Lisbon, Portugal
Hujan rintik membasahi jalanan berbatu di distrik Alfama, Lisbon. Hahi, seorang gadis penjual pot bunga keramik yang sederhana, berdiri mematung di depan sebuah gedung tua. Air matanya jatuh perlahan, membasahi pipinya yang pucat.
Di tangannya, ia memegang sebuah pot bunga kecil bermotif Azulejo biru yang hancur berkeping-keping. Sama seperti hatinya. Ia baru saja melihat Akaro, tunangannya yang merupakan atlet renang kebanggaan Portugal, sedang berpelukan mesra di dalam sebuah laundry mewah milik Kake.
[Tipu Daya Sang Juara]
Akaro adalah pria dengan senyum menawan yang selalu dipuja di kolam renang. Hahi telah memberikan seluruh tabungannya untuk membiayai pelatihan Akaro menuju kejuaraan Eropa. Namun, Akaro adalah penipu ulung. Ia menjalin hubungan gelap dengan Kake, wanita ambisius pemilik jaringan laundry terbesar di Lisbon yang juga menjadi sponsor gelapnya.
Kake bukan hanya kekasih gelap; dia adalah wanita yang mencuci uang hasil penipuan Akaro. Mereka berdua memanfaatkan kenaifan Hahi untuk mendapatkan inspirasi desain pot bunga yang kemudian mereka klaim sebagai properti bisnis mereka.
"Akaro, meu amor (cintaku)," bisik Kake dengan aksen Portuguese-English yang licin.
"Why you bother with that flower girl? She smells like dirt and clay. I give you the gold, she only gives you mud, eh?"
Akaro tertawa, suaranya terdengar sampai ke telinga Hahi yang bersembunyi di balik pilar.
"She’s just a lucky charm, Kake. Once I win the medal, I’ll throw her away like a broken vase."
[Kematian Jiwa yang Lama]
Hahi pulang ke bengkel keramiknya yang kecil di pinggiran pantai Cascais. Ia merasa hancur.
Pengkhianatan itu begitu dalam hingga ia merasa jiwanya mati malam itu. Ia membakar semua foto Akaro dan menghancurkan sisa-sisa pot bunga yang ia buat dengan penuh cinta.
Dalam keputusasaan, ia berbisik dalam aksen Melayu yang pilu, "Sampai hati hang, Akaro. Aku bagi jiwa raga, hang bagi aku sampah. Tak apa... mati satu Hahi yang lurus, lahir satu Hahi yang baru."
Malam itu, terjadi kebakaran kecil di bengkelnya akibat korsleting listrik. Hahi selamat, namun ia membiarkan semua orang mengira ia telah tiada. Ini adalah awal dari "reinkarnasi" dirinya. Ia menghilang ke utara, ke Porto, untuk mengubah identitasnya menjadi Helena, seorang kolektor seni misterius.
[Kebangkitan]
Dua tahun berlalu. Akaro kini adalah atlet yang mulai meredup kariernya karena skandal doping, sementara bisnis laundry Kake terjerat hutang pajak. Mereka membutuhkan investor besar untuk bangkit kembali.
Munculah Helena (Hahi yang baru). Ia kini tampil dengan gaun sutra, rambut tertata elegan, dan tatapan mata yang sedingin samudera Atlantik. Ia datang kembali ke Lisbon bukan untuk berjualan pot di pinggir jalan, melainkan untuk membeli perusahaan mereka.
Pada malam gala di Istana Pena, Sintra, Akaro mencoba mendekati Helena, terpikat oleh kecantikannya tanpa menyadari siapa dia sebenarnya.
Akaro: (Tergagap, aksen Portugisnya mencoba merayu) "Excuse me, Senhora... you look so familiar. Have we met in another life, eh?"
Hahi (Helena): (Menatap Akaro dengan jijik, beralih ke aksen English-Portugal yang sangat berkelas) "Familiar? Maybe in your nightmares, Akaro. I am the woman who owns your debt. And I don’t deal with losers who can’t even stay clean in the pool."
Kake: (Mencoba menginterupsi dengan gaya sombongnya yang dulu) "Listen here, we are the best laundry in Lisbon—"
Hahi (Helena): (Memotong dengan aksen Melayu yang tajam dan mengintimidasi) "Laundry? You can wash clothes, Kake, but you can never wash the dirt from your soul. Tak payah nak berlagak (Tak usah berlagak). Besok, kedai laundry kau akan jadi stor simpanan pot bunga aku."
[Penyembuhan yang Sejati]
Akaro dan Kake kehilangan segalanya dalam waktu semalam. Hahi berdiri di atas tebing Cabo da Roca, menatap matahari terbenam. Ia menyentuh pipinya yang dulu sering basah oleh air mata.
Kini, air matanya tak lagi jatuh karena sedih. Ia telah bereinkarnasi menjadi wanita yang berdaya. Ia mengambil sebuah pot keramik emas, hasil karyanya yang paling sempurna, dan membiarkan angin laut Portugal menerpa wajahnya yang kini penuh kemenangan.
Hahi: "Ini janjiku pada diriku yang lama. Aku yang sekarang tidak akan pernah hancur lagi. O passado já era (Masa lalu sudah berakhir)."