Labuan Bajo, NTT Indonesia
Malam di Labuan Bajo itu literally freezing. Angin lautnya nusuk sampai ke tulang, tapi dadaku rasanya jauh lebih sesak. Aku, Asra, duduk di antara tumpukan bubble wrap dan lakban di gudang "Asra’s Glow-Up Store". Toko online shop kosmetikku lagi booming banget, tapi jujur ya, apa gunanya bank account penuh kalau hatiku totally empty?
"I mean, look at me. I’m like... never loved, man. Not for real," bisikku sambil natap layar HP yang penuh notifikasi pesanan, tapi nggak ada satu pun chat manis dari orang yang aku sayang.
Di luar jendela, aku bisa liat lampu dermaga yang shimmering. Dan di sana, di balik mobil patroli polisi yang parkir, aku liat Pieser. That guy. Dia masih pakai seragam polisinya, kelihatan gagah banget, tapi dia lagi ketawa bareng Narimar. Gosh, Narimar is such a show-off. Dia itu penerjemah bahasa asing yang baru pindah ke Bajo. Gayanya sok sophisticated, selalu pakai bahasa Inggris yang perfect biar kelihatan lebih pinter dari aku yang cuma "penjual skincare online".
[Scene: The Confrontation at the Shop]
Pieser tiba-tiba masuk ke tokoku, aroma parfumnya yang maskulin kecampur sama bau laut.
"Hey, Asra. Still packing late? You're such a girlboss, huh?" tanya Pieser dengan aksen American-nya yang deep tapi sekarang kerasa fake banget. "Listen, Narimar needs some high-end sunscreen for her field trip tomorrow. Can you just... give it to me? Put it on my tab, okay?"
Aku berhenti melakban paket. Aku natap dia, bener-bener speechless. "Are you for real, Pieser? Kamu datang ke sini cuma buat minta barang gratisan buat... selingkuhan kamu?"
Pieser ngerutin dahi, mukanya berubah jadi defensive. "Whoa, chill out, babe! Why are you so salty? Narimar is just a colleague. Dia butuh bantuan karena dia baru di sini. Don't be so insecure-lah."
"Insecure?" aku ketawa pahit, suaraku mulai gemetar. "I saw you guys at the harbor, Pieser. I saw how you looked at her. Kamu nggak pernah natap aku kayak gitu. To you, I’m just 'Asra yang jualan online'. I’m just a convenience, aren't I? Someone who’s always here, tapi nggak pernah benar-benar dicintai."
[The Climax: The Blue Katarsis]
Tiba-tiba Narimar masuk ke toko, gayanya sangat annoying. "Pieser, what's taking so long? Oh, hi Asra. Still working? You know, in French, we call people like you 'acharné'. It means... workaholic. But sometimes, people work because they have nothing else to love, right?"
Darahku mendidih. Dia ngerendahin aku pakai bahasa asingnya. Aku ngerasa kayak sampah di depan mereka berdua. Aku pengen teriak, tapi suaraku hilang. Aku butuh sesuatu buat wake me up dari mimpi buruk ini.
Aku ambil botol air mineral dingin yang ada di atas meja packing. Sambil natap mata Pieser yang kelihatan bingung, aku buka tutupnya dan... splash. Aku guyur seluruh kepalaku sendiri. Air dingin itu ngalir deras ke muka, ke rambutku, sampai ke baju kerjaku.
Rasanya so freaking good. Dinginnya air itu seolah ngebasuh semua rasa "tak dicintai" yang selama ini bikin aku sesak.
"What the heck, Asra?! Are you out of your mind?!" teriak Pieser, completely shocked.
"Yeah, I’m out of my mind. Out of YOUR mind too," balasku sambil ngusap air dari mataku. Suaraku sekarang datar, dingin, dan deadly. "Mulai detik ini, my heart is officially out of stock for you. Go translate your lies to Narimar. I’m done being your second choice."
Narimar cuma muterin bola matanya. "Let's go, Pieser. This place is getting wet and pathetic anyway."
[Ending: The New Asra]
Mereka pergi, ninggalin aku sendirian di tengah gudang yang sunyi dan basah. Aku berdiri di sana, basah kuyup di bawah lampu neon biru yang estetik. Labuan Bajo di luar sana mungkin penuh orang yang lagi nyari paradise, tapi di sini, aku akhirnya nemuin surgaku sendiri: Harga Diri.
Aku nggak butuh dicintai sama polisi kayak Pieser yang nggak punya loyalitas. Karena malam ini, aku mutusin buat jadi my own favorite person. Besok pagi, aku bakal upload produk baru dengan caption: "Glow up isn't just about skincare, it's about leaving the trash behind."