Lebuh Armenian, Penang Malaysia
Hujan turun dengan ritme yang melankolis, membasahi jalanan berbatu yang dipenuhi mural tua. Di dalam "Cassia’s Heritage Marionette", aroma kayu cendana dan cat minyak tua terasa begitu pekat. Aku, Cassia, duduk di sudut galeri yang remang, jemariku yang halus sedang menjahit gaun sutra mini untuk sebuah anak wayang yang baru setengah jadi.
"Bloody hell," gumamku saat jarum itu menusuk ujung telunjukku. Setetes darah merah muncul, menodai kain sutra putih itu. Persis seperti hatiku yang ternoda sejak pengkhianatan itu terungkap.
Aku melirik ke arah jendela besar yang langsung menghadap ke jalanan. Di seberang sana, terpampang papan nama neon yang angkuh: "Azman’s Prestige Cars". Itu adalah showroom kereta mewah milik Azman, lelaki yang dulu bersumpah akan menjadi pillar of my strength, namun kini malah membangun tembok duri di antara kami. Aku sering melihatnya dari sini—sosoknya yang charming saat memoles body Rolls-Royce, namun jiwanya ternyata tak lebih dari mesin rongsokan yang haus pelumas baru.
Dan "pelumas" itu adalah Diane.
Diane bukan seorang sosialita. Dia adalah koki di sebuah kedai nasi biryani ternama milik keluarga di ujung jalan. That woman. Dia selalu berbau rempah kari yang tajam dan uap bawang, namun entah bagaimana, Azman yang terobsesi dengan kemewahan malah bertekuk lutut di bawah sendok sayurnya.
[Lonceng pintu berdenting. Chime.]
Udara lembap Penang merangsek masuk saat pintu terbuka. Azman melangkah masuk dengan setelan jasnya yang sangat sharp, diikuti oleh Diane yang mengenakan gaun murah yang berusaha terlihat mahal. Pemandangan itu sangat ridiculous.
"Afternoon, Cassia," sapa Azman. Suaranya masih terdengar begitu posh, tipikal pria yang terlalu lama sekolah di London. "I... we... need a special gift. Sesuatu yang 'authentic' untuk hiasan di kantor baruku."
Aku tidak mendongak. Aku terus menarik benang pada anak sayang kayu di tanganku. "Authentic, you say? Agak ironis ya, Azman. Kamu datang ke toko anak wayang untuk mencari sesuatu yang nyata, padahal hidupmu sendiri penuh sandiwara."
Diane melangkah maju, tangannya yang kasar—yang mungkin baru saja mengaduk kuah dal—mencoba menyentuh koleksi anak wayang tertua di rak. "Cantik ya, Man. Like a real person," ucapnya dengan aksen yang dipaksakan.
"Don't touch that, Diane," potongku tajam. Aku berdiri, menatap mereka berdua dengan tatapan yang bisa membekukan Selat Melaka. "Itu koleksi warisan. Anak wayang ini punya jiwa, tidak seperti hubungan kalian yang hanya didasari rasa lapar sesaat."
[Puncak Ketegangan]
Azman tampak gelisah. "Look, Cass. Don't be so dramatic. Diane is... she’s different. She makes me feel 'grounded'. Tidak seperti kamu yang selalu hidup dalam dunia khayalan anak- anak wayangmu ini."
Aku tertawa, sebuah tawa yang terdengar sangat hollow. "Grounded? You mean she feeds you curry while I fed your soul? Go on then. Buy your 'grounded' happiness with a woman who smells like turmeric."
Aku mengambil sebuah anak wayang kayu yang wajahnya mirip dengan Azman—yang dulu kubuat dengan penuh cinta. Dengan gerakan lambat, aku mengambil gunting perak dan memotong tali kendali (strings) boneka itu satu per satu di depan mata mereka. Snap. Snap. Snap.
"The strings are broken, Azman. You’re no longer under my care," ucapku dengan aksen British yang dingin. "Take your chef and your shiny cars. Pergi dari galeri ini sebelum aku mengubah kalian berdua menjadi pajangan kayu yang tidak punya harga diri."
Diane tampak tersinggung, wajahnya merah padam. "You're absolutely mad, Cassia!" teriaknya.
"No, darling. I'm just 'enlightened'," balasku sambil menunjuk pintu. "Get out. Dan Azman, jangan pernah menginjakkan kaki di sini lagi. Showroom keretamu mungkin luas, tapi toko kecilku ini terlalu sempit untuk menampung pengkhianatanmu yang menjijikkan."
Saat mereka pergi dan lonceng berdenting untuk terakhir kalinya, aku kembali duduk. Aku menatap anak wayang yang talinya sudah putus itu. Aku adalah perempuan luka, benar. Tapi di tangan seorang puppet master sepertiku, luka hanyalah bahan dasar untuk membuat mahakarya yang lebih kuat.