Orang-orang dulu berkata, Sinta beruntung.
Mereka melihat Rama sebagai laki-laki dengan masa depan yang terang seperti matahari siang.
Kariernya melesat, namanya disegani, hidupnya terarah.
Sementara Sinta hanya perempuan biasa—guru TK dengan gaji sederhana dan hidup yang tak pernah dirancang untuk menjadi luar biasa.
Mereka tidak tahu, hidup bisa berubah hanya dalam satu dentuman.
Malam itu hujan turun deras.
Rama baru saja pulang dari luar kota.
Jalanan licin.
Sopir truk yang mengantuk tak sempat mengerem.
Telepon yang diterima Sinta pukul dua dini hari terdengar seperti suara dari dunia lain.
“Suami Ibu mengalami cedera kepala berat.”
Kalimat itu membelah hidupnya menjadi dua:
sebelum dan sesudah.
Rama selamat.
Tulang rusuk patah. Pendarahan otak.
Operasi panjang yang membuat waktu terasa seperti sesuatu yang kejam dan elastis.
Sinta menunggu di luar ruang operasi dengan tangan gemetar.
Ia tidak menangis. Tidak pingsan.
Ia hanya duduk memandangi lampu merah di atas pintu yang tak kunjung padam.
Ia hanya punya satu doa:
Biarkan dia tetap hidup.
Tuhan mengabulkan setengahnya.
Rama membuka mata setelah tiga minggu koma.
Tatapannya kosong.
Dokter menjelaskan panjang lebar tentang trauma otak, tentang kerusakan pada bagian memori jangka panjang.
Tentang kemungkinan hilangnya identitas.
Sinta mendekat ke tempat tidur.
“Mas…” suaranya bergetar.
Rama menoleh pelan.
Ia menatap wajah itu cukup lama.
Lama sekali. Lalu bertanya, pelan, seperti anak kecil yang tersesat: “Maaf… Anda siapa?”
Sesuatu di dalam dada Sinta runtuh tanpa suara.
Rama tidak mengingat siapa pun.
Tidak Papa. Tidak Mama. Tidak anak-anaknya.
Tidak Sinta.
Ia seperti lelaki dewasa dengan tubuh besar dan ingatan yang tercerabut.
Kadang ia marah.
Kadang ia ketakutan.
Kadang ia menangis tanpa tahu sebabnya.
Ia tak lagi tahu bahwa ia pernah menjadi pemimpin perusahaan. Tak tahu pernah punya mimpi besar. Tak tahu pernah mencintai seorang perempuan dengan sepenuh jiwa.
Dan Sinta harus memperkenalkan dirinya setiap hari.
“Halo, aku Sinta.”
“Halo, Pak. Kita tinggal serumah.”
“Halo… aku istrimu.”
Kata terakhir itu paling sulit.
Karena sering kali Rama hanya mengernyit bingung.
“Maaf… saya tidak ingat pernah menikah.”
Hari-hari setelah itu bukan lagi tentang karier, tentang kesuksesan, tentang masa depan menjanjikan.
Semua hilang.
Yang tersisa hanyalah ruang tamu yang dipenuhi obat-obatan, jadwal terapi, dan foto-foto lama yang ditempel di dinding seperti bukti bahwa mereka pernah bahagia.
Sinta berhenti mengajar.