Lorong gelap tampak sunyi angin dingin berhembus menusuk tulang,Dila menoleh ke kanan dan ke kiri, hanya tampak pasien-pasien tertidur pulas di atas ranjang, langkahnya semakin cepat,matanya menatap jam di tangan"ternyata hampir tengah malam",gumamnya.
*Ssseeeerrrrhhhh...*
Angin berdesir kuat dari belakang membuat Dila terhenti,suasana berubah semakin mencekam,tangannya mengepal erat tali tas selempang,sementara detak jantungnya mulai tak beraturan,wajah Dila tampak pucat,desir angin dingin tak mampu menyapu keringat wajahnya,perlahan Dila berbalik meski kakinya terasa sangat kaku,"To... to...tolong jangan ikuti aku... "Bibirnya gemetar nafasnya mulai tak beraturan,pupil mata itu bergetar menatap di hadapannya sosok perempuan dengan rambut berantakan tanpa wajah.Sosok itu menghilang seolah tersapu angin tanpa jeda." Ya... Tuhan trimakasih... "Kata Dila merasa lega. Dila melanjutkan langkahnya ke lantai 3.
Langkahnya terhenti di depan ruangan 303,tanpa ragu ia membuka pintu."Kamu sudah makan nak...??? "Suara itu membuat Dila sedikit lega,"Loohh... Ibu belum tidur...??? " Dila menghampiri seorang perempuan yang terbaring di atas ranjang berwarna biru muda,tampak jelas senyum lembut di wajahnya yang mulai keriput.
Dila menghempaskan tubuhnya di lantai yang beralaskan karpet kecil,"Bagaimana kerjaanmu hari ini nak...??"sapa Ibu Tari tidur menyamping menghadap Dila."Toko lumayan rame bu.... "Sahut Dila sembari tersenyum.
Ibu Tari pemilik kost dan membuka Toko, Dila tinggal dan bekerja di sana sudah 3 tahun.Bu Tari seorang janda suaminya meninggal 2 tahun yang lalu,ia tak memiliki anak, karena itu ia membuat kost-kost'an agar hidupnya tak kesepian.
" Bagaimana keadaan Ibu hari ini...??? "Tanya Dila, " Sudah membaik nak, paling besok sudah boleh pulang... "Sahut Ibu Tari." Apa kamu tadi melihat sesuatu..??, tadi Ibu perhatiin wajahmu sedikit pucat...?? "Sambungnya.
" Haaa... tidak apa bu... Dila udah biasa... "Dila tersenyum, matanya menatap langit-langit kosong,cahaya perlahan meredup.Ruangan itu kembali sunyi.
*Dila..... Dila.... Dila..... *Suara lembut dan panjang berbisik di telinga,Dila tersentak membuka mata.Rambut panjang tanpa wajah bersimpuh di sampingnya." Kamu mau apa???? "Dila gemetar.Sosok itu lenyap di hadapannya dan sekarang tampak berdiri di pintu,tangannya melambai perlahan. Sedikit ragu Dila bangkit berjalan perlahan mengikuti sosok itu hingga lantai 1.Langkahnya terhenti ketika tangan sosok itu menunjuk sesuatu di balik pot bunga di sudut lift,perlahan Dila mendekat matanya tertuju pada kantong biru,Perlahan ia membuka kantong tampak sebuah kotak seperti kado ulang tahun diatasnya tertempel secarik kertas.
" 𝐻𝑎𝑟𝑖 𝑖𝑛𝑖 𝑡𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎𝑙 5 𝑗𝑎𝑛𝑢𝑎𝑟𝑖 2025 𝑘𝑎𝑚𝑢 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 7 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑚𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑎𝑛 𝑝𝑎𝑝𝑎, 𝑆𝑒𝑙𝑎𝑚𝑎𝑡 𝑈𝑙𝑎𝑛𝑔 𝑇𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑝𝑢𝑡𝑟𝑖 𝑘𝑒𝑐𝑖𝑙𝑘𝑢.𝐵𝑎ℎ𝑎𝑔𝑖𝑎𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑙𝑎𝑙𝑢 𝑚𝑎𝑚𝑎 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑙𝑎𝑙𝑢 𝑚𝑒𝑛𝑒𝑚𝑎𝑛𝑖𝑚𝑢 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎𝑖 𝑘𝑎𝑝𝑎𝑛 𝑝𝑢𝑛."
💝𝑚𝑎𝑚𝑎 𝑆𝑖𝑙𝑎
*To... Looong...sakit... dia... *suara itu perlahan menjauh dan lenyap di antara sunyi.
Dila bangkit kini ia mengerti maksud sosok itu,(Kamu tenang saja besok aku akan membantu memberikan hadiah ini untuk anakmu) kata Dila dalam hati.
