Toronto, Kanada
Lantai kayu maple di apartemen mewah kawasan Distillery District, Toronto, menjadi saksi bisu runtuhnya sebuah martabat. Snav tergeletak di sana. Rambut hitamnya terurai seperti tinta yang tumpah di atas salju. Di samping wajahnya, sebuah gelas wine kristal hancur berkeping-keping.
Ia bukan wanita lemah. Snav adalah Sekretaris Daerah (Sekda) berdarah Melayu-Kanada yang disegani di balai kota Ottawa. Namun malam ini, ia bukan pejabat. Ia hanyalah seorang istri yang baru saja menelan pil pahit pengkhianatan.
[Durjana di Balik Kapur Tulis]
Wonk adalah kontradiksi yang sempurna. Di siang hari, ia adalah guru sekolah menengah yang dicintai di Glebe Collegiate Institute. Ia berbicara tentang etika, sastra, dan masa depan. Namun di malam hari, ia adalah pecundang yang merasa kerdil di bawah bayang-bayang kesuksesan istrinya.
Ketidakberdayaan Wonk menemukan pelarian pada Digi. Digi adalah orang luar, seorang konsultan teknologi muda yang licik. Ia tidak memiliki empati, hanya ambisi untuk naik ke lingkaran kekuasaan Ottawa melalui informasi rahasia yang bisa dicuri Wonk dari laptop Snav.
"You look stressed, babe," bisik Digi suatu malam di sebuah kafe remang-remang di Montreal. "Is the big Madam Sekda giving you a hard time again, eh?"
Wonk menghela napas, aksen Kanada-nya yang kental terdengar lelah. "She doesn't see me, Digi. I'm just part of the furniture in that house. I'm tired of being 'Mr. Snav'."
[Jaring-Jaring Intimidasi]
Snav mulai mencium bau busuk itu. Sebagai Sekda, ia ahli dalam mendeteksi anomali. Ia memasang perangkat pelacak dan mulai mengawasi gerak-gerik suaminya. Puncak konfrontasi terjadi di kabin musim dingin mereka di pegunungan Laurentian, Quebec.
Malam itu, Snav sengaja mengundang Digi dengan alasan "jamuan makan malam rekan kerja". Suasana sangat tegang. Suara kayu bakar yang meledak kecil di perapian terdengar seperti tembakan pistol.
Snav menuangkan wine dengan gerakan yang sangat lambat, matanya tajam mengunci Digi.
"So, Digi... I heard you’re a specialist in 'security leaks'," kata Snav. Suaranya rendah, beralih ke aksen Melayu yang dingin dan mengancam. "Tak payah nak berlakon sangat depan aku (Tak usah berakting di depanku). In this country, loyalty is expensive. Tapi pengkhianatan? Itu harganya nyawa."
Wonk tersedak minumannya. "Snav, please... don't start this. We are having a nice dinner, for God's sake!"
Snav berdiri, berjalan memutari meja, dan meletakkan tangannya di bahu Wonk. Ia meremasnya begitu kuat hingga Wonk meringis. "Shut up, Wonk. You’re a teacher, right? Let me teach you a lesson about power. You think you’re playing me? I am the one who owns the board."
[Tipu Daya yang Menghancurkan]
Snav mengeluarkan sebuah amplop cokelat. Di dalamnya terdapat bukti bukan hanya perselingkuhan, tapi rencana Digi untuk menjual data proyek infrastruktur daerah yang dikelola Snav.
"You think this is just about sex, Wonk?" Snav melemparkan foto-foto Digi yang sedang bertemu dengan lawan politik Snav. "She’s using you like a cheap pencil. Habis dakwat, dia buang. You’re not a lover to her, you’re an entry point."
Digi mencoba melawan, suaranya melengking tajam. "You have nothing, Snav! I’ve encrypted everything. You can’t prove a thing in a Canadian court!"
Snav tersenyum sinis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Oh, honey. I’m not taking this to court. I’ve already leaked your location to the people you scammed in Vancouver. They’re outside, in the snow, waiting for the fire in this cabin to go out."
Ketakutan murni mulai muncul di mata Digi. Intimidasi Snav bukan melalui kekerasan fisik, tapi melalui kepastian bahwa ia telah menutup semua jalan keluar bagi mereka.
[Retak Namun Tajam]
Kembali ke saat Snav tergeletak di lantai. Itu adalah momen sesaat setelah ia mengusir mereka ke dalam badai salju. Ia merasa terpecah—antara cinta yang pernah ada dan monster yang harus ia jadikan diri demi bertahan hidup.
Ia menyentuh pecahan kaca di lantai. Jarinya berdarah.
"Broken glass can't be fixed," bisiknya dalam aksen English yang parau. "But it can still cut deep."
Snav bangkit berdiri, menghapus air matanya, dan menatap cermin. Di luar, sirine polisi mulai terdengar menyatu dengan deru angin Kanada. Sang Sekretaris Daerah telah kembali.