Beijing, Tiongkok.
Salju tipis mulai turun di atas atap-atap Forbidden City, tapi di dalam dadaku, sebuah luka lama baru saja robek kembali dengan cara yang sangat kasar. Aku, Sofin, berdiri di depan cermin, menatap wajahku yang tak lagi utuh. Luka ini bukan karena benda tajam, melainkan karena janji yang dikhianati di bawah langit Beijing yang kelabu.
"Bloody hell, Areden... you said we were forever, lah," bisikku, suaraku parau tertelan angin musim dingin.
[Perpisahan yang Menjadi Racun]
Semuanya dimulai saat Areden mendapatkan tawaran kerja di perusahaan teknologi besar di distrik Haidian. Kami harus terpisah jarak. Aku mendukungnya, mengirimkannya doa setiap malam agar kariernya melesat. I was so proud of him, mate.
Tapi jarak ternyata bukan sekadar kilometer, melainkan celah bagi orang lain untuk masuk. Di tempat kerja barunya, Areden bertemu dengan Nelse. Nelse adalah tipe wanita yang sangat sophisticated, fasih berbahasa Mandarin dan Inggris dengan nada yang sangat merendahkanku.
[Pengkhianatan di Balik Meja Kantor]
Aku berniat memberikan kejutan, datang dari jauh hanya untuk melihat wajahnya. Namun, kejutan itu justru menghantamku balik. Di sebuah restoran fine dining di pusat Beijing, aku melihat Areden. Dia tidak sedang lembur seperti yang dikatakannya lewat pesan singkat.
Dia sedang tertawa, menyuapkan Peking Duck ke mulut Nelse. Tatapannya pada Nelse adalah tatapan yang dulu hanya milikku. It was so sickening, lah.
Aku berlari keluar, tersandung di tengah keramaian jalanan Beijing yang sibuk. Aku jatuh, wajahku menghantam aspal yang dingin hingga berdarah. Tapi rasa sakit di wajahku tidak ada apa-apanya dibanding rasa hancur saat menyadari bahwa aku hanyalah masa lalu yang ia tinggalkan demi masa depan yang lebih "berkelas".
[Luka yang Terbuka Kembali]
Areden menemukanku di gang gelap, masih dengan darah yang mengalir di pipiku. Dia menatapku, tapi tidak ada penyesalan di matanya. Hanya ada rasa malu karena aku terlihat "berantakan" di depan dunianya yang baru.
"Sofin, please... don't be so dramatic," ucap Areden dengan aksen British-nya yang kaku. "Nelse is just... she understands my world now. You? You're still stuck in the past, lah."
Nelse muncul di belakangnya, menatapku dengan pandangan menghina. "Oh dear, look at you. So messy. Maybe you should stay in your small town, Sofin. Beijing is too cold for a fragile jade like you."
[Dendam di Tengah Salju]
Aku berdiri perlahan, membiarkan darah mengering di wajahku. Aku tidak menangis lagi. Hatiku sudah membeku bersama salju Beijing.
"You're right, Nelse," ucapku dengan nada yang paling dingin. "Beijing is cold. But my heart? My heart is now colder than this city. Areden, you didn't just leave me. You opened a wound that will never close. And one day, you'll find that even the finest technology cannot fix a soul that you've shattered."
Aku berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan mereka di bawah lampu kota yang gemerlap. Sofin yang dulu penuh cinta sudah mati malam ini. Yang tersisa hanyalah The Bleeding Jade—sebuah luka yang akan selalu terbuka sampai dendam ini terbayar lunas.