Pagi itu, aroma kopi yang biasanya menjadi jembatan damai di antara kami terasa hambar. Amarah masih mengendap di dada, menyisakan sesak yang sulit kusingkirkan. Sebuah kebohongan kecil—setidaknya begitu menurutnya, tapi bagiku itu adalah pengkhianatan kepercayaan—membuatku memilih untuk bungkam. Aku sengaja menyibukkan diri di dapur, membelakangi langkah kakinya yang berat.
Biasanya, ritual kami tak pernah putus: aku akan berdiri di ambang pintu, menyalaminya, dan melepas kepergiannya dengan doa hingga punggungnya hilang di tikungan jalan. Namun, hari itu pintu tetap tertutup. Aku membiarkannya memakai sepatu sendirian di teras.
"Sudah, Bun, marahnya... Ayah minta maaf ya," suaranya terdengar lirih dari balik pintu yang memisahkan kami.
Aku tak bergeming. Tak ada sahutan, tak ada lambaian tangan. Aku membiarkan ego memenangkan pagi itu.
Jam dinding seolah berputar lebih lambat. Hingga sore menjelang, perasaan gelisah mulai merayap. Saat suara motornya terdengar berhenti di depan rumah, aku masih berniat untuk memasang wajah dingin. Namun, saat pintu terbuka, pertahananku runtuh seketika.
Suamiku berdiri dengan wajah pucat pasi. Seragam kerjanya yang berwarna cerah kini berubah menjadi merah pekat yang lembap. Darah merembes hebat dari lengan sebelah kanan. Dengan tangan gemetar, aku berlari menyongsongnya.
"Ayah! Kenapa?" teriakku histeris.
Sambil meringis menahan nyeri, ia hanya tersenyum tipis. Saat aku membuka kancing bajunya dengan tangan yang basah oleh air mata, tampaklah balutan perban yang sudah jenuh dengan darah di atas luka yang baru saja dijahit. Ia mengalami kecelakaan di tempat kerja. Dalam diamnya menahan sakit, ia hanya menatapku seolah ingin memastikan bahwa aku masih ada di sana.
Malam itu, di samping tempat tidurnya, aku menangis sejadi-jadinya. Bukan karena luka di tangannya, melainkan karena bayangan mengerikan jika seandainya pagi tadi adalah percakapan terakhir kami. Bagaimana jika ia tak kembali dan kata terakhir yang ia dengar dariku hanyalah keheningan yang penuh amarah? Bagaimana jika pintu yang kututup pagi tadi tak pernah terbuka lagi?
Kejadian itu menjadi titik balik yang tertanam kuat dalam perjalanan kami. Sejak saat itu, kami berjanji: sedahsyat apa pun badai argumen atau perdebatan yang terjadi, semuanya harus tuntas sebelum lampu kamar dipadamkan. Kami tak lagi berani membiarkan matahari terbenam membawa sisa amarah.
Kini, dua belas tahun telah berlalu. Rambut mungkin mulai memutih dan kerutan mulai muncul, namun kami masih terus belajar. Belajar bahwa memaafkan bukan hanya tentang siapa yang salah, tapi tentang menghargai setiap detik keberadaan satu sama lain, karena kita tidak pernah tahu pintu mana yang akan menjadi perpisahan terakhir.