Pintu ruang OSIS terbuka dengan dorongan pelan. Alana masuk tanpa mengetuk, langkahnya tertuju langsung pada meja panjang di tengah ruangan yang hanya diisi oleh satu orang. Gavin. Cowok itu tidak mendongak, jemarinya masih sibuk menari di atas tuts laptop, sementara di sampingnya berserakan formulir pendaftaran olimpiade tingkat nasional.
Alana membanting map plastik miliknya ke atas meja. Suaranya bergema di ruangan yang kedap suara itu.
"Sejak kapan gue setuju buat jadi partner olimpiade lo?"
Gavin berhenti mengetik. Ia bersandar pada kursi, menatap Alana dengan ketenangan yang selalu berhasil membuat suhu ruangan terasa turun beberapa derajat. Matanya beralih ke map plastik itu sebentar, lalu kembali ke wajah Alana.
"Syarat dari sekolah. Peringkat satu dan dua harus turun bareng."
"Gue bisa minta partner lain!," sahut Alana cepat. Ia mencengkram pinggiran meja, mencondongkan badannya agar bisa menatap Gavin lebih dekat. "Gue nggak butuh lo buat dapet medali."
Gavin menarik nafas pendek. Ia menutup laptopnya pelan, menciptakan kesunyian yang mencekam di antara mereka. Ia berdiri, membuat Alana sadar kalau postur cowok ini memang sengaja dirancang untuk mendominasi.
"Sekolah nggak minta pendapat lo, Alana. Mereka minta kemenangan."
Gavin melangkah memutari meja, berhenti tepat di samping Alana. Jarak mereka hanya sekian sentimeter. Aroma mint yang tajam itu kembali menyerang indera penciuman Alana, bercampur dengan bau kertas baru dari tumpukan formulir.
"Atau lo takut?" tanya Gavin rendah.
Alana tertawa hambar, meski jantungnya mulai berdegup keras di balik seragamnya. "Takut kalah sama lo?"
Gavin justru maju satu langkah, memangkas jarak yang tersisa sampai Alana bisa merasakan hawa dingin yang selalu dibawa cowok itu.
“Atau lo takut nggak bisa fokus kalau deket-deket gue?” Suara Gavin rendah, hampir seperti bisikan, tapi tajamnya cukup buat bikin Alana mematung.
Alana melepaskan cengkeramannya pada meja. Ia berbalik, Alana nggak berkedip, dia ngunci bola mata Gavin. Ruangan itu mendadak terasa sempit. Udara di ruangan itu mendadak sumpek karena hawa panas yang saling tabrakan di antara mereka.
"Jangan mimpi deh lo!," desis Alana. "Lo cuma angka nol koma nol satu di bawah gue. Inget itu."
Gavin tidak membalas. Ia justru mengambil salah satu formulir, menyerahkannya pada Alana beserta sebuah pulpen hitam. Matanya tidak lepas dari mata Alana, seolah sedang melakukan bedah saraf lewat tatapan.
"Tanda tangan. Jadwal latihan mulai sore ini. Di perpustakaan, tempat biasa."
Alana merebut paksa pulpen itu, mencoret kertas dengan tarikan garis yang tajam, lalu membantingnya kembali ke meja.
"Sore ini. Jangan telat," kata Alana sebelum berbalik menuju pintu.
"Alana."
Langkah Alana terhenti di ambang pintu. Ia tidak menoleh, tapi bahunya menegang.
"Bawa susu coklat lo. Gue nggak mau dengar keluhan otak lo mau pecah di tengah jalan."
Alana langsung keluar,membanting pintu kayu itu sampai suaranya memekakkan telinga. Ia berjalan cepat di koridor yang sepi, tangannya mengepal kuat sampai kuku-kukunya memutih.
Sialan.
Bagaimana bisa cowok itu selalu tahu cara memukul titik terlemahnya tanpa perlu mengeluarkan banyak tenaga?
Di dalam ruang OSIS, Gavin masih berdiri di posisi yang sama. Ia mengambil formulir yang baru saja ditandatangani Alana. Matanya tertuju pada goresan tinta yang berantakan itu. Ia menarik nafas panjang, lalu menyampirkan tasnya di bahu.
Lampu ruangan padam.
Gavin masih di sana, berdiri dalam gelap yang mendadak menyergap. Aroma mint dan sisa amarah Alana masih mengendap di udara sangat pekat dan bikin sesak. Gavin menatap formulir di tangannya sekali lagi, melihat goresan tanda tangan Alana yang begitu kasar sampai kertasnya hampir robek.
Alana baru saja menandatangani "surat perang", dan Gavin sama sekali nggak berniat buat kalah. Sore nanti, perpustakaan nggak akan pernah sedamai dulu lagi.