Cancún, Meksiko
Langit di atas Cancún, Meksiko, seolah pecah. Hujan tropis turun dengan intensitas yang sanggup menenggelamkan suara apa pun. Chua, seorang Music Leader bertangan dingin, berdiri di tengah badai tersebut. Rambutnya lepek, bajunya basah kuyup, namun matanya tetap lurus menatap sebuah mobil yang terparkir di ujung jalan.
Di dalam mobil itu, ia melihat dua siluet yang sangat ia kenali: Ehh, suaminya yang bekerja sebagai security di komplek elit mereka, dan Rukah, sahabat terbaiknya sejak kecil. Mereka sedang berbagi ciuman panas, merayakan tipu daya yang mereka bangun di belakang punggung Chua.
[Simfoni Pengkhianatan]
Chua adalah jiwa dari setiap pertunjukan musik besar di kota itu. Ia perfeksionis dan tajam. Sebaliknya, Ehh hanyalah pria dengan seragam security yang ia cintai karena dianggap sebagai "tempat berlabuh" yang aman. Namun, kenyataannya, Ehh adalah pria yang haus akan validasi dan harta.
Rukah, yang bekerja sebagai karyawan di mini market lokal, adalah orang yang selalu ada saat Chua lelah. Chua sering bercerita tentang rahasia bisnis musiknya, kontrak-kontrak besar, dan kode akses brankas rumahnya kepada Rukah.
"You are so lucky, Chua. You have everything," kata Rukah suatu sore, aksen Melayu-nya terdengar tulus namun penuh kedengkian yang tersembunyi. "I wish I had a life like yours."
Chua hanya tersenyum, tidak menyadari bahwa Rukah dan Ehh sudah lama menjalin hubungan dan berencana menguras seluruh tabungan Chua untuk kabur ke Amerika Selatan.
[Jebakan di Tanah Aztec]
Ehh dan Rukah mulai melakukan intimidasi halus. Mereka membuat Chua seolah-olah mengalami gangguan mental dengan memindahkan barang-barang, merusak instrumen musik mahalnya, dan mengirim pesan-pesan gelap tanpa nama.
Ehh: (Berbicara dengan aksen Mexican-English yang kasar untuk menekan Chua) "Mira, honey... maybe you’re just tired. Too much music, eh? You’re seeing things that aren’t there. Trust me, I’m the security here. You’re safe with me."
Rukah: (Menambahkan dengan nada prihatin palsu) "Betul tu, Chua. Rehatlah. Biar I jaga rumah you malam ni. You looks so mess (You nampak serabai sangat), dear."
Namun, mereka meremehkan telinga seorang pemusik. Chua menemukan alat penyadap yang dipasang di bawah meja makan—alat yang biasa digunakan Ehh untuk memantau tamu di komplek. Dari sana, Chua mendengar segalanya.
[Balas Dendam yang Dingin]
Chua tidak langsung meledak. Ia mengatur sebuah "jamuan perpisahan" di sebuah villa tua di kawasan Tulum, di tengah hutan yang rimbun saat badai hurricane diprediksi akan datang.
Malam itu, hujan turun begitu dahsyat. Chua duduk di depan piano besar, memainkan melodi yang berat dan gelap.
Chua: (Suaranya rendah, beralih ke aksen Melayu yang dingin) "Sedap wine ni, Rukah? I beli khas untuk celebrate... 'kebebasan' korang."
Rukah membeku. Ehh mencoba berdiri namun merasa kakinya lemas. Chua telah menyajikan minuman mereka yang dicampur bahan-bahan yang menyebabkan rasa kantuk dan ketidakberdayaan fisik.
Ehh: "What... what is this, Chua? Why you look at me like that, eh?"
Chua: (Berdiri, mendekati Ehh dengan tatapan predator) "You think you can play a conductor? You’re just a security guard who forgot his place. And you, Rukah... sahabat sejati kononnya. Tak payah nak kelentong (Tak usah berbohong) lagi. I saw the transfer documents you forged."
Chua mengeluarkan ponselnya. Ia tidak menelepon polisi, melainkan menelepon pimpinan kartel lokal yang selama ini menjadi donatur tetap di yayasan musiknya. Ia memberi tahu mereka bahwa Ehh dan Rukah adalah mata-mata kepolisian yang menyamar di mini market dan komplek mereka.
Chua: (Berbisik dalam aksen English yang tajam) "In Mexico, the rain cleans everything. But for people like you, it just washes your bodies to the ocean. Goodbye, 'friends'."
[Penyembuhan]
Chua berjalan keluar dari villa saat mobil-mobil hitam tanpa plat nomor mulai berdatangan. Ia berdiri di bawah hujan, merasakan air murni membasuh kotoran dari jawanya.
Ia kehilangan suami dan sahabatnya, namun ia menemukan kembali kekuatannya.
Hujan di Meksiko malam itu bukan lagi tanda kesedihan, melainkan tanda lahirnya kembali seorang pemimpin musik yang tak tersentuh.
Chua: "The music hasn't stopped. It just changed the key."