Gemericik air hujan di luar jendela kamar terasa seperti simfoni duka yang menemani isak tangisku setiap malam. Di rumah semegah ini, di bangunan dua lantai pemberian ibu mertuaku yang berdiri kokoh di kawasan elit, aku merasa seperti tawanan yang kelaparan di dalam istana emas. Namaku Arini, dan suamiku, Mas Yudha, adalah seorang CEO dengan beberapa pabrik yang beroperasi di bawah komandonya. Namun, gelar mentereng itu hanyalah pajangan bagiku.
Setiap tanggal satu, Mas Yudha akan meletakkan dua lembar uang seratus ribu sebanyak sepuluh lembar di atas meja rias. "Ini untuk sebulan. Atur yang benar, jangan boros," ucapnya dingin sebelum melenggang pergi dengan parfum mahalnya yang memenuhi ruangan. Dua juta rupiah. Untuk rumah sebesar ini, untuk kebutuhan bayi kami yang baru berusia delapan bulan, untuk listrik, bensin motor, bahan makanan, hingga popok. Sementara itu, aku tahu pasti bahwa semalam dia baru saja menghabiskan satu setengah juta hanya untuk sekali makan malam bersama teman-temannya di restoran steak ternama.
Rutinitasku adalah kerja paksa tanpa upah. Dari fajar menyingsing hingga tengah malam, aku mengurus rumah dua lantai ini sendirian. Mencuci, mengepel, memasak, dan menggendong bayi tanpa bantuan asisten rumah tangga karena Mas Yudha bilang itu pemborosan. Suatu siang, badanku tumbang. Kepalaku berdenyut hebat, asam lambungku naik hingga menyesakkan dada. Aku menggigil di atas kasur sambil memeluk bayiku yang menangis. Ketika Mas Yudha pulang dan melihat rumah berantakan, bukannya segelas air hangat yang kudapat, melainkan makian.
"Kamu itu lebay! Cuma ngurus rumah sama anak saja manja. Alasan saja sakit supaya nggak kerja!" teriaknya. Dia tidak menyentuh keningku untuk mengecek suhu tubuhku. Dia justru mengambil ponselnya, menelepon ibuku dengan nada kasar. "Bu, jemput Arini. Dia sakit-sakitan terus di sini, ngerepotin. Kalau Ibu nggak mau jemput, Arini saya antar balik ke rumah Ibu sekarang juga biar Ibu yang rawat!"
Hatiku hancur berkeping-keping. Sore itu, dia benar-benar mengantarku ke rumah orang tuaku seperti barang rongsokan, lalu dia pergi begitu saja untuk berkumpul dengan teman-temannya. Aku melihat unggahan di media sosial salah satu temannya malam itu. Mereka sedang tertawa terbahak-bahak. Mas Yudha baru saja membelikan salah satu temannya sebuah laptop seharga tujuh puluh juta rupiah untuk 'menunjang' usaha bersama mereka. Tak hanya itu, aku tahu dia juga baru saja menghadiahi teman lainnya sebuah motor XMax dan iPhone terbaru. Teman-temannya yang tidak mengeluarkan modal sepeser pun dalam usaha barunya itu diperlakukan bak raja, sementara aku, istrinya, harus mengirit uang dua juta rupiah dan mengendarai motor butut sambil menggendong bayi di bawah terik matahari.
Setiap malam di rumah ibuku, aku bersujud di atas sajadah yang basah oleh air mata. Aku tidak mengutuknya, aku hanya mengadu. "Ya Allah, Engkau Maha Melihat. Jika hamba belum cukup sabar, kuatkanlah. Jika ini adalah ujian, cukupkanlah." Aku merasa dikhianati bukan oleh orang ketiga, tapi oleh rasa setia kawan suamiku yang membabi buta. Dia royal kepada dunia, tapi kikir kepada darah dagingnya sendiri.
Kehancuran itu datang lebih cepat dari yang kubayangkan.
Beberapa bulan kemudian, badai menghantam. Usaha yang dibangun Mas Yudha bersama teman-temannya yang "manja" itu bangkrut total. Ternyata selama ini uang perusahaan dikorupsi oleh teman-temannya sendiri. Mereka lari meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama Mas Yudha. Pabrik-pabriknya mulai disita, dan satu per satu teman yang dulu dia manjakan dengan motor Vespa Primavera dan kemewahan, menghilang bak ditelan bumi. Ponsel mereka tidak aktif, rumah mereka kosong. Mas Yudha ditinggalkan sendirian menanggung beban gunung utang.
Stres yang luar biasa membuat kesehatan Mas Yudha ambruk. Dia terkena GERD kronis, persis seperti yang sering kualami dulu. Dia bolak-balik masuk rumah sakit karena serangan cemas dan nyeri lambung yang hebat. Di saat itulah, tak ada satu pun temannya yang datang menjenguk, bahkan sekadar mengirim pesan singkat pun tidak. Yang ada di samping tempat tidurnya hanyalah aku, istri yang pernah dia maki "lebay," dan bayi kami yang kini mulai belajar merangkak.
Suatu malam di bangsal rumah sakit yang sederhana, Mas Yudha terbangun dan melihatku sedang menghitung sisa uang di dompet untuk membeli obatnya. Dia tiba-tiba turun dari tempat tidur, luruh ke lantai, dan bersujud di kakiku. Isakannya pecah, bahunya berguncang hebat. "Maafkan aku, Arini... Maafkan aku. Aku bodoh, aku tuli, aku buta. Aku membuang berlian demi kerikil tajam," rintihnya sambil mencium kakiku. Dia menangis tersedu-sedu, mengakui segala kesalahannya selama ini.
Sejak hari itu, Mas Yudha berubah total. Kesombongannya luruh bersama harta yang hilang. Kami memulai segalanya dari nol. Dia melepaskan egonya dan bekerja keras di sebuah perusahaan kecil milik kerabat jauhnya. Kini, seluruh gajinya diserahkan kepadaku tanpa sisa. "Kamu yang pegang, aku percaya kamu lebih tahu mana yang prioritas," katanya dengan tatapan tulus. Kami hidup sangat sederhana, mencicil utang sedikit demi sedikit setiap bulannya. Meski tidak ada lagi rumah dua lantai yang mewah atau makan malam jutaan rupiah, ada kedamaian yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Dia kini lebih banyak di rumah, membantu menjaga anak, dan setiap kali dia melihatku kelelahan, dia akan memelukku dan berkata, "Istirahatlah, biar aku yang selesaikan." Allah menjawab doaku bukan dengan menambah harta, tapi dengan mengembalikan hati suamiku yang sempat hilang.