Rovaniemi, Finlandia
Di sebuah sudut dapur restoran mewah di Rovaniemi, Finlandia, suara denting piring beradu dengan isak tangis yang tertahan. Iyah menyandarkan kepalanya yang penat di dinding porselen yang dingin. Tangannya yang kasar karena deterjen terus gemetar.
Ia menangis lagi. Bukan karena tumpukan piring yang tak kunjung habis, tapi karena pesan singkat yang baru saja masuk ke ponselnya—sebuah foto suaminya sedang tertawa di dalam kabin hangat bersama wanita lain.
[Weyh dan Koleksi Berdarah Dingin]
Weyh adalah pria yang sulit ditebak. Pekerjaannya sebagai kolektor dan pelatih anjing berburu di hutan Finlandia membuatnya terlihat tangguh. Namun, di balik janggut tebalnya, ia adalah pria genit yang tak pernah puas dengan satu wanita. Ia menganggap Iyah hanya sebagai "pelayan" di rumah, sementara ia butuh hiburan yang lebih "eksotis".
Hiburan itu adalah Elx. Wanita yang terlihat lembut dengan hobi memelihara marmut hias. Elx menggunakan wajah lugunya untuk memikat Weyh, berpura-pura butuh perlindungan bagi hewan-hewan kecilnya dari dinginnya suhu Finlandia.
[Tipu Daya di Balik Kandang]
Weyh sering beralasan pergi ke hutan untuk melatih anjingnya, padahal ia menghabiskan waktu di pondok kayu Elx.
Weyh: (Aksen Finnish-English yang berat) "Iyah is just... washing dishes, eh? She smells like soap and grease. You, Elx... you smell like pine and soft fur. I like being here."
Elx: (Tertawa kecil, aksen Melayu yang manja dan licik) "Kesian Iyah. Dia penat-penat cuci piring, you pulak manjakan marmut I kat sini. Tapi takpe, Weyh. Biar dia buat kerja rumah. Kita enjoy kat sini, kan?"
Iyah, yang secara tidak sengaja mengantar makanan sisa restoran untuk anjing-anjing Weyh, mendengar percakapan itu dari balik pintu kandang anjing.
Hatinya hancur, namun kali ini, air matanya berubah menjadi es yang tajam.
[Satisfying ]
Iyah memutuskan untuk berhenti menangis. Sebagai pencuci piring, ia tahu satu hal: cara membersihkan noda yang paling membandel.
Pada malam perayaan Winter Solstice, Iyah mengundang Elx dan semua kolega Weyh ke sebuah jamuan di halaman belakang yang bersalju. Iyah menyiapkan hidangan spesial.
Iyah: (Berdiri tegak, aksen English yang jernih dengan selipan bahasa Melayu yang tegas) "Selamat malam, semua. Weyh, you love your dogs, right? And Elx, you love your little marmuts."
Weyh: (Bingung) "What is this, Iyah? Why you talk like that, eh?"
Iyah: (Tersenyum dingin) "I’ve made a decision. Since you both love 'pets' so much, I’ve helped you. Weyh, I’ve released all your hunting dogs. They are free now. And Elx... I’ve opened your marmut cages. Let’s see if they can survive the Finnish forest tonight."
Elx menjerit histeris. Weyh mencoba mengejar anjing-anjing mahalnya yang berlarian ke arah hutan, namun ia terpeleset di atas lantai es yang sengaja disiram air sabun oleh Iyah.
Iyah: "Tak payah nak berlakon (Tak usah berakting) sedih, Weyh. You want a playmate? Go find them in the snow. I’m done washing your dirty laundry."
[Penyembuhan di Bawah Cahaya Aurora]
Iyah berdiri menatap langit malam Finlandia. Cahaya Aurora mulai menari di langit, seolah ikut merayakan kebebasannya. Ia menyeka air mata terakhirnya.
Ia tidak lagi menangis karena sedih. Ia menangis karena lega. Ia mengambil tasnya, meninggalkan kunci rumah di atas meja, dan berjalan menuju stasiun kereta.
Iyah: (Bergumam dalam aksen Finlandia yang tenang) "Kiitos (Terima kasih), Weyh. Because of your betrayal, I finally cleaned the most disgusting dish of my life: You."