Ketahuilah, kawan, cahaya adalah barang mewah yang sudah lama bangkrut.
Jangan bayangkan cahaya seperti lampu neon di kafe-kafe estetik tempat kalian dulu mengunggah foto kopi susu mahal. Bukan. Cahaya yang aku maksud adalah harapan yang masuk akal. Di negeri ini, di sisa-sisa peradaban yang kita sebut rumah ini, kegelapan bukan lagi tamu. Ia adalah pemilik sertifikat tanah, penguasa tunggal atas paru-paru kita, dan hakim yang memutuskan kapan kita boleh memejamkan mata.
Namaku Bara. Nama yang ironis untuk seseorang yang hidup di dunia yang sudah kehilangan apinya.
Aku berdiri di atas reruntuhan gedung pencakar langit yang kini tak lebih dari tumpukan gigi beton yang patah. Di bawah sana, kota ini seperti mesin raksasa yang mati kehabisan oli. Gelap. Senyap. Hanya ada deru angin yang membawa debu industri dan bau besi berkarat. Inilah negeri yang kalian impikan dulu, bukan? Negeri tanpa aturan, tanpa sekat, tanpa otoritas. Masalahnya, kalian lupa satu hal: tanpa cahaya, kebebasan hanyalah nama lain dari tersesat berjamaah.
"Bar, sisa baterai litium kita tinggal dua persen," suara itu datar. Apatis.
Itu Lira. Ia duduk di pojok ruangan sambil memeluk lutut. Wajahnya yang dulu mungkin cantik, kini hanya berupa siluet pucat di balik masker respirator. Di tangannya, sebuah senter kecil meredup, berkedip-kedip seperti jantung yang sedang mengalami sakaratul maut.
Dua persen. Dalam kamus generasi kami, dua persen adalah vonis mati. Tanpa daya listrik, kita tidak punya pemurni air. Tanpa daya, kita tidak punya pelindung suhu. Tanpa daya, kita kembali menjadi binatang yang merangkak di gua-gua beton, menunggu predator yang lebih besar datang menjemput.
"Simpan saja, Lira. Matikan," kataku tanpa menoleh.
"Buat apa disimpan? Besok juga matahari tidak akan menembus kabut jelaga ini. Kita hanya menunda gelap yang permanen," balasnya. Nadanya tidak sedih. Tidak juga marah. Hanya... kosong.
Itulah ciri khas kami, generasi yang tumbuh di sela-sela reruntuhan. Kami adalah penganut utopia yang gagal. Kami dulu percaya bahwa dunia bisa diselamatkan dengan petisi online dan tagar di media sosial. Kami pikir, dengan meneriakkan kebenaran dari balik layar gawai, es kutub akan berhenti mencair dan perang akan usai.
Betapa naifnya. Sekarang, gawai-gawai itu hanya menjadi lempengan logam tak berguna yang kami pakai untuk mengganjal pintu.
Aku berjalan menuju tepian balkon yang retak. Di kejauhan, aku melihat kilatan api. Bukan api unggun yang hangat, melainkan ledakan pipa gas yang bocor di Sektor 7. Tidak ada petugas pemadam kebakaran. Tidak ada polisi. Hanya ada kepulan asap hitam yang menyatu dengan langit yang tak pernah lagi berwarna biru.
"Kau tahu, Bar," Lira berujar lagi, suaranya teredam masker. "Dulu orang-orang tua kita takut pada kegelapan karena mereka pikir ada hantu di dalamnya. Mereka takut pada hal-hal yang tidak ada."
Aku terkekeh sinis. Sebuah tawa yang kering. "Dan sekarang kita takut pada cahaya, karena cahaya memperlihatkan hal-hal yang benar-benar ada. Cahaya memperlihatkan betapa hancurnya tempat ini. Cahaya memperlihatkan bahwa tidak ada lagi makanan di gudang. Cahaya memperlihatkan bahwa teman kita kemarin sudah tidak bernapas lagi."
Kami bertahan bukan karena kami kuat. Kami bertahan karena kami tidak punya pilihan lain. Inilah bentuk pertahanan paling menyedihkan: bertahan tanpa alasan.
Di dunia yang porak-poranda ini, generasi muda sepertiku dipaksa menjadi dewasa sebelum sempat memiliki cita-cita. Kami tidak pernah ditanya ingin jadi apa. Kami hanya dipaksa tahu cara menyambung kabel, cara menyaring air seni menjadi air minum, dan cara bersembunyi dari faksi-faksi penjarah yang menganggap nyawa manusia lebih murah daripada sekaleng kornet kedaluwarsa.
Lira bangkit berdiri. Langkah kakinya berat, menyeret sol sepatu yang sudah tipis. Ia berdiri di sampingku, menatap kosong ke arah cakrawala yang legam.
"Bar, apakah kau masih ingat warna hijau?" tanyanya tiba-tiba.
