Sejak masa SMA, Soyool Park dikenal sebagai pria yang dingin, pendiam, dan sulit didekati. Ia seperti tembok es yang tak bisa ditembus siapa pun. Di balik sikap tegasnya, tersimpan beban besar: tanggung jawab sebagai pewaris Park Corporation, perusahaan besar milik keluarganya.
Dunia baginya sederhana bekerja keras, mencapai target, dan menjaga nama baik keluarga. Tidak ada ruang untuk cinta, tidak ada waktu untuk perasaan.
Namun hidupnya berubah ketika takdir mempertemukannya dengan seorang gadis bernama Lee Yuna gadis ceria dengan senyum yang bisa mencairkan hati siapa pun.
Hari itu, koridor utama Park Corporation terasa sibuk. Para karyawan berjalan cepat, membawa berkas-berkas penting. Di tengah kesibukan itu, Yuna yang baru saja datang sebagai perwakilan Han Group untuk proyek kerja sama berjalan sambil membaca dokumen, tak sadar langkahnya mengarah ke seseorang.
Bruk!
Berkas di tangannya berhamburan, dan suara kertas berjatuhan memenuhi lantai.
“Oh! Maaf, aku tidak lihat arah” ucap Yuna panik sambil berjongkok memunguti kertas.
Sosok tinggi di depannya diam, menatapnya tajam. “Lain kali, lihat jalanmu.”
Nada dingin itu membuat Yuna menatapnya dan untuk beberapa detik, dunia seperti berhenti.
Tatapan mata hitam tajam itu milik Soyool Park, CEO muda yang terkenal dingin dan tak tersentuh.
Wajahnya sempurna, tapi ekspresinya datar.
Namun bagi Yuna, di balik dinginnya itu ada sesuatu kesepian yang entah kenapa terasa akrab.
“Baik, aku akan hati-hati,” kata Yuna lembut sambil tersenyum, mencoba mencairkan suasana.
Soyool hanya mengangguk dan berjalan pergi, tapi langkahnya sempat terhenti.
Ia menatap sekilas ke arah Yuna gadis itu tersenyum sambil mengikat rambutnya kembali.
Entah kenapa, senyum itu menempel di pikirannya lebih lama dari yang ia kira.
Beberapa hari kemudian, takdir kembali mempertemukan mereka. Yuna datang ke ruang rapat besar Park Corporation sebagai delegasi utama Han Group.
Soyool, yang awalnya hanya ingin menjalankan rapat biasa, mendadak merasa gugup.
Yuna menyampaikan presentasi dengan penuh semangat, menyebut ide-ide segar yang membuat seluruh ruangan kagum. Soyool diam memperhatikan bukan karena isi presentasinya saja, tapi karena cara Yuna berbicara: tulus, hidup, dan percaya diri.
Seusai rapat, Yuna menghampirinya.
“Terima kasih sudah mau bekerja sama dengan Han Group, Tuan Park,” ucapnya sopan.
Soyool menatap tangannya yang terulur, lalu menjabatnya singkat. “Kerja samanya akan sulit. Aku harap kamu siap.”
Yuna tersenyum lagi. “Aku suka tantangan.”
Jawaban itu membuat Soyool untuk pertama kalinya tanpa sadar tersenyum tipis.
Hari-hari berikutnya diisi dengan pertemuan bisnis, diskusi proyek, hingga makan siang bersama tim. Awalnya mereka hanya bicara soal pekerjaan, tapi perlahan, pembicaraan mereka mulai ringan.
“Kenapa kamu selalu serius sekali?” tanya Yuna suatu sore.
Soyool menatapnya datar. “Aku terbiasa begitu.”
“Kalau kamu terus seperti itu, hidupmu bisa membosankan,” ujarnya sambil tertawa kecil.
Dan untuk pertama kalinya, Soyool ikut tertawa suara yang bahkan membuat seluruh tim terkejut.
Namun, di balik senyum ceria Yuna, tersimpan luka lama.
Keluarganya tidak harmonis. Dua pamannya dan satu bibinya selalu iri padanya karena sang nenek lebih mempercayainya untuk memimpin Han Group di masa depan.
Mereka menebar fitnah, menganggap Yuna hanya berpura-pura baik demi warisan.
Yuna tak pernah menceritakan hal itu pada siapa pun sampai suatu malam, Soyool menemuinya menangis diam-diam di taman belakang kantor.
“Kenapa kamu di sini sendirian?” tanyanya pelan.
Yuna menggeleng. “Kadang… aku cuma capek harus terlihat kuat terus.”
Soyool menatapnya lama, lalu meletakkan jasnya di bahu Yuna. “Kalau kamu butuh tempat untuk diam, aku bisa jadi tempat itu.”
Malam itu menjadi titik balik hubungan mereka.
Dari dua orang asing yang terikat oleh pekerjaan, menjadi dua jiwa yang saling memahami tanpa banyak kata.
Kabar kedekatan mereka mulai tersebar.
