Ranti seorang ibu rumah tangga sekaligus seorang penulis amatir, yang mencoba terjun didunia literasi satu tahun ini. Terjun sebagai penulis otodidak tidak mudah bagi seorang Ranti. Ia memiliki seorang suami dan tiga orang anak. Dua laki laki dan satu orang perempuan.
Anak anak Ranti hanya berbeda usia lima dan dua tahun jaraknya, masih perlu bimbingan ektra dari kedua orang tua karena masih masa tubuh kembangnya ditentukan oleh kualitas orang tua dalam mendidik. Hanya saja saat ini tidak seperti awal awal pernikahan sampai genap lima tahun pernikahan. Ranti diuji habis habisan.
Suami Ranti sudah berkali kali resign entah alasannya apa, rasanya sudah bosan Ranti mendengarnya. Mungkin saat sebelum menikah dengan mas Bimo Ranti masih memakluminya. Tapi tidak saat itu, saat dimana kebutuhan luar biasa banyaknya.
Seiring berjalannya waktu, Ranti masih mencoba menerima kondisi finansial sang suami yang dulu seorang kepala cabang maupun seorang manager perusahaan tapi tidak untuk saat ini. Sekarang Bimo hanya menghabiskan waktu menonton drama, siangnya baru keluar untuk narik orderan.
Pilihannya mas Bimo saat itu adalah sebagai driver online kendaraan roda dua. Dari yang awalnya pertama kali ia dapat hanya dua ribu rupiah dan memberikannya kepadaku. Aku diam mas Bimo hanya tersenyum tidak ada pertengkaran saat itu. Hanya sekedar lucu, saja terbiasa menerima gaji berjuta juta. Kini untuk mendapatkan berapa rupiah saja harus berkeliling kota dulu.
Ku syukuri saat itu, berapa pun aku terima dengan sepenuh hati, asalkan yang mas Bimo dapat adalah hasil kerja keras yang halal. Sejak dulu Ranti tidak pernah banyak mengeluh ingin membeli apapun yang diluar kemampuan suaminya.
Namun seiring berjalannya waktu, semakin hari mas Bimo berubah sikap pada Ranti. Ada saja pelampiasan ketika ia telat membayar ini dan itu selalu Ranti yang dijadikan tameng emosinya.
Ranti harus menerima segala cacian, hinaan, bulyan maupun segala kata sarkas yang keluar dari lidah tajamnya.
Hubungan keduanya tidak seirama seperti saat mereka baru pertama kali berumah tangga. Sifat asli keluar di pernikahan yang ke sepuluh tahun. Terus suami lakukan.
Ia memang tidak pernah memukul atau bertindak kasar secara fisik namun mental Ranti?,.. seolah Ranti seorang istri yang sekuat baja dalam menelan semuanya sendirian.
Ada beberapa kalimat yang begitu menghujam menusuk hatinya. Saat pertengkaran terjadi. Hanya karena hal sepele, berujung do'a tidak baik seperti sumpah serapahnya.
Saat itu Ranti sedang tidak enak badan, ia tidak mau banyak mengeluh. Rasanya suaminya sudah cukup tau kondisi Ranti tidak sekuat dulu dalam mengerjakan pekerjaan rumah.
Tidak ada angin tidak ada hujan, suaminya itu uring uringan tidak jelas, seperti itulah jika ia belum dapat juga orderan, ataupun banyak ditagih hutang piutang.
Ranti sendiri bukan seorang istri yang hanya manggut-manggut ketika suami salah lalu hanya mengucapkan sumpah serapahnya mendoakan yang tidak baik untuk suaminya. Tidak sama sekali.
Bahkan dalam sembah sujudnya ia hanya ingin dibukakan mata hati suaminya agar bisa menjadi seorang imam yang baik untuknya dan ketiga anak anaknya.
Ranti seorang yang jika ia tidak suka maka ia katakan tidak suka, dan menjelaskan pada Bimo kenapa dan alasannya.
Yang ia inginkan hanyalah komunikasi yang baik antara suami dan istri. Tapi tidak bagi Bimo. Acapkali ia memutuskan segala sesuatu ia lebih nyaman dengan kakaknya, apapun itu keduanya selalu yang memutuskan seolah tidak menganggap adanya Ranti istrinya sendiri.
Ranti seolah dianggap angin lalu, menyebabkan Ranti muak dan tidak nyaman tinggal satu atap dengan suaminya sendiri.
Hubungan keduanya semakin retak sudah tidak bisa diperbaiki lagi, namun mereka masih tetap tinggal satu rumah hanya pisah ranjang. Satu yang Ranti alasannya bertahan adalah ketiga anaknya.
