Doha, Qatar
Di bawah bayang-bayang gedung pencakar langit West Bay, aku berdiri menatap debu padang pasir yang tak pernah benar-benar hilang. Aku, Ucank, seorang cleaner (petugas kebersihan) yang bertugas membersihkan kemewahan yang tak pernah kumiliki. Tapi hari ini, tak ada deterjen yang cukup kuat untuk menghapus noda di hatiku.
"Bloody hell, Rrion... I’m still feeling the same pain, lah," bisikku pada angin Shamal yang panas.
[Cinta di Pelataran Parkir]
Semuanya dimulai di sebuah pelataran parkir pusat perbelanjaan mewah. Rrion, seorang penjaga parkir dengan seragam kusam namun senyum yang dulu kurasa tulus. Kami adalah dua jiwa kecil di tengah kota raksasa. I thought we were a team, mate. Aku membersihkan ruangan, dia menjaga kendaraan, dan kami membangun mimpi dari sisa-sisa gaji yang kami kumpulkan.
Tapi Qatar punya cara untuk menggoda jiwa yang lemah. Rrion mulai berubah sejak dia mengenal Umr.
[Jeratan Bisnis Gurita]
Umr bukan wanita biasa. Dia adalah pengusaha sukses, pemilik Bisnis Gurita yang menggurita di seluruh pasar Souq Waqif. Dia punya segalanya—kekuasaan, uang, dan pengaruh. Seperti namanya, bisnisnya punya tentakel yang bisa menarik siapapun ke dalam pusarannya, termasuk Rrion.
Aku melihat mereka, Rrion yang kini berpakaian necis, berdiri di samping Umr di sebuah gala dinner eksklusif. Rrion tak lagi menjaga parkir; dia kini menjadi "pajangan" di samping sang ratu gurita. It was so sickening, lah.
Aku mencoba melabraknya, tapi apa dayaku? Aku hanya Ucank, si tukang bersih-bersih. Di depan mataku sendiri, Umr membelai wajah Rrion dengan tatapan kemenangan, sementara Rrion berpura-pura tidak mengenalku.
[Penderitaan yang Sama]
Malam ini, aku duduk di pojok gudang alat pembersihku . Wajahku tampak berantakan, bukan karena pukulan fisik, tapi karena luka batin yang terus terbuka kembali. Setiap kali aku melihat Rrion di berita atau di jalanan dengan mobil mewahnya, rasa perih itu kembali. The same bloody pain.
"You know, Umr," gumamku sambil menatap cermin yang retak. "Your business might have many arms, but you'll never have his soul. Not like I did."
Tiba-tiba Rrion muncul di pintu belakang gudang. Dia datang bukan untuk minta maaf, tapi untuk memintaku pergi dari Qatar agar tidak merusak reputasi barunya.
"Ucank, please... don't be so dramatic," ucap Rrion dengan aksen Qatar-British yang dipaksakan. "Umr gave me a life. You only gave me dust. Just leave Doha, lah."
[Debu yang Takkan Hilang]
Aku tertawa, sebuah tawa yang pecah menjadi isak tangis. Aku mengambil plester dan menempelkannya di pipiku, sebuah simbol bahwa aku mencoba menutupi luka yang sebenarnya takkan pernah sembuh.
"I will leave, Rrion," balasku dengan nada paling dingin. "But remember this. Debu Doha ini akan selalu ada di sepatumu, tak peduli seberapa mahal karpet yang kau injak di rumah Umr. Dan penderitaan yang aku rasakan sekarang? Suatu saat, kau akan merasakannya saat tentakel gurita itu mulai menjerat lehermu sendiri."
Aku berjalan pergi, meninggalkan Rrion di tengah kepulan debu. Aku masih Ucank, si pembersih. Dan mulai hari ini, aku akan membersihkan namamu selamanya dari hidupku.