Marina Bay Area, Singapura.
Tangan ini kasar, selalu berbau sabun murah dan sisa lemak makanan. Aku, Wesszh, menghabiskan dua belas jam sehari di dapur restoran yang pengap, mencuci ribuan piring kotor hanya untuk mengumpulkan setiap dollar demi masa depan yang kupikir ada. Tapi malam ini, di bawah lampu jalanan yang dingin, aku sadar bahwa masa depan itu hanyalah ilusi yang kubangun dengan keringatku sendiri.
"Bloody hell... I gave you everything, and you treated me like absolute rubbish, lah," bisikku sambil memeluk botol wine yang seharusnya kita buka bersama malam ini.
[Keringat untuk Meja Judi]
Bapen adalah pacarku. Pria berlidah manis yang bekerja di kasino internasional besar. Dia selalu tampak gagah dengan seragam jasnya, sangat kontras denganku yang selalu berlumuran air cucian. Aku sangat mencintainya, sampai aku rela menyerahkan kartu ATM-ku padanya. Katanya, "Sayang, let me manage our savings, for our wedding, can or not?"
Bodohnya aku. Aku percaya pada janji manisnya. Aku tidak tahu bahwa di balik dinding kasino yang mewah itu, Bapen adalah pria hidung belang yang gila judi. Uang hasil kerjaku membanting tulang, dia habiskan di meja judi dan aplikasi judol sampai lunas tak tersisa.
[Siaggk—Pembersih yang Merebut Segalanya]
Malam ini adalah ulang tahun hubungan kami. Aku memakai gaun putih terbaikku, membawa mawar merah dan wine mahal—hasil lemburku tiga bulan. Aku ingin memberi kejutan di belakang kasino tempatnya bekerja. Namun, kejutan itu justru menghantam wajahku dengan sangat keras.
Di lorong belakang yang sepi, aku melihat Bapen. Dia sedang tertawa, merangkul mesra Siaggk, seorang pekerja cleaning service di kasino itu. Pakaiannya biasa, tapi tatapannya padaku sangat penuh kemenangan.
"Oh, Wesszh... what are you doing here, ah?" tanya Bapen dengan nada dingin, tanpa rasa bersalah sedikit pun. "Go home-lah, you look messy. Malu I kalau kawan kasino nampak you macam ni."
Siaggk tersenyum sinis sambil memegang ponsel Bapen yang menunjukkan layar aplikasi judi yang sedang terbuka. "You don't know, ah? Your 'Bapen' just lost five thousand last night. And I'm the one who comforted him, not you with your stinking dish soap hands."
[Kehancuran di Pinggir Jalan]
Duniaku runtuh. Aku mencoba mengecek saldo bank lewat ponselku, dan hasilnya: Nol. Semua tabunganku, semua hasil jerih payahku mencuci piring, telah dia "makan" untuk judi dan bersenang-senang dengan Siaggk.
Aku ditampar oleh kenyataan begitu keras. Aku lari sekuat tenaga, tersandung, dan luruh di pinggir jalan yang gelap. Aku duduk di sana, di samping botol wine yang tak berarti lagi. Mawar di tanganku kini terasa seperti ejekan atas kebodohanku sendiri.
"Whose money you use for your gamble, ah, Bapen?!" teriakku ke arah langit Singapura yang mendung. "I wash the plates of strangers just to put food on your table, and you give it to that woman?!"
[Meneguk Pahitnya Sadar]
Aku menuangkan wine itu ke gelas dengan tangan yang gemetar. Aku meneguknya, membiarkan rasa pahitnya membakar kerongkonganku—tapi tak sepahit kenyataan bahwa pria yang kucintai adalah seorang pecundang yang tidak punya harga diri.
"Cheers to my stupidity," gumamku dengan aksen Singlish yang pecah. "Reality slapped me hard today, but it also woke me up. You want that cleaning lady and your debt, Bapen? Take it. Because from now on, I will only wash the filth of my life, starting with YOU."
Malam ini, Wesszh yang polos sudah mati. Yang tersisa hanyalah perempuan yang sadar bahwa harga dirinya jauh lebih mahal daripada cinta yang bisa dibeli dengan kartu ATM.
Tangan yang mencuci kotoran dunia, tak sanggup membasuh kotornya sebuah pengkhianatan."