Aku berhenti menghunus udara.
Nafasku berat, hangat di dada yang masih bergelora selepas deretan pukulan dan tendangan yang mengoyak kesunyian pagi. Cahaya fajar menyelinap melalui celah papan pondok yang lembap, jatuh seperti bilah pucat di lantai tanah.
Bayang lelaki itu memanjang di hadapanku.
Di tangannya, sebilah pedang masih terbalut kain kasar.
“Cukup.”
Suaranya memutuskan sunyi seperti pisau memotong kain.
“Tubuhmu sudah ingat cara membunuh.”
Dia berhenti seketika.
“Tapi apakah otakmu sudah ingat cara membenci?”
Pedang itu melayang ke arahku.
Tanganku menyambarnya tanpa berfikir.
Gerakan itu datang dari tempat yang lebih tua daripada ingatan—refleks yang lahir dari ratusan malam berdarah.
Seperti harimau yang menemukan kembali taringnya.
Aku menimbang pedang itu di tangan.
Beratnya tepat.
Seimbang.
Dingin.
Senjata yang jujur.
“Apa maksudmu?” tanyaku.
Jemariku mengusap hulu pedang yang dipenuhi bekas parut pertempuran.
“Pengkhianat itu,” katanya perlahan, “sedang bersilat lidah di luar sana.”
Nada suaranya penuh rasa muak.
“Dia menangis di hadapan rakyat. Berkabung atas kehilangan murid paling setia.”
Dia berhenti.
“Sementara jiwanya berpesta kerana ancaman terbesarnya telah musnah.”
Aku ketawa kecil.
Suara itu serak dan pahit.
“Ternyata dia bergerak secepat itu.”
Aku menyipitkan mata.
“Tapi ada yang janggal.”
Aku memutar pedang perlahan.
“Dia tidak menemukan jasadku.”
“Hanya orang bodoh yang percaya seseorang benar-benar mati tanpa melihat tubuhnya.”
Aku menatap lelaki itu.
“Tidakkah dia curiga aku masih merangkak di suatu tempat… menunggu waktu untuk mengelar lehernya?”
Dia melangkah mendekat.
Langkahnya perlahan, namun anehnya ruang di pondok terasa semakin sempit.
Wajahnya masih tenggelam dalam bayang tudung.
“Dia tidak memerlukan jasadmu.”
Suaranya tenang.
“Yang dia perlukan hanyalah sebuah cerita.”
Dia berhenti di hadapanku.
“Sebuah keranda kosong yang dibungkus sutera mahal.”
“Dan kisah tentang kesetiaan yang membuta tuli.”
Aku menatapnya.
Dia menyambung dengan nada dingin:
“Baginya, kau jauh lebih berguna sebagai pahlawan yang mati… daripada saksi yang hidup.”
Aku memandang bilah pedang di tanganku.
Pantulannya buram.
Seolah logam itu sendiri menolak untuk menunjukkan wajahku.
“Jadi…” gumamku.
“Aku telah dikuburkan sebelum benar-benar mati.”
“Tepat.”
Dia bersandar pada tiang kayu pondok.
“Organisasimu tidak akan menghancurkan jasad rakan sendiri hanya untuk menutup bukti.”
“Jadi jika jasadmu tidak ada, tetapi pemakaman tetap berlangsung…”
Dia mengangkat satu jari.
“Hanya ada dua kemungkinan.”
Aku menunggu.
“Pertama—dia tahu kau hidup.”
Dia mengangkat jari kedua.
“Namun dia terlalu arogan untuk peduli.”
Sunyi menggantung di antara kami.
“Yang kedua?” tanyaku.
Dia tersenyum samar.
“Dia sedang menjual kematianmu.”
Aku mengerutkan dahi.
“Menjual?”
“Ya.”
Dia menunjuk keluar pondok.
“Keranda kosong.
Seorang Guru yang menangis.
Rakyat yang terharu.”
Dia tertawa kecil.
“Simbol seperti itu jauh lebih berharga daripada seorang pembunuh upahan yang masih bernafas.”
Aku tersenyum sinis.
“Wira yang gugur?”
Rasa pahit naik ke lidahku.
“Aku mati mengelar leher sendiri kerana dikhianati oleh tangan yang dulu kusembah.”
“Itu kebenaranmu.”
Dia menoleh ke arah cahaya pagi.
“Tapi bagi dunia…”
“Kau adalah legenda.”
Dia menatapku kembali.
“Dengan mengisytiharkan kematianmu sebagai martir, dia menghapus semua rahsia yang kau pegang.”
“Dan pada masa yang sama…”
“Dia menguatkan cengkeramannya.”
Dia berhenti seketika.
“Siapa yang berani meragui seorang Guru yang menangis tersedu di atas keranda kosong anak emasnya?”
Aku terdiam.
Dalam kepalaku, bidak-bidak catur mulai bergerak.
“Kalau begitu,” kataku perlahan, “pengikutnya pasti sedang mencari aku sekarang.”
“Mereka mencari.”
Dia mengangguk.
“Tapi mereka lambat.”
