Chandni Chowk, Delhi, India.
Debu dari jalanan Delhi selalu membuat tenggorokanku kering, tapi tak sekering hatiku saat ini. Aku, Nien, hanyalah seorang penjual tisu di pinggir jalan raya yang bising. Aku menjual kebersihan bagi orang lain, sementara hidupku sendiri dikotori oleh pengkhianatan pria yang paling aku percaya.
"I am too good, no? Too kind for my own good, lah," bisikku sambil menggenggam sisa dagangan tisuku yang kumal.
[Sang Agen yang Mata Keranjang]
Gogok adalah kekasihku. Dia bekerja sebagai agen travel kecil-kecilan di dekat stasiun kereta. Dia menjanjikan orang-orang perjalanan ke Taj Mahal, tapi dia sendiri sedang merencanakan perjalanan "gelap" di belakangku.
Meskipun dia sudah memilikiku yang selalu sabar dan memberikan segalanya, mata Gogok tetap saja "gatal". Dia tidak bisa melihat kain sari yang melambai sedikit saja tanpa menoleh. Dan "penyakit" matanya itu menemukan sasarannya pada Cuuk.
[Gelembung Palsu di Air Mineral]
Cuuk adalah karyawan di sebuah pabrik air mineral kemasan. Dia punya senyum yang terlihat murni seperti produk yang dia jual, tapi aslinya penuh kuman tipu daya. Gogok mulai sering menghilang dengan alasan "mengurus visa turis", padahal dia sedang asyik membelikan pani puri untuk Cuuk di sudut kota yang sepi.
Aku tahu semuanya. Aku melihat mereka tertawa di balik kerumunan sapi dan bajaj yang riuh. Tapi karena aku "terlalu baik", aku hanya diam. Aku membiarkan diriku dirantai oleh rasa sayang yang berlebihan. Aku pikir, jika aku terus bersabar, Gogok akan kembali. But I was wrong, very wrong, my friend.
[Rantai yang Tercekik]
Suatu hari, aku melihat Gogok memberikan kalung emas tipis kepada Cuuk—kalung yang selama ini aku tabung uangnya dari hasil jualan tisu setiap hari. Air mataku jatuh, tapi bibirku tetap terbungkam.
"Nien, why you look so sad, eh?" tanya Gogok saat pulang malam itu dengan bau parfum Cuuk yang menyengat. "I am working hard for our future, you know? Don't be so suspicious, lah."
Aku menatapnya dengan tatapan kosong. Rantai di leherku rasanya semakin mencekik. "You call her 'future', Gogok? While I am just your 'tissue' that you use and throw away when I'm dirty?"
[Melepaskan Ikatan]
Gogok terdiam, dia tidak menyangka si "Nien yang baik hati" bisa bicara setajam itu. Cuuk muncul dari balik bayangan, tertawa meremehkan. "Look at her, Gogok. She is just a tissue seller. I am clear like mineral water. You deserve better than this poor girl."
Aku memegang rantai di leherku, lalu menariknya dengan kuat sampai tanganku memerah. Aku menyadari satu hal di tengah hiruk-pikuk India yang gila ini: Menjadi terlalu baik adalah cara tercepat untuk menghancurkan diri sendiri.
"Keep your mineral water, Gogok," ucapku dengan nada paling tegas. "I may sell tissues, but today, I am wiping you out of my life forever. Go travel to hell with your new girl, lah!"
Aku berbalik dan berjalan menembus debu Delhi. Nien yang terlalu baik sudah mati. Yang tersisa hanyalah perempuan yang akhirnya tahu cara menghargai dirinya sendiri.