Hujan gerimis sore itu turun dengan lembut di halaman sekolah. Di balik jendela kelas, Alya, gadis berwajah manis dengan rambut hitam tergerai, duduk sambil menatap lapangan yang mulai kosong. Hatinya penuh perasaan yang tak pernah ia ungkapkan perasaan kepada , siswa kelas 12 yang selalu tampak tenang dan sopan, sosok yang diam-diam membuat dadanya berdebar setiap kali ia lewat di koridor.
Alya bukan tipe yang mudah bicara. Ia pemalu, terlalu sering merasa tidak cukup baik dibanding gadis-gadis lain. Namun setiap kali Raka tersenyum, seakan dunia menjadi lebih hangat baginya.
Hari itu, sebelum kelulusan, Alya memberanikan diri menulis surat dan menyelipkannya di buku catatan Raka di perpustakaan. Isinya sederhana “Aku menyukaimu, sejak pertama kali kamu menolongku waktu jatuh di tangga. Semoga kamu bahagia, walau aku tak bisa bersamamu.”
Namun takdir berkata lain. Keesokan harinya, kabar beredar bahwa Raka akan berangkat ke luar negeri mengikuti orang tuanya. Alya tak sempat mengatakan apa pun secara langsung. Ia hanya bisa melihat punggung Raka menjauh di antara kerumunan, sementara hujan kembali turun, menutupi air mata yang tak sempat ia hapus.
Dua Tahun Kemudian
Universitas baru, wajah baru, suasana baru. Alya sudah jauh lebih dewasa, tapi di dalam hatinya, nama Raka masih tersimpan rapi di sudut paling dalam.
Suatu pagi, saat ia berjalan ke perpustakaan kampus, seseorang menepuk pundaknya pelan.
“Alya?” suara itu... begitu familiar.
Ia menoleh, dan waktu seolah berhenti.
“Raka?” ucapnya pelan, tak percaya. Pria itu tersenyum, masih dengan sorot mata hangat yang sama seperti dua tahun lalu.
“Aku kira kamu udah lupa aku.”
Sejak hari itu, mereka sering bertemu lagi mengerjakan tugas bersama, makan siang di kantin, atau sekadar berbincang di taman kampus. Tapi semakin dekat, semakin Alya merasa dirinya kecil. Ia melihat Raka yang kini populer, pintar, dan dikelilingi banyak orang. Ia mulai berpikir... mungkin ia memang tidak pantas di sampingnya.
Maka, perlahan Alya mulai menjauh. Ia berhenti membalas pesan, menghindar di kampus, dan menolak ajakan bertemu. Tapi Raka bukan tipe yang menyerah.
Suatu sore, ia datang ke depan rumah Alya, membawa sebuah buku lusuh buku catatan yang dulu pernah Alya selipkan surat di dalamnya.
“Aku baru sempat baca surat ini kemarin,” ucapnya pelan. “Ternyata kamu sudah menyukaiku sejak SMA.”
Alya menunduk, wajahnya memerah.
“Aku malu… aku cuma gadis biasa, Raka. Kamu pantas sama yang lebih baik.”
Raka tersenyum kecil, lalu membuka halaman terakhir buku itu. Di sana, ada tulisan tangannya sendiri.
“Untuk Alya gadis yang diam-diam aku kagumi sejak SMA.”
Alya terkejut.
“Jadi... kamu juga...?”
“Iya,” jawab Raka mantap. “Sejak dulu. Dan sekarang, aku nggak mau kehilangan kamu lagi.”
Hujan kembali turun sore itu, sama seperti hari perpisahan mereka dulu. Bedanya, kini mereka berdiri di bawah satu payung, tersenyum, dan saling menggenggam tangan.
Karena cinta yang tulus... selalu menemukan jalannya, meski harus menunggu waktu yang lama untuk bertemu kembali.