Raungan sirene ambulans membelah kemacetan Kota Sakaian, menciptakan lorong paksa di antara deretan kendaraan yang terpaku. Di dalam kabin yang pengap itu, aroma antiseptik bercampur anyir darah terasa menyesakkan.
Tama duduk membeku, wajahnya pucat pasi menatap nanar pada sosok perempuan yang terbaring di atas tandu. Seragam putih perawat kini ternoda bercak merah—darah milik Ana. Begitu juga dengan tangan serta baju Tama. Ia yang gemetar terus menggenggam jemari Ana yang mendingin.
"Tetap bangun, Na... kumohon. Kita sudah hampir sampai," bisiknya lirih, suaranya parau dan pecah di antara bising peralatan medis.
Namun, mata Ana tetap terpejam rapat, menyisakan napas yang semakin tipis.
Namun di rumah sakit itulah takdir bekerja dengan cara yang paling kejam. Saat dokter keluar dengan gelengan kepala yang pelan, dunia Tama runtuh seketika. Tama terhuyung, punggungnya menabrak dinding porselen yang kaku. Ia tidak sanggup melangkah masuk untuk melihat jasad kekasihnya.
Baginya, melihat Ana yang tak bernyawa adalah kiamat kecil yang tak mampu ia hadapi. Tanpa kata, ia meninggalkan rumah sakit, membiarkan penyesalan membuntuti tiap langkahnya.
***
Keesokan paginya, Rudi — ayah Ana, berdiri di depan pintu kontrakan Tama dengan mata sembap. "Tama, mobil jenazah sudah siap. Kamu tidak ingin melihatnya untuk terakhir kali?"
Tama menunduk, tangannya meremas jari hingga memutih. "Maafkan Tama, Om... Tama tidak sanggup. Tama benar-benar tidak bisa."
Rudi menghela napas panjang. "Ini kesempatan terakhirmu, Nak. Setelah ini, Ana hanya akan jadi gundukan tanah. Kamu akan menyesal jika tidak berpamitan."
"Justru itu, Om," suara Tama bergetar hebat. "Tama membenci perpisahan. Sejak kecil, perpisahan jadi monster yang selalu saya hindari. Saya tidak mau memori terakhir saya tentang Ana adalah tanah yang menimbun wajahnya. Maafkan saya karena menjadi pengecut."
Rudi terdiam lama, lalu menepuk bahu Tama pelan. "Ini bukan salahmu, Tama. Jika ini pilihanmu, Om hargai."
***
Satu tahun berlalu dalam kehampaan. Hidup Tama kini hanya rutinitas mekanis: bangun, bekerja, dan kembali mengurung diri dalam kontrakan. Semangat hidupnya kini menurun. Sosok Ana selalu menghantuinya melalui mimpi buruk yang sama.
“Ana, aku minta maaf...” Kalimat itu selalu ia ucapkan saat terbangun dengan napas tersenggal. Jiwanya sudah lama terkubur bersama Ana.
Hingga pada suatu malam, tepat di ambang usianya yang ke-24, sebuah notifikasi memecah keheningan pukul 23.59.
> Anonim:"Selamat ulang tahun yang ke-24, Tama. Saya mempunyai sesuatu sebagai hadiah untuk Anda."
Tama tertegun. Namun ia memilih mengabaikannya. Pukul 23.59 di malam berikutnya—tepat satu tahun satu hari sejak kepergian Ana—pesan itu muncul kembali.
> Anonim: "Apakah Anda siap memecahkan teka-teki pertama?"
"Siapa kau? Dan apa maumu?" Kali ini, Tama memutuskan untuk membalas dengan jemari yang gemetar.
> Anonim: "Saya adalah pengingat dari Masa. Atau lebih tepatnya, saya adalah Masa itu sendiri."
> Anonim: 5^/8!5 9!#@ /^+@!# !&( &*^@!#%!#7 #%#@ /%)#^ /^+@$ $%)!@!#%!#7 &!/^+!@
"Masukkan bulan dan tahun sebagai kunci."
***
Keesokan harinya di kantor, saat ia sedang mengetik laporan, jarinya tanpa sengaja menahan tombol Shift terlalu lama. Karakter @ muncul di layar, tepat di atas huruf S dan W. Pupil matanya tiba-tiba melebar.
Ia teringat kebiasaan konyol Ana dulu. Ana sangat menyukai kriptografi sederhana; mereka sering bertukar pesan rahasia menggunakan posisi angka pada keyboard sebagai pengganti huruf di bawahnya.
Dengan cepat, Tama mencocokkan simbol tersebut. Perlahan, kode itu mulai terurai: "Tempat yang menjadi saksi keberanianmu muncul meski suaramu gemetar."
Tama memejamkan mata. Ingatannya melayang ke trotoar Kota Sakaian di bawah hujan deras setahun lalu. Saat itulah ia pertama kali menyatakan cinta setelah berbulan-bulan hanya berani memendamnya. Kejadian itu terjadi pada Mei 2023.
Ia mengetik kunci: "052023".
