan bumi. Tanpa kabar, tanpa jejak, dan tanpa aba-aba.
Sungguh hari ini aku merasa galau. Entahlah aku sendiri pun bingung. Aku merasa seperti kehilangan. Aku merasa masih belum rela jika waktuku dengannya harus usai. Hari-hari ku berlanjut seperti biasanya. Tidak ada hal yang istimewa. Apalagi saat si 'gak tau' itu tiba-tiba saja menghilang. Aku selalu berharap nomornya akan aktif lagi.
***
Lebih dari satu bulan sudah aku menunggu. Namun tak ku dapati tanda-tanda nomornya akan aktif lagi. Disini aku mulai berpikir mungkin dia hanya ingin bermain-main saja denganku. Mungkin aku yang terlalu baperan. Harusnya dari awal aku tidak usah merespon chat-nya dengan hangat. Harusnya dari awal aku tidak perlu menghiraukan pesan itu.
Tidak! Aku tidak boleh galau! Aku harus terus fokus dengan pendidikanku! Bagus kalau dia pergi dari sekarang, jadi aku tidak akan kecewa terlalu dalam. Aku akan menata kembali hidupku. Aku akan lebih selektif dalam merespon setiap orang yang datang. Tidak akan aku biarkan kejadian seperti ini terjadi untuk yang ke 2 kalinya.
Hariku masih terus berlanjut. Tak terasa waktu ujian pun tiba. Aku berusaha belajar dengan sungguh-sungguh agar aku bisa masuk di sekolah lanjutan yang aku inginkan. Hariku terfokus untuk belajar, belajar, dan belajar. Hingga tibalah saatnya semua masa-masa SMP itu akan usai. Semua yang terjadi di hari-hari kemarin akan menjadi sebuah kenangan. Setelah ini, aku mungkin akan menjalani hidup yang berbeda. Akan berpisah dengan teman-teman terbaik ku saat SMP.
Segala suka dan duka ku saat SMP akan menjadi kenangan indah yang terukir di benakku. Waktu yang tidak akan mungkin aku ulang lagi. Besok sudah tiba saatnya gladi bersih perpisahan, aku sudah merenung terlalu jauh. Ku raih ponsel yang tergeletak di atas ranjang kemudian membukanya. Ada nomor baru yang mengirimkan pesan padaku.
"Hai, kamu masih ingat aku ngga?" Tanya si pengirim pesan.
Aku mengerutkan kening lalu mulai mengetik balasan untuknya.
"Maaf tapi ini siapa ya?" Ku kirimkan balasan itu.
"Masa kamu lupa." Jawabnya.
Aku mengerutkan kening, ku coba untuk mengingat-ingat. Dan.... Yaaa!! Aku ingat beberapa bulan lalu ada orang yang sering chatting denganku tapi tidak mau mengatakan dia siapa. Mungkinkah ini adalah si 'gak tau' itu? Aku mulai mengetik balasan lagi.
"Jangan-jangan kamu yang waktu itu ya?"
"Hehehe iya aku balik lagi."
"Kenapa balik?"
"Aku kangen kamu."
"Ooh kirain balik mau ngaku."
"Nanti."
"Sekarang aja."
"Aku belum siap."
"Kamu gimana sih janjinya kan sebelum ujian, ini udah mau lulus loh masih ngga mau ngaku?"
"Aku pasti akan kasih tahu kamu tapi nanti tunggu waktu yang tepat."
"Terus kapan waktu yang tepat?"
"Suatu hari nanti, mungkin kalo aku udah kerja aku bakal kasih tau kamu aku siapa."
"Yang benar aja kelamaan itu! Belum tentu aku inget kamu lagi."
"Hehehe... Iya aku minta maaf ya. Tapi aku harap kamu akan selalu inget sama aku. Tunggu aku kembali ya! Aku cuma mau bilang terimakasih ya kamu udah hadir di dunia ini. Sehat dan bahagia selalu ya. Do'aku akan selalu menyertaimu. Kamu tidak perlu tahu siapa aku, tapi yang jelas aku sangat mengagumimu. Semoga takdir mengizinkan kita untuk bertemu lagi di versi terbaik kita ya! Sampai jumpa di titik terbaik menurut takdir. I love you more ❤️!"
Aku membaca pesan itu dengan mata yang berkaca-kaca. Berbagi macam rasa bersarang di dadaku. Ternyata dia kembali hanya untuk mengucapkan selamat tinggal?
Takdir memang tidak bisa di tebak. Terkadang takdir itu seperti mempermainkan ku. Mungkinkah di hari kemarin dia menghilang untuk mengajarkanku tentang rela? Agar ketika dia mengucapkan kata perpisahan ini, aku tidak akan terluka? Tapi akan seperti apapun persiapannya yang namanya perpisahan pasti akan meninggalkan luka bukan?
Dia misterius dan dia istimewa! Bahkan aku belum tahu namamu. Belum melihat wajahmu. Belum mendengar suaramu. Tetapi kita harus berpisah.
Kita pernah dekat, bahkan pernah berada di pijakan tanah yang sama, tetapi aku tak menyadari siapa dirimu? Sekarang mungkin kita akan terpisah oleh jarak dan waktu. Mungkin kita akan berteduh di bawah langit yang sama namun dengan warna yang berbeda.
Namun, akan sejauh apapun takdir memisahkan kita, jika dirimu adalah bagian dari takdirku, di ujung dunia manapun kau berada takdir akan mencari jalannya untuk menemukanmu.
Karena yang menjadi takdirku tidak akan pernah melewatkan ku dan yang bukan menjadi takdirku pasti akan melewatkan ku. Entahlah, tapi semoga takdir mengizinkan kita untuk bertemu kembali di titik terbaik menurut takdir.
SELESAI