Lagos, Nigeria Afrika
Debu merah dari pabrik ban di ujung jalan selalu mengotori jendela kelas PAUD-ku. Aku, Poola, menghabiskan hari-hariku mengajar anak-anak kecil tentang kejujuran, tanpa menyadari bahwa hidupku sendiri sedang dibangun di atas fondasi kebohongan yang busuk.
"Oya, Geriks... why you do this to me, brother?" bisikku pada angin yang berhembus panas. "True-true, I thought you were my sanctuary, lah."
Geriks bekerja di pabrik ban "Benan". Bau karet terbakar selalu menempel di kulitnya. Dia datang padaku enam bulan lalu, bersumpah demi langit Afrika bahwa dia adalah pria single yang kesepian. Aku percaya. I poured my soul into him, man.
[Rahasia di Balik Rambut Kepang]
Aku tak pernah tahu tentang Vitex. Dia adalah wanita "orang jauh", tinggal di pedalaman yang jarang terjamah. Vitex adalah pemilik "Salon Rambut Kepang". Katanya, Vitex memiliki pandangan mata yang sangat sayu, seolah dia memikul beban seluruh dunia di pundaknya.
Aku tak pernah bertemu dengannya. Geriks menyembunyikannya dengan sangat rapi, seperti menyembunyikan bangkai di bawah pasir gurun. Sampai suatu hari, sebuah surat salah alamat sampai ke tanganku. Surat cinta dari Vitex untuk suaminya... Geriks.
"My husband, Geriks... the kids miss you at the salon," tulisnya.
Duniaku runtuh. Hatiku pecah berkeping-keping di atas lantai semen kelas PAUD-ku.
[Kehancuran di Tangga Beton]
Malam itu, aku melabraknya di belakang pabrik. Geriks tidak membela diri. Dia hanya berdiri di sana, dikelilingi ban-ban bekas, menatapku dengan dingin.
"She is my wife, Poola. It is what it is," ucapnya datar dengan aksen Afrika-nya yang berat. "Don't be so dramatic, lah. You're just a teacher, you should know life isn't a fairy tale."
Aku terjatuh. Kepalaku menghantam tangga beton, dan luka di wajahku mulai mengeluarkan darah. Tapi perih di pipiku tak sebanding dengan perih di dadaku. Geriks meninggalkanku tergeletak di sana, sendirian di bawah bayang-bayang pabrik yang dingin.
[Sumpah Sang Guru]
Sambil merangkak di atas semen yang kasar, aku menatap langit malam yang kelam. Darah mengalir di sela-sela mataku. Aku bukan lagi Poola yang lemah lembut mengajar anak-anak. Aku adalah perempuan yang dikhianati.
"Listen to me, Geriks!" teriakku, suaraku parau bercampur isak tangis. "By the ancestors of this land, I swear! Keturunanmu akan menerima karmanya! Suatu saat nanti, anak cucumu akan merasakan perih yang lebih tajam dari apa yang aku rasakan malam ini!"
Aku mencengkeram tanah dengan kuku-kukuku. "Darahku yang tumpah di sini akan menjadi kutukan bagi garis keturunanmu. You lied to a woman of God, Geriks. And the earth never forgets!"
[Dendam yang Mengendap]
Geriks tetap pergi tanpa menoleh. Dia kembali ke Vitex, kembali ke salon rambut kepang itu. Tapi aku tahu, kutukanku sudah mengudara bersama debu pabrik ban.
Aku tergeletak di sana, tertawa dalam tangis. Karena aku tahu, di Afrika, ketika seorang wanita yang teraniaya bersumpah di atas tanah merah, semesta akan mulai bekerja.
"The debt will be paid, Geriks. Even if it takes a hundred years, your bloodline will bleed for my tears."