"Permisi.... Ibuk... Mbaaa...saya akan mengganti infusnya ya... " suara perawat wanita itu memaksa Dila membuka mata, "Aaahh... Iya sus", jawab Dila yang tampak setengah sadar.Perlahan Dila menatap layar ponsel waktu menunjukkan jam 6 pagi, ia berjalan kekamar mandi dengan mata masih setengah kebuka. Air dingin menyapu wajah membuatnya tersadar kembali.
" Gimana tidur ibu tadi malam..??? "Tanya Dila berjalan sembari membawa handuk basah di tangannya.
" Nyenyak Dil...kamu nanti kerja apa...??? "Sahut Ibu Tari." Hmm...sore Bu...ngecek kiriman aja,Mita yang jaga hari ini, "Jawab Dila sembari menyeka wajah Bu Tari." Tadi malam ibu lihat kamu keluar kamar dan kembali membawa kantong itu..."Tangannya menunjuk kantong di samping tas Dila."Biasa bu... Kemarin malem ada wanita minta tolong buat kasih kado itu untuk anaknya... "Jawab Dila sembari kembali kekamar mandi mencuci handuk yang habis di pakai.Ibu Tari mengangguk pelan.Ia mengerti maksud Dila karena Bu Tari sudah lama mengenal Dila.
" Apa kau ingat di mana ruangan anakmu...??? "Tanya Dila pelan, sosok wanita itu berjalan pelan menembus orang-orang Dila mengikuti dari belakang dengan kantong biru di tangan,langkahnya terhenti di Ruang Melati tampak 4 ranjang dalam ruangan itu 2 anak perempuan dan 1 anak laki-laki.Tangan wanita itu menunjuk ke arah ranjang yang paling ujung tampak seorang anak perempuan berambut sebahu sedang duduk menatap jendela pandangannya seolah berkelana diluar sana.Seorang Pria duduk di sampingnya menyisir rambut anak itu dengan lembut.
Perlahan Dila mendekat" hmmm... Permisi pak saya membawa titipan... "Kata Dila sembari menyodorkan kantong biru itu." Mba siapa...??? "Kata Pria yang kini berdiri tegap dengan wajah sayu di hadapan Dila, " Boleh kita berbicara di balkon saja...?? "Tanya Dila sedikit ragu. "Hmmm.. Baiklah... Mari mba... " Pria itu melangkah pelan ke arah balkon kamar,Dila mengikuti dari belakang.
"Sebelumnya maaf pak, apa bapak kenal dengan Ibu Sila??? " Dila memulai percakapan.
"Apa mba teman istri saya...???"Tanya pria itu penasaran.
" Saya kenal beliau kemarin pak... "Jawaban Dila sontak membuat pria itu mematung.
" Nggak mungkin mba... Istri saya meninggal kecelakaan 5 hari yang lalu mba..."Pria itu menatap heran Dila.
"Mungkin ini sulit untuk di percaya tapi saya hanya menyampaikan pesan ini pak... " jawab Dila menyodorkan kembali kantong itu.
Sedikit ragu pria itu meraih kantong di tangan Dila.Matanya terbelalak menatap kotak di dalam tas itu. Air matanya perlahan mengalir terlihat pilu tanpa suara,"Paaa...tolong jaga Pici kita... "Dila mengucap kembali kata dari sosok itu. Sontak membuyarkan lamunan pria di hadapannya," Bagaimana mba tau Pici panggilan sayang dari Sila untuk Syifa anak kami...??? "."Itu yang beliau bilang pak, saya hanya menyampaikan..." sahut Dila."Apa Sila sekarang masih disini???"sambung pria itu.Dila mengangguk pelan."Ma... Seharusnya papa yang pergi malam itu, maafkan papa maaa..."kata pria itu terisak."Pak, kata beliau ini memang sudah jalannya,jadi beliau minta bapak jangan sedih lagi dan jaga Syifa dengan baik... "Jawaban Dila membuat Pria itu kembali terisak.
Kini Pria itu sudah bisa menata perasaannya,ia kembali kedalam ruangan membawa kotak kado dan memberikan ke pada anaknya,mereka berdua menangis sembari berpelukan, Dila merasa lega sudah bisa sedikit membantu, sosok itu pun menghilang entah kemana seoalah di telan kekosongan.
" Aaahhh... Lega.... Sekarang aku mau beli makan dulu.... "Gumam Dila,sekarang langkahnya lebih ringan wajahnya tampak berseri.
*Tulusnya kasih meski terjeda dunia,tak menjadi penghalang.Setiap pertemuan baik itu yang indah atau pun yang tak enak pasti ada akhirnya.Tak ada orang yang siap akan perpisahan,hanya ada penerimaan dan kewajiban untuk bertahan*.