Hujan turun pelan sore itu. Rintiknya jatuh di atas atap kafe kecil di sudut jalan, menciptakan suara yang menenangkan sekaligus menyayat hati bagi siapa saja yang sedang mengenang sesuatu.
Key duduk di dekat jendela, memegang secangkir kopi yang masih mengepul hangat. Aroma kopi hitam itu mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang dulu selalu duduk di kursi seberangnya.
Rey.
Dulu, setiap kali hujan turun, Rey selalu mengirim pesan singkat.
"Hujan turun. Mau kopi?"
Dan tanpa berpikir panjang, Key akan datang ke kafe kecil ini. Mereka akan duduk berhadapan, memesan dua cangkir kopi, lalu berbicara tentang banyak hal—tentang mimpi, tentang masa depan, bahkan tentang hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting.
Rey selalu tertawa keras saat Key bercerita.
Sedangkan Key selalu pura-pura kesal, padahal diam-diam ia suka melihat Rey tertawa seperti itu.
Tapi semua itu sekarang hanya tinggal kenangan.
Key menatap hujan di luar jendela. Orang-orang berlalu lalang dengan payung warna-warni. Dunia tetap berjalan seperti biasa, seolah tidak ada yang berubah.
Padahal bagi Key, banyak yang sudah berubah.
Rey tidak lagi duduk di kursi seberangnya.
Key masih ingat jelas hari terakhir mereka bertemu di kafe ini. Hujan juga turun seperti sekarang. Rey datang lebih lambat dari biasanya. Wajahnya terlihat lelah, matanya seperti menyimpan sesuatu yang berat.
"Aku mau pindah kota," kata Rey pelan waktu itu.
Key sempat terdiam lama. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Kata-kata terasa menumpuk di tenggorokan, tapi tak satu pun berhasil keluar.
"Kapan?" akhirnya Key bertanya.
"Besok."
Hanya satu kata, tapi rasanya seperti petir yang menyambar di tengah hujan.
Malam itu mereka tetap minum kopi seperti biasa. Berbicara tentang hal-hal ringan, tertawa kecil, seolah tidak ada perpisahan yang menunggu di ujung malam.
Padahal keduanya sama-sama tahu, setelah malam itu mungkin semuanya tidak akan sama lagi.
"Aku bakal kangen hujan di sini," kata Rey sambil menatap keluar jendela.
Key hanya tersenyum. Ia tidak berani mengatakan bahwa yang akan ia rindukan sebenarnya bukan hujan… tapi Rey.
Sejak hari itu, Rey benar-benar pergi.
Tidak ada lagi pesan singkat saat hujan turun.
Tidak ada lagi ajakan minum kopi mendadak.
Tidak ada lagi tawa Rey di kafe kecil ini.
Yang tersisa hanya kenangan.
Key menghela napas panjang dan menyesap kopinya. Rasanya masih sama seperti dulu—pahit di awal, lalu perlahan meninggalkan hangat.
Persis seperti kenangan tentang Rey.
Tiba-tiba pintu kafe terbuka. Angin dan aroma hujan ikut masuk bersama seseorang yang baru datang.
Key tidak terlalu memperhatikan sampai suara yang sangat ia kenal terdengar pelan.
"Masih suka duduk di tempat yang sama, ya?"
Key langsung menoleh.
Di sana berdiri Rey. Rambutnya sedikit lebih panjang, wajahnya tampak lebih dewasa, tapi senyumnya masih sama seperti dulu.
Untuk beberapa detik, Key hanya bisa menatap tanpa berkata apa-apa.
"Hujan turun," lanjut Rey sambil tersenyum kecil. "Kupikir… mungkin kamu masih di sini."
Key tertawa pelan, antara bahagia dan tidak percaya.
Rey lalu berjalan mendekat dan duduk di kursi seberangnya—kursi yang selama ini selalu kosong.
Seorang pelayan datang.
"Pesan apa?" tanyanya.
Rey menatap Key sebentar, lalu berkata,
"Dua kopi hitam."
Key memandang hujan di luar jendela lagi. Kali ini rasanya berbeda.
Karena ternyata… tidak semua yang pergi benar-benar hilang.
Beberapa hanya sedang mencari jalan untuk pulang. ☕🌧️
Selesai