St. Petersburg, Rusia.
Salju di luar jendela klub Bolshoi malam ini terasa lebih hangat dibanding hatiku. Aku, Ceuh, seorang penyanyi pop yang baru saja merintis mimpi di panggung megah ini, terduduk lemas di lantai kayu panggung yang kini kosong. Lembaran lirik lagu cinta yang kutulis dengan darah dan air mata berserakan di sekitarku, tak lagi berarti.
"Bloody hell... I gave you my voice, my soul, and you gave me this icy silence, lah," bisikku, suaraku parau tertelan sisa-sisa bising musik yang mulai meredup.
[Sang Bos dan Cincin yang Sia-sia]
Umbaz adalah calon tunanganku. Dia seorang bos klub malam paling berpengaruh di Rusia, pria yang bicara dengan aksen British yang sangat posh namun memiliki aura sedingin musim dingin Siberia. Dia menjanjikanku mahkota, menjanjikanku perlindungan.
"Ceuh, you are my winter star, my only melody," katanya dulu sambil memberikan janji-janji manis di bawah sinar bulan.
Aku percaya. Aku bernyanyi hanya untuknya, memberikan setiap nada ketulusanku untuk pria yang kupikir akan menjadi masa depanku. Tapi bagi pria seperti Umbaz, satu melodi indah ternyata tidak pernah cukup.
[Irama Pengkhianatan]
Malam ini, sesaat sebelum konser besarku berakhir, aku berniat memberi kejutan di ruangan privatnya. Namun, kejutan itu justru menghantam wajahku dengan kenyataan yang paling sumbang. Di sana, Umbaz—pria yang seharusnya melamarku minggu depan—sedang berpesta dengan sang pemain disco klubnya sendiri.
Wanita itu bukan penyanyi pop yang lembut sepertiku. Dia liar, dia bising, dia adalah "irama baru" yang dicari Umbaz.
Mereka bahkan tidak merasa malu saat aku masuk. Umbaz hanya menatapku dengan mata dinginnya sambil menyesap vodka. "Ceuh, don't be so dramatic, lah. A man in my position needs more than one woman to keep the night alive," ucapnya tanpa rasa bersalah sedikit pun. "You are my classical song, but she... she is my midnight beat."
[Luruh di Atas Lirik]
Aku berlari keluar, tapi kakiku lemas. Aku jatuh di tengah panggung. Lirik lagu yang kubuat khusus untuk hari pertunangan kami kini terinjak-injak di bawah kakiku sendiri. Aku mencoba memungutnya, tapi tanganku gemetar hebat. Ternyata, bagi pria yang rakus akan variasi, satu hati yang tulus tidak akan pernah cukup untuk memuaskan egonya.
"Is it fun, Umbaz?!" teriakku ke arah kegelapan. "Is it fun making me a puppet in your bloody harem? You slapped me with your greed, and now my song is dead!"
[Menutup Tirai]
Aku memungut satu lembar kertas lirik yang tersisa, meremasnya kuat-kuat. Aku menatap lurus ke depan dengan mata yang kini mati rasa, sedingin salju Rusia di luar sana.
"Keep your club, Umbaz. Keep your disco girl," gumamku dengan aksen Rusia-ku yang mulai kembali tajam. "Reality slapped me hard today, but it also set me free. Tonight, the pop star stops singing for you. Because a man who needs a thousand women doesn't deserve even one second of my song."
Malam ini di Rusia, Ceuh yang malang sudah mati. Yang tersisa hanyalah perempuan yang sadar bahwa harga dirinya tidak untuk dibagi dengan siapa pun, apalagi dengan pria pecundang yang tak tahu cara menghargai satu kesetiaan.