“Terseok-seok.”
Aku mengangkat kepala.
“Kenapa?”
“Kau pernah dengar tentang sekte Destruction?”
Aku mengangguk.
Nama itu seperti racun di telinga setiap orang waras.
“Mereka semakin berani,” katanya.
“Propaganda kiamat mereka merayap masuk ke desa-desa miskin.”
Dia menghela nafas.
“Rakyat yang lapar tidak memerlukan logika.”
“Mereka hanya memerlukan harapan.”
Walaupun harapan itu datang dari mulut iblis.
Aku menurunkan mata pedang.
“Maksudmu… mereka dijadikan tumbal?”
Dia mengangguk perlahan.
“Atau sesuatu yang lebih buruk dari kematian.”
“Mereka dijanjikan surga.”
“Tapi yang mereka dapatkan hanyalah menjadi daging tanpa jiwa dalam peperangan yang tidak mereka fahami.”
Dia kembali menatapku.
“Itulah sebabnya pemimpinmu tidak dapat mengerahkan semua pasukannya untuk memburumu.”
“Dia terlalu sibuk mempertahankan wilayahnya dari ‘Dewa’ palsu dan sekte gila itu.”
Dia tersenyum nipis.
“Dia takut rakyat yang dia peras akan berpaling kepada mereka yang menjanjikan makanan… dan keadilan.”
Aku tertawa perlahan.
“Jadi aku bertahan hidup hanya kerana dua syaitan sedang berperang.”
“Bukan sekadar bertahan.”
Suaranya tiba-tiba tajam.
“Kau adalah variabel.”
“Kau adalah sesuatu yang tidak mereka kira.”
Dia menunjuk ke arah pintu.
“Di mata dunia, kau sudah mati.”
“Di mata mereka, kau adalah rahsia yang telah terkubur.”
Dia menatapku lama.
“Tapi di sini…”
“Kau adalah pisau yang tahu persis di mana sendi-sendi mereka.”
Cahaya fajar kini menerangi seluruh pintu pondok.
“Kau punya pilihan,” katanya tenang.
“Tetap di sini. Berlatih dengan bayang-bayang.”
“Atau pergi ke kota… dan melihat sendiri bagaimana ‘wira’ mereka sedang ditangisi.”
Aku menatap jalan setapak yang diselimuti kabut.
Destruction.
Nama yang lahir dari kegilaan akan akhir zaman.
Mereka percaya suatu hari nanti sesuatu dari luar nalar manusia akan turun untuk memusnahkan dunia.
Dia menyambung:
“Organisasimu telah membantai banyak pengikut mereka.”
“Tapi mereka seperti ilalang.”
“Dipangkas satu… tumbuh seribu.”
Dia menggeleng kecil.
“Sekarang melihat musuhmu dan sekte itu bekerja sama?”
“Itu lelucon paling berdarah abad ini.”
Aku menggenggam pedang erat.
Buku jariku memutih.
“Kalau begitu…”
Aku berkata perlahan.
“Mari kita beri mereka alasan untuk benar-benar menangis.”
Sunyi kembali jatuh.
“Aku telah bersumpah setia kepadamu,” kataku akhirnya.
“Tapi sebelum itu…”
Aku menatapnya tajam.
“Siapa sebenarnya kau?”
Dia terdiam lama.
“Aku memiliki banyak nama.”
“Banyak gelar.”
“Dari mereka yang pernah aku selamatkan.”
“Dan dari mereka yang pernah aku hancurkan.”
Dia menoleh sedikit.
“Tapi ada satu gelar yang aku suka.”
“Umbra.”
Dia tersenyum samar.
“Walaupun bagi sebagian orang… itu hanyalah hinaan.”
Aku mengangguk perlahan.
Baiklah.
Umbra.
Nama yang sesuai untuk seseorang yang hidup di antara cahaya dan bayang.
Aku menatap jalan keluar pondok.
“Seberapa jauh kota utama?”
“Kurang dua hari dengan kuda tercepat milikku.”
Aku melangkah menuju pintu.
“Kalau begitu… aku pergi.”
“Tunggu.”
Aku berhenti.
Umbra berdiri di tengah cahaya pagi.
“Aku akan beri satu nasihat.”
Aku menoleh.
Suaranya menjadi sangat tenang.
“Apapun yang mereka katakan nanti…”
Dia berhenti seketika.
“Jangan percaya.”
Sunyi jatuh sekali lagi.
Lebih berat daripada sebelumnya.
Dan entah kenapa—
untuk pertama kalinya sejak aku hidup kembali—
aku merasakan sesuatu yang lebih berbahaya daripada kematian.
Keraguan.
Namun keraguan tidak mengubah apa-apa.
Jika ada kebenaran, ia berada di hadapan.
Dan aku akan melihatnya sendiri.
Perjalanan itu panjang.
Hanya tekad yang menolak langkahku ke hadapan.
Angin hari itu sangat dingin.
Seolah-olah dunia sendiri tahu sesuatu yang aku belum fahami.
Aku harus lebih cepat.