Aku terdiam. Hijau. Sebuah kata yang terasa seperti bahasa asing kuno. Aku mencoba menggali ingatan di kepalaku yang sudah penuh dengan instruksi bertahan hidup. Hijau... ah, ya. Warna daun di buku pelajaran sekolah dasar yang sudah terbakar. Warna hutan yang kini sudah berganti menjadi ladang panel surya yang pecah.
"Hijau itu mitos, Lira. Sama seperti keadilan dan kesejahteraan. Itu hanya dongeng yang dibuat orang-orang masa lalu agar mereka bisa tidur nyenyak sebelum mereka menghancurkan semuanya," kataku ketus.
Lira diam. Senternya benar-benar mati sekarang. Kegelapan total menyergap kami. Hanya ada suara napas kami yang berat melalui filter respirator. Syuuh... ffuuh... syuuh... ffuuh.
Dalam kegelapan itu, indra lain menjadi tajam. Aku bisa merasakan getaran dari tanah—mungkin sebuah ledakan jauh di bawah sana. Aku bisa mencium bau asam yang tajam. Dan aku bisa merasakan ketakutan Lira, meski ia mencoba menyembunyikannya di balik suara datarnya.
"Ayo masuk, Bar. Angin malam ini beracun," ajaknya.
Kami kembali ke dalam ruangan, meraba-raba dinding beton yang dingin. Kami tidur di atas tumpukan kain rombeng, menunggu pagi yang tidak akan pernah benar-benar terang.
Tahukah kalian apa yang paling menyakitkan dari hidup di negeri porak-poranda? Bukan kelaparan. Bukan penyakit. Tapi hilangnya imajinasi. Kami tidak bisa lagi membayangkan masa depan. Masa depan bagi kami adalah sepuluh menit ke depan. Masa depan adalah jika paru-paru ini masih bisa menghisap udara tanpa tersedak debu.
Kami adalah generasi yang kehilangan "cahaya" jauh sebelum lampu-lampu kota benar-benar padam. Kami kehilangan cahaya saat kami berhenti peduli. Kami kehilangan cahaya saat kami menganggap penderitaan orang lain hanyalah statistik di layar. Dan sekarang, alam semesta memberikan apa yang kami minta: kegelapan yang utuh.
Pagi datang dengan warna abu-abu monokrom. Aku terbangun karena suara batuk Lira yang hebat. Ia memegang dadanya. Filter maskernya sudah berubah warna menjadi hitam pekat. Itu tandanya karbon sudah memenuhi saringannya. Dan kami tidak punya cadangan lagi.
Lira menatapku. Matanya sayu. "Bar... aku lelah berlari di kegelapan."
Aku tidak menjawab. Aku hanya memegang tangannya yang kasar. Aku ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku ingin mengatakan bahwa di balik bukit sana ada sebuah lembah yang masih hijau dan bercahaya. Tapi aku bukan penulis novel fantasi. Aku adalah Bara, seorang pemuda apatis di negeri yang sudah tamat.
"Tidurlah, Lira," bisikku. "Di dalam tidur, tidak ada kegelapan. Di sana kau bisa melihat warna hijau sepuasmu."
Lira tersenyum kecil—sebuah pemandangan langka yang terasa sangat utopis di tengah kehancuran ini. Ia perlahan memejamkan mata. Napasnya melambat, hingga akhirnya berhenti.
Aku duduk di samping jasadnya selama berjam-jam. Tidak ada tangisan. Air mata terlalu berharga untuk dibuang secara sia-sia di dunia yang kekurangan cairan. Aku hanya merasa kosong. Satu lagi "baterai" di hidupku telah habis.
Aku berdiri, mengambil tas punggungku yang hampir kosong. Aku harus terus berjalan. Bukan karena aku punya tujuan, tapi karena berhenti berarti membiarkan kegelapan menang terlalu cepat.
Aku melangkah keluar dari gedung itu, menuju jalanan yang penuh dengan rongsokan mobil. Aku tidak tahu ke mana aku pergi. Sektor Utara? Sektor Selatan? Semuanya sama saja. Semuanya adalah fragmen dari sebuah mimpi buruk yang nyata.
Ketahuilah, kawan, jika kalian masih bisa melihat matahari hari ini, jangan anggap itu biasa. Jika kalian masih bisa menyalakan lampu dengan sekali tekan, jangan anggap itu hak istimewa. Karena suatu saat, cahaya akan lelah pada kalian. Ia akan pergi, meninggalkan kalian dengan semua utopia kosong yang kalian bangga-banggakan.
Aku terus berjalan, membelah kabut asap Isfahan yang kini tak lebih dari kuburan massal. Di tanganku, aku menggenggam senter Lira yang sudah mati. Aku tidak membuangnya. Aku hanya ingin mengingat bahwa dulu, pernah ada satu titik kecil cahaya yang mencoba bertahan di negeri yang porak-poranda ini.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ribuan tahun dari sekarang, seseorang akan menemukan jasad kami dan bertanya-tanya: Bagaimana mereka bisa bertahan begitu lama tanpa sedikit pun cahaya?
Jawabannya sederhana: kami tidak bertahan. Kami hanya terlambat mati.