Sebuah file terbuka. Foto mereka berdua berbagi payung muncul. Di bawahnya tertulis: "Terima kasih sudah berani hari itu, Tama. Aku tahu jantungmu berdegup sangat kencang saat itu." Mata Tama berkaca-kaca. Ia tersenyum tipis, teringat betapa Ana selalu bisa membaca kegugupannya.
Tengah malam berikutnya, pesan baru muncul.
> Anonim: "Halaman 65 buku 'Gua bagai Americano', baris ke-8, kalimat ke-7, pada bab yang membuatmu menangis di bazar buku."
Tama mencari buku itu di raknya, namun ia menemukannya di dalam sebuah kotak kayu terkunci milik Ana yang tertinggal di kontrakannya. Kotak itu tidak memiliki lubang kunci, melainkan celah kecil di sampingnya. Ia teringat ucapan Ana saat mereka menonton film detektif bersama: "Benda sekecil paper clip pun bisa jadi kunci kalau kamu tahu celahnya, Tama. Yang penting bukan kekuatannya, tapi ketenangannya."
Tama mengambil sebuah paper clip, meliukkannya dengan hati-hati ke dalam celah itu, meraba mekanisme pegas di dalamnya hingga terdengar bunyi—klik! Kotak terbuka. Di dalamnya, buku itu tersimpan rapi dengan aroma parfum mawar milik Ana yang masih tersisa tipis. Ia membuka halaman 65. Baris ke-8, kalimat ke-7. Sebuah kata tunggal terpampang di sana-RELA.
Tama mengetikkan kata itu. Sebuah tautan audio terkirim. Saat diklik, terdengar suara samar tawa Ana. Suara itu terasa seperti oase di padang pasir jiwanya.
***
Satu minggu berlalu tanpa satu pun pesan dari sang Anonim. Keheningan itu membuat Tama gelisah. Ia mulai menerka-nerka. "Gaya bahasanya... itu jelas Ana," batinnya bergejolak. "Tapi itu mustahil! Sadarlah, Tama! Dia sudah tiada. Tapi bagaimana jika ia sudah merencanakan ini? Scheduled message? Apakah itu kau, Ana? Apakah kau sedang memberiku pelajaran?"
Setelah satu minggu absen, seolah "Masa" memberinya waktu untuk merenung, pesan itu kembali datang.
> Anonim: "Lama menunggu? Rindu memang perlu diberi jeda agar kau menghargai pertemuan. Dengarkan lagu ke-8 di daftar putar 'Mentari Menari'. Apa kata pertama dan kalimat terakhirnya?"
Tama memutar playlist 'Mentari Menari' di ponselnya—daftar lagu yang mereka susun bersama untuk rencana perjalanan yang tak pernah terjadi. Ia mendengarkan lagu ke-8 dengan khidmat.
Kata pertama: "Thank you." Kalimat terakhir: "Sorry for you."
[Tama mengetik:Thank you and sorry for you]
Sebuah video terunduh. Wajah Ana muncul di layar dengan tatapan hangat, mengenakan baju perawat yang sama dengan hari itu, namun tanpa noda darah.
"Hai, Tama. Kalau kamu lihat video ini, artinya pesan terjadwal dari aplikasi 'Last Message' ini berhasil sampai. Maaf ya, aku curang, aku buat ini jauh-jauh hari karena aku tahu kita akan sangat sibuk tahun depan, dan aku ingin memberikan kejutan ulang tahun yang tak terlupakan."
Ana tersenyum kecil, matanya seolah menembus layar. "Tama... jangan mengurung diri lagi, ya? Aku tahu kau membenci perpisahan, tapi perpisahan bukan berarti aku hilang. Aku ada di setiap buku yang kamu baca, di setiap lagu yang kita putar. Maafkan dirimu sendiri, Sayang. Aku sudah memaafkanmu bahkan sebelum kejadian itu terjadi. Sekarang, hiduplah untukku juga. Janji?"
Layar menjadi hitam. Video itu terhapus otomatis, sesuai protokol aplikasi tersebut. Tama terkapar di lantai, tangisnya pecah sejadi-jadinya. Namun, kali ini beban setahun ini luruh bersama isakannya. Ia sadar, "Masa" yang berbicara padanya bukan ingin mengungkit luka, tapi menyembuhkannya.
***
Matahari pagi menyusup ke kamar Tama. Ia bangun, membasuh wajah, dan menatap foto Ana dengan senyum tipis. Ia meraih kunci kontrakan, membuka pintu yang selama ini lebih sering tertutup rapat, dan menghirup udara pagi dengan lega.
Langkahnya mantap menuju pemakaman. Di depan gundukan tanah itu terdapat nisan bertuliskan: Ana Berlin. Tama bersimpuh tanpa lagi merasa sesak. Ia mengusap batu itu pelan, membisikkan selamat tinggal yang jujur untuk pertama kalinya.
"Terima kasih, Na. Aku akan baik-baik saja. Terima kasih sudah mengajariku berdamai dengan waktu."
Tama bangkit dan melangkah pergi. Ia menyadari bahwa perpisahan bukan lagi monster, melainkan bagian dari perjalanan hidup. Hari itu, Tama benar-benar berdamai dengan kehilangan.