Langit sore itu kelabu. Awan menggantung berat, seolah menyimpan terlalu banyak cerita yang belum sempat jatuh ke bumi. Ketika rintik pertama turun, orang-orang mulai berlarian mencari tempat berteduh.
Namun tidak dengan Bibi.
Ia tetap duduk di bangku kayu di tepi taman, membiarkan rambutnya basah oleh hujan. Di tangannya ada sebuah buku kecil yang sudah agak lembap. Di halaman terakhir, ada tulisan tangan yang sudah sedikit memudar.
“Kalau suatu hari hujan turun lama sekali, mungkin itu karena dia lupa jalan pulang.”
Kalimat itu ditulis oleh Vena.
Bibi tersenyum kecil setiap kali membacanya.
Dulu, setiap hujan turun, Vena selalu punya cara aneh untuk menjelaskan banyak hal. Kadang ia bilang hujan adalah air mata langit, kadang ia bilang hujan adalah cara bumi bernapas.
Bagi Vena, hujan bukan sekadar cuaca.
Hujan adalah cerita.
Bibi dan Vena pertama kali bertemu juga saat hujan. Waktu itu Bibi lupa membawa payung dan terjebak di halte kecil. Tak lama kemudian seorang gadis datang, membawa payung kuning yang terlalu besar untuk dirinya.
“Kamu mau ikut berteduh?” tanya gadis itu ramah.
Itulah pertama kalinya Bibi bertemu Vena.
Sejak hari itu mereka sering bertemu—di taman, di kafe kecil, atau di halte yang sama. Kadang mereka hanya duduk diam sambil menunggu hujan berhenti.
Namun anehnya, hujan seolah selalu punya alasan untuk turun saat mereka bersama.
“Kayaknya hujan suka kita,” kata Vena suatu hari sambil tertawa.
“Kenapa?” tanya Bibi.
“Karena setiap hujan turun… kita selalu ketemu.”
Bibi tidak pernah tahu sejak kapan ia mulai menunggu hujan. Mungkin sejak Vena menjadi bagian dari hari-harinya.
Sampai suatu hari, hujan juga yang membawa kabar buruk.
Sore itu Vena datang ke taman dengan wajah yang tidak seperti biasanya. Tidak ada senyum lebar, tidak ada cerita aneh tentang hujan.
“Aku harus pindah,” katanya pelan.
Bibi terdiam.
“Keluargaku pindah kota. Besok pagi.”
Hujan turun lebih deras saat itu, seperti ikut mendengarkan percakapan mereka.
“Jadi… kamu bakal pergi?” tanya Bibi lirih.
Vena mengangguk.
“Tapi hujan bakal tetap di sini,” katanya mencoba tersenyum. “Dan kalau hujan turun… kamu ingat aku, ya.”
Bibi ingin mengatakan banyak hal saat itu. Ingin meminta Vena tinggal, ingin bilang bahwa hari-harinya tidak akan sama tanpa Vena.
Tapi kata-kata itu tidak pernah keluar.
Keesokan harinya Vena benar-benar pergi.
Dan sejak saat itu, setiap kali hujan turun, Bibi selalu datang ke taman ini.
Kadang hanya duduk diam. Kadang membaca ulang kalimat di buku kecil itu.
Hari ini hujan turun lagi.
Namun anehnya, hujan tidak kunjung berhenti. Rintiknya semakin deras, seolah benar-benar lupa jalan pulang.
Bibi menghela napas dan menutup bukunya.
“Mungkin kamu benar, Ven,” gumamnya pelan. “Hujan ini lupa pulang.”
“Tapi aku tidak lupa.”
Suara itu membuat Bibi langsung menoleh.
Di belakangnya berdiri seseorang dengan payung kuning besar.
Vena.
Wajahnya sedikit berubah, tapi matanya masih sama—hangat dan penuh cerita.
“Aku balik,” kata Vena pelan.
Untuk beberapa detik Bibi tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menatap Vena seolah takut semua ini hanya mimpi.
“Kenapa kamu kembali?” akhirnya Bibi bertanya.
Vena tersenyum kecil.
“Karena setiap kali hujan turun di kota tempatku sekarang… aku selalu ingat kamu.”
Hujan masih turun di taman itu.
Namun kali ini, Bibi tidak lagi merasa hujan itu lupa pulang.
Karena seseorang yang dulu pergi… akhirnya menemukan jalan kembali. 🌧️
Tamat