Keluarga besar Park menentang hubungan itu, menganggap Yuna hanya ingin memanfaatkan nama besar Park Corporation.
“Dia dari keluarga yang sedang goyah, Soyool,” kata paman Soyool. “Dia akan menyeretmu jatuh.”
Soyool tidak menjawab, tapi pikirannya terguncang.
Ketika proyek besar antar dua perusahaan tiba-tiba gagal karena sabotase, semua tuduhan mengarah ke pihak Han Group.
Tekanan media, dewan direksi, dan keluarganya membuatnya goyah.
Yuna menatapnya dengan mata berkaca.
“Kamu tidak percaya aku?”
Soyool terdiam lama. “Aku… aku ingin percaya. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana.”
Air mata Yuna jatuh. “Kalau cinta butuh bukti, mungkin aku bukan orang yang bisa kamu cintai.”
Ia pergi malam itu, meninggalkan Soyool dalam ruang kantor yang terasa lebih dingin dari biasanya.
Hari-hari berlalu tanpa Yuna.
Soyool kembali seperti dulu dingin, tertutup, dan hidup hanya untuk bekerja.
Tapi setiap kali melihat taman di belakang kantornya, ia teringat senyum Yuna.
Suatu malam, sekretarisnya datang membawa berkas investigasi: hasil penyelidikan pribadi Soyool akhirnya membuktikan bahwa proyek itu disabotase oleh paman Yuna sendiri orang yang selama ini ingin menjatuhkannya.
Tanpa pikir panjang, Soyool mengambil mobil dan melaju menembus hujan deras.
Ia berhenti di depan rumah Yuna, basah kuyup, dan mengetuk pintu berulang kali.
Pintu terbuka. Yuna terkejut melihatnya berdiri di sana.
Soyool memeluknya erat tanpa kata.
“Aku bodoh,” ucapnya serak. “Aku seharusnya percaya padamu. Aku tahu sekarang, kamu tidak bersalah.”
Tangis Yuna pecah di dadanya. Ia memeluk balik tanpa perlu kata maaf, karena cinta mereka sudah cukup menjelaskan segalanya.
Beberapa bulan kemudian, hubungan mereka kembali membaik.
Soyool melamar Yuna di taman kecil tempat mereka dulu pertama kali bertemu.
“Aku tidak bisa menjanjikan hidup yang mudah,” katanya lembut, “tapi aku berjanji tidak akan berhenti mencintaimu.”
Yuna mengangguk dengan mata berkaca. “Aku tidak butuh hidup yang mudah. Aku hanya butuh kamu.”
Namun ujian datang lagi di hari lamaran.
Bibi Yuna datang membawa dokumen palsu yang menuduh Yuna memalsukan tanda tangan sang nenek. Semua tamu terdiam.
Soyool menatap Yuna dulu ia akan diam, tapi kali ini tidak.
Ia maju, berdiri di samping Yuna.
“Cukup,” katanya tegas. “Aku sudah kehilangan dia sekali karena kebohongan orang lain. Aku tidak akan mengulanginya lagi.”
Ia menunjukkan bukti investigasi bahwa dokumen itu palsu hasil kerja sama dengan detektif pribadinya.
Kebenaran terungkap. Wajah bibi dan pamannya memucat di depan semua tamu.
Nenek Yuna meneteskan air mata dan memeluk cucunya erat.
Beberapa bulan kemudian, pernikahan mereka digelar sederhana namun hangat.
Langit musim semi cerah, bunga sakura bermekaran di taman tempat semuanya bermula.
Soyool mengenakan setelan hitam, Yuna mengenakan gaun putih sederhana indah dalam kesederhanaan.
Saat semua tamu pulang, mereka duduk di taman yang sama.
“Lucu ya,” kata Yuna sambil tersenyum, “semua ini berawal dari tabrakan kecil.”
Soyool menggenggam tangannya. “Mungkin Tuhan memang sengaja menabrakkanmu padaku. Kalau tidak, aku masih jadi pria beku tanpa arah.”
Yuna tertawa pelan. “Dan sekarang?”
“Sekarang,” jawab Soyool lembut, “aku punya alasan untuk hidup kamu.”
Matahari sore menyinari wajah mereka, hangat dan damai.
Di tengah semilir angin, dua hati yang pernah hancur kini menyatu kembali.
💖 Epilog — Cinta yang Menyembuhkan
Setelah menikah, Han Group dan Park Corporation bergabung menjadi satu.
Mereka memimpin bersama Yuna dengan kehangatannya, Soyool dengan ketegasannya.
Dunia bisnis menyebut mereka pasangan sempurna, tapi bagi mereka, kesempurnaan bukan tentang kekuasaan melainkan keberanian untuk saling percaya, bahkan ketika dunia meragukan.
Dan di balik setiap keberhasilan mereka, selalu ada pelukan, tawa kecil, dan doa yang sama:
“Semoga cinta kita selalu menjadi rumah, bukan luka.”