Dili, Timor Leste.
Lantai panggung kayu di sanggarku biasanya terasa hangat, tapi malam ini, setiap langkah balet yang kuambil terasa seperti menginjak pecahan kaca. Aku, Iffe, seorang penari balet yang hidupnya hancur tepat saat tirai baru saja dibuka.
"Fair dinkum, I’m just a bloody rebound, aren't I?" bisikku sambil menatap cermin, menghapus riasan panggung yang bercampur dengan air mata.
Aku berutang budi besar pada Karon. Dialah yang menanggung biaya operasiku saat aku hampir kehilangan kemampuan menari karena kecelakaan. Karon adalah pengukir laser tato yang hebat di Dili. Mesin lasernya bisa menghapus tinta di kulit orang lain, tapi dia tak pernah bisa menghapus bayang-bayang Rumam dari hatinya.
Rumam, si bos SPA mewah yang punya pengaruh besar di kota ini. That woman is like a ghost that never leaves.
[Janji yang Hangus dalam Semalam]
Kemarin, Karon memintaku menjadi kekasihnya di bawah patung Kristus Raja. Aku bahagia? Tentu. I thought I finally had a home. Tapi kebahagiaan itu hanya bertahan kurang dari dua puluh empat jam.
Malam ini, aku berniat memberi kejutan ke studio tatonya. Tapi di sana, aku justru melihat pemandangan yang menghancurkan jiwaku. Di restoran privat tepat di sebelah studionya, Karon sedang melakukan romantic dinner. Lilin menyala, wine tertuang, dan tangannya... tangannya sedang menggenggam jemari Rumam.
"Are you kidding me, mate?" gumamku dari kejauhan, tersembunyi di balik pilar tua. "We just got together YESTERDAY, and you're already back in her arms?"
[Penjara Bernama Balas Budi]
Aku ingin berteriak. Aku ingin melabrak mereka dan merobek kemunafikan itu. Tapi kakiku kaku. Aku teringat tagihan rumah sakit yang ia lunasi. Aku teringat bagaimana dia memegang tanganku saat aku tidak bisa berjalan.
Aku terjebak. I’m stuck between heartache and gratitude.
Aku pulang ke apartemenku dengan langkah gontai. Aku mengambil boneka pemberiannya, memeluknya erat seolah itu adalah satu-satunya bagian dari Karon yang benar-benar jujur. Wajahku memar oleh rasa kecewa, bibirku pecah oleh emosi yang kutahan sendiri.
[Monolog di Balik Luka]
Karon pulang larut malam itu, aroma parfum Rumam masih menempel di jaket kulitnya. Dia mencoba mencium keningku, seolah-olah dia baru saja pulang dari kerja keras.
"How was your day, darling?" tanyanya dengan nada tanpa dosa.
Aku menatapnya dengan tatapan kosong yang dalam. "My day was... enlightening, Karon. Enlightening."
"What's with the face, Iffe? You look like you’ve seen a bloody ghost," candanya sambil tertawa kecil.
"I did see a ghost, Karon. I saw the ghost of your past eating dinner with you tonight," jawabku tenang, namun setiap kata mengandung belati.
Karon terdiam. Wajahnya pucat pasi. Tapi aku tidak pergi. Aku tetap di sana, di sampingnya, menjalani hubungan yang sekarang terasa seperti neraka. Aku mencintainya? Mungkin. Tapi rasa sakit karena hanya menjadi pelampiasan bagi pria yang belum selesai dengan masa lalunya jauh lebih besar daripada rasa syukurku.
[Tarian yang Terpaksa]
Malam ini di Dili, bulan bersinar terang di atas laut. Tapi di dalam kamarku, aku sedang menarikan balet paling menyedihkan dalam hidupku. Menari dalam paksaan, mencintai dalam keterpaksaan.
"You saved my legs, Karon. But you killed my soul."