Milan, Italia
Lampu sorot stadion PalaLido di Milan berkedip-kedip, memantulkan bayangan Jiai yang sedang berlatih free throw sendirian hingga lewat tengah malam. Pelipisnya berdarah, luka robek kecil akibat benturan keras saat sesi latihan fisik yang brutal tadi sore. Ia menyeka darah itu dengan punggung tangannya, matanya memancarkan amarah yang lebih tajam dari rasa sakitnya.
Bukan hanya fisiknya yang terluka, tapi janjinya pada diri sendiri sedang diuji. Janji untuk menjadi Point Guard terbaik di Liga Italia, dan janji untuk menjaga hubungannya dengan Lugan. Namun, malam ini, ia menyadari bahwa janji kedua telah dikhianati secara menjijikkan.
[Lapangan Hijau dan Jaring Laba-Laba Digital]
Lugan adalah bintang baru di klub sepak bola AC Milan. Ketampanannya membuatnya sering menjadi sorotan media. Namun, di balik seragam Rossoneri-nya, Lugan memiliki sisi gelap: kecanduan judi bola online dan gaya hidup malam.
Pelariannya adalah sebuah Cyber Café (Warnet) eksklusif di sudut tersembunyi kota yang dikelola oleh Yagk. Yagk bukan sekadar pemilik bisnis; dia adalah wanita yang licin, menggunakan koneksi internetnya untuk memanipulasi taruhan dan menggunakan pesonanya untuk menjerat atlet-atlet muda yang haus adrenalin.
"You look stressed, Lugan. Why go home to a girl who smells like sweat and rubber?" goda Yagk dengan aksen Italian-English yang serak. "Stay here. The connection is fast, and the company... even faster, eh?"
[Pengkhianatan di Balik Layar Remang]
Jiai mulai curiga saat Lugan sering melewatkan pertandingan basketnya dengan alasan sesi fisioterapi tambahan. Suatu malam, dengan luka di wajah yang masih berdenyut, Jiai mendatangi warnet milik Yagk setelah melacak lokasi GPS Lugan yang tidak biasa.
Di sana, di ruangan privat yang remang, ia melihat Lugan sedang tertawa bersama Yagk, dikelilingi layar monitor yang menampilkan taruhan ilegal atas pertandingan sepak bolanya sendiri akhir pekan depan.
Jiai: (Berdiri di pintu, napasnya memburu, aksen Melayu yang tajam keluar saat ia emosi) "Hang memang tak guna, Lugan! Aku berhempas pulas kat court sampai berdarah muka, kau kat sini berjudi dengan betina ni? Tergamak kau khianati karier kau sendiri demi warnet buruk ni?"
Lugan: (Terkejut, mencoba berdiri) "Jiai, scusa... it’s not what you think. I was just... checking the odds. Allora, don't make a scene here!"
Yagk: (Tersenyum sinis, mengembuskan asap rokok elektroniknya) "Listen, ragazzina (gadis kecil). Basketball is a game for kids. Here, we play for real money. Go back to your ball and leave the men to me."
[Bangkit dari Pecahan Kaca]
Pengkhianatan itu adalah titik balik. Jiai menyadari bahwa ia telah memberikan terlalu banyak ruang untuk pria yang tidak menghargai disiplin atletik. Ia mengingat janjinya pada mendiang ayahnya: "Jadilah yang terbaik, jangan biarkan siapapun mencuri bolamu."
Ia memutuskan hubungan dengan Lugan malam itu juga. Tidak ada tangisan yang melemahkan, hanya tekad yang membaja. Jiai meningkatkan intensitas latihannya dua kali lipat. Ia menjadi mesin pencetak poin bagi timnya, memimpin mereka menuju final EuroLeague Women.
Di sisi lain, karier Lugan hancur berantakan. Skandal pengaturan skor yang melibatkan warnet Yagk terbongkar oleh otoritas FIGC Italia. Lugan diskors seumur hidup dari sepak bola profesional, dan warnet Yagk digerebek polisi atas tuduhan pencucian uang.
[Kemenangan yang Murni]
Final kejuaraan berlangsung di Roma. Jiai berdiri di podium, memegang piala MVP. Wajahnya yang dulu terluka kini bersih dan bercahaya, meski bekas luka kecil di pelipisnya tetap ada sebagai simbol ketangguhannya.
Lugan mencoba menghubunginya dari balik jeruji besi, memohon bantuan finansial untuk membayar pengacara. Jiai melihat ponselnya bergetar, melihat nama Lugan, lalu mematikan perangkat itu selamanya.
Jiai: (Berbicara pada mikrofon wartawan dengan aksen English-Italia yang elegan) "My promise wasn't to a man. It was to this game. In Italy, we say 'La vendetta è un piatto yang paling sedap dimakan waktu sejuk' (Dendam adalah hidangan yang paling enak dimakan saat dingin). And tonight, I am full."
Ia berjalan pergi, meninggalkan masa lalunya yang hancur, menuju kontrak besar di WNBA yang sudah menantinya di Amerika.