Phnom Penh, Kamboja.
Aroma minyak goreng dari dapur KFC di Monivong Boulevard seolah sudah meresap sampai ke tulangku. Aku, Syalie, hanyalah seorang pekerja shift malam yang seringkali dipandang sebelah mata oleh ekspatriat yang berlalu-lalang.
Malam ini, aku terduduk di sofa bututku , masih memakai headband merah muda pemberian seseorang yang dulu aku anggap segalanya.
"I’m just a bloody puppet, aren't I?" gumamku sambil menatap layar ponsel yang tak kunjung berkedip. "Cuma bahan mainan buat orang-orang 'high class' macam mereka."
[Janji Palsu Sang Tambang]
Semuanya dimulai dengan Oong. Dia adalah seorang Mining Manager—seorang manajer tambang yang punya kuasa atas ribuan ton tanah, tapi hatinya ternyata lebih kotor dari debu tambang itu sendiri. Oong menjanjikanku dunia. Dia bilang dia akan membawaku keluar dari aroma ayam goreng ini dan menjadikanku ratu di rumahnya.
Tapi, bloody hell, setelah dia merasa bosan, dia kabur begitu saja. Dia ghosting aku tanpa jejak, meninggalkan aku yang hancur di tengah hiruk-pikuk Phnom Penh.
[Pahlawan Kesiangan dari Toko Alat Mandi]
Lalu muncullah Kiyok. Dia adalah manajer distributor alat mandi—pria yang selalu wangi sabun mahal dan bicara dengan aksen yang sangat sophisticated. Dia datang saat aku sedang berada di titik terendah.
"Don't cry, Syalie darling," ucap Kiyok waktu itu sambil merapikan rambutku. "Oong was absolute rubbish. Dia nggak tahu cara menghargai permata sepertimu. Let me take care of you. Aku akan mencuci semua luka itu sampai bersih."
Aku jatuh lagi. I was so naive, mate. Aku pikir Kiyok adalah pelabuhan terakhir, ternyata dia hanyalah ombak yang lebih licin yang siap menghempaskanku ke batu karang.
[Pesan yang Menghancurkan]
Malam ini, rahasia itu terbongkar. Sebuah notifikasi masuk ke ponselku—pesan nyasar dari grup chat yang isinya membuat duniaku runtuh seketika. Nama grupnya: "The Executive Club".
Di sana ada percakapan antara Oong dan Kiyok.
Oong: "Gimana 'proyek' KFC kita, Kiyok? Masih nangisin aku dia?"
Kiyok: "Mate, she’s so easy! Cukup kasih perhatian dikit dan wangi sabun, dia langsung nempel. Taruhan kita buat dia jatuh cinta padaku dalam sebulan... I won, man! Kamu utang satu unit Rolls-Royce padaku."
Tanganku gemetar. Aku melempar ponselku. Jadi, kaburnya Oong adalah bagian dari rencana? Mereka bertaruh? Aku bukan kekasih bagi mereka, aku hanyalah sebuah 'proyek' hiburan untuk mengisi waktu luang para manajer kaya ini.
[Sendirian di Bawah Lampu Phnom Penh]
Aku menyeka air mata dengan kasar. Rasanya perih sekali. Ternyata binar lampu kota Phnom Penh yang indah dari jendela apartemen Kiyok hanyalah ilusi. Aku sendirian sekarang. Oong hilang dengan tambangnya, Kiyok pergi dengan egonya yang tinggi.
"You thought I was just a KFC girl that you could play with?" aku bicara pada sunyi. "Well, maybe I am just a worker. Tapi setidaknya aku punya hati yang nyata, bukan plastik seperti kalian."
Malam ini, Syalie tidak lagi menunggu balasan pesan. Aku melepaskan headband merah muda itu dan membuangnya ke tempat sampah. Besok pagi, aku akan kembali ke KFC, menggoreng ayam, dan membangun hidupku sendiri—tanpa manajer mana pun yang menganggap hatiku sebagai mainan.
"The game is over, boys. And you both lost your soul."