Suatu hari Ranti seharian dikamar, sekujur tubuhnya menggigil begitu dahsyat, ia diam, tak ingin mengeluh. Ia ambil selimut tebal lalu ia pakai sendiri. Sambil tidur ia meraih ponselnya mengecek grup WhatsApp dan ia pun terbiasa meneruskan karya yang belum selesai.
Namun ada saja kendala yang terjadi, bomo tiba tiba datang dengan wajah yang masam. Aku hanya diam dikamar, pekerjaan rumah masih aku abaikan karena kondisi tubuhku yang tidak baik baik saja saat itu.
Seperti biasa Bimo hanya menyindir dan menyindir, meracuni anak anakku seolah untuk membenci ibunya sendiri. Sungguh Ranti tidak habis pikir akan hal itu.
"Bang, kalo bukan ayah yang nyari duit siapa lagi. Dari kemarin hutang ayahpun uwamu yang bantu, mana ada yang mau bantu kita kalo kita susah." Celetukan pedas mas Bimo pada anak pertama Jihan namanya.
Anak anak hanya diam tidak ingin ikut campur hanya fokus menonton, namun pikiran dan hati mereka merekam sikap maupun kata kata yang terlontar dari kedua orang tuanya saat itu.
"Rumah berantakan, berasa jadi duda ayah mah Han, nyonya enak enakan berasa kayak tuan putri ngejedok aja dikamar, sibuuukk teros sama hape."
Ranti hanya diam, terus diam berusaha abai, namun semakin abai semakin Mas Bimo menjadi.
Saat Ranti hendak mengambil kabel hanya tersenggol sedikit saja, ia langsung membentak dan melontarkan kata kata tajamnya.
"Elo ga liat gua lagi makan hah, bisa entar dulu enggak, bego banget sih lo!, enggak di didik ya sama emak lo."
"Aku cuma mau ambil kabel sebentar saja mas, emang salah,.. nanti kalo kabel enggak dicopot dikira boros listrik lagi." Jawab Ranti saat itu.
Tak ingin ada keributan dari nada bicara Ranti, namun respon dari sang suami sungguh diluar dugaan, kata kata sarkas terus keluar yang berakhir dengan ucapan
*MAU ELO SIBUK DENGAN TULISAN ELO ITU SEMUA!, GA AKAN PERNAH BIKIN ELO SUKSES, TULISAN ELO ITU KUTUKAN TAU NGGAK!, SUDAH GUE KUTUK GA AKAN PERNAH ADA YANG BACA SAMA TULISAN ELO ITU"
Bukan hanya sekali, Suami Ranti melontar kan kata kata sesarkas itu. Sungguh sakit hati Ranti berkali lipat.
Ranti hanya diam, bukan diam karena merasa kalah dan menyerah. Tapi diamnya Ranti terus berusaha mencari ide agar segala sumpah serapah do'a yang tidak baik untuknya yang terlontar dari lidah tajam suaminya itu berbalik menjadikan do'a mujarab kesuksesannya suatu saat nanti.
Ia percaya, do'a istri yang terzalimi akan langsung menembus langit. Namun berusaha tak ingin menangis lagi, tetap saja air mata Ranti lunruh juga. Ia menamgis sejadi jadinya dibawah guyuran air saat tengah malam ia paksa tubuhnya untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan mencuci pakaian yang sudah ia rendam sebelumnya berember ember tanpa bantuan mesin cuci.
Semua ia kerjakan secara manual tanpa banyak mengeluh lagi, ia hanya berdoa dalam hatinya semoga suatu saat Tuhan mendengar do'anya agar diberikan jalan keluar atas segala permasalahannya.
"Aaargh" teriak Ranti dikamar mandi.
"Gue harus sukses, gue capek diginiin, gue capek, mau tulisan gue jelek sekalipun gue ga mau nyusahin siapapun, cuma ini satu satunya yang gue bisa. Gue mau kerja apa sementara kerja diluar ga boleh, anak anak sama siapa kalo gue kerja. Cuma ini satu satunya gue bisa lepas dari rumah tangga toksik ini." Ucap Ranti masih dibawah guyuran air keran sambil tangannya tak berhenti mencuci.
Seolah langit mendengar do'a Ranti saat itu, satu Minggu berlalu, lama Ranti tak tengok platform dan ia mengerjapkan kedua netranya.
"Seriusan ini view gue meledak, Alhamdulillah yallah"
Mengecek saldo rekeningnya pun sungguh takjub luar biasa, pada akhirnya Ranti bisa hidup mandiri, dan menggugat cerai suaminya.
Sementara Bimo hanya bisa menunduk rapuh, merasa malu atas segala perkataannya pada Ranti.
Selesai