Zaman ini telah gila, dan kita adalah pasien-pasien yang memuja perawat yang meracuni kita. Lihatlah sekelilingmu! Di sebuah kota yang dibangun dari beton dan kepalsuan—mungkin Jakarta, atau mungkin neraka yang sedang menyamar—hiduplah seorang pemuda bernama Ardan. Ia adalah pemahat citra, seorang pendekar di medan laga media sosial yang hidup dari detak jantung likes dan tarikan napas followers.
Ardan tinggal di sebuah apartemen studio yang luasnya tak seberapa, namun harga sewanya sanggup membungkam mulut sepuluh guru honorer. Di sana, ia mengurung diri bersama ring light yang ia anggap sebagai matahari, dan kamera yang ia sembah sebagai Tuhan. Baginya, kenyataan hanyalah bahan mentah yang harus dipoles, diedit, dan diberi filter hingga hilang jati dirinya.
Namun, ada sesuatu yang busuk di apartemen nomor 404 itu.
Sudah tujuh malam, sebuah aroma aneh menyeruak dari balik tembok kamarnya. Itu bukan bau sampah yang lupa dibuang, bukan pula bau bangkai tikus yang mati terjepit. Bau itu... manis. Teramat manis hingga membuat mual. Bau yang mengingatkan pada melati yang layu di atas tanah makam, bercampur dengan aroma parfum mahal yang tumpah di atas daging yang mulai menghitam.
"Apa-apaan ini?" gerutu Ardan sambil menyemprotkan pengharum ruangan beraroma sandalwood berkali-kali. "Apakah tetangga sebelah mati dalam keadaan wangi?"
Ardan, dengan gaya angkuhnya yang biasa—gaya anak muda yang merasa dunia berputar di ujung jarinya—mencoba mengabaikan bau itu. Ia harus fokus. Malam ini adalah jadwal live streaming besarnya. Ia harus tampil sempurna. Ia harus menjadi "Ardan yang Bahagia", bukan Ardan yang sedang pening karena bau kematian yang dipoles parfum.
Marah Rusli mungkin akan menyebutnya sebagai "Siti Nurbaya versi digital". Ardan terbelenggu bukan oleh Datuk Maringgih, melainkan oleh kontrak-kontrak korporasi yang menuntutnya untuk selalu terlihat estetik. Ia adalah budak dari citra yang ia ciptakan sendiri.
"Wahai semesta yang penuh tipu daya!" Ardan berseru pada cermin. "Kenapa kebusukan ini menolak untuk pergi? Apakah ia ingin ikut masuk ke dalam bingkai kameraku?"
Metafora kehidupannya memang seperti itu. Ia makan salad yang hambar demi foto yang segar. Ia memakai baju bermerek yang gatal di kulit demi komentar yang memuji. Hidupnya adalah bangkai yang harum sejak lama, hanya saja ia baru menyadarinya sekarang.
Malam semakin larut. Bau itu semakin mengganas. Ia seolah merangkak dari bawah lantai, menyelinap ke sela-sela kabel charger, dan menempel di serat-serat pakaian Ardan. Anehnya, semakin bau itu menguat, pengikutnya di dunia maya semakin melonjak.
"Kak Ardan, kok aura wajahnya beda ya hari ini? Kayak ada efek glowy alami," tulis salah satu pengikutnya di kolom komentar saat Ardan mulai menyapa kamera.
Ardan tersenyum masam. Glowy alami? Itu adalah keringat dingin karena menahan mual. Di balik kamera, ia meletakkan sepotong kain yang sudah dibasahi minyak kayu putih di bawah hidungnya, tersembunyi dari pandangan lensa.
"Terima kasih, kawan-kawan. Rahasianya adalah... ketenangan jiwa," ucap Ardan bohong. Sebuah kebohongan yang sastrawi, yang dipoles dengan diksi-diksi motivasi yang ia curi dari pencarian Google.
Tiba-tiba, suara ketukan terdengar di dinding. Dug... dug... dug...
Ketukan itu berasal dari arah bau itu berasal. Kamar sebelah. Kamar nomor 403. Kamar yang dihuni oleh seorang gadis pendiam yang kabarnya adalah seorang penulis puisi. Ardan tak pernah menyapanya. Baginya, orang yang tidak punya profil Instagram yang terverifikasi adalah orang yang tidak benar-benar ada.
Ardan menghentikan live-nya dengan alasan gangguan koneksi. Ia tak tahan lagi. Rasa ingin tahunya yang liar, yang dipicu oleh kecemasan Gen Z akan "hal-hal yang tidak viral", membawanya keluar kamar. Ia berdiri di depan pintu 403.
Bau itu di sini benar-benar surgawi sekaligus mengerikan. Wangi kesturi yang begitu kental hingga ia merasa bisa menggenggam bau itu dengan tangan.
"Permisi? Mbak?" Ardan mengetuk.
Pintu itu tidak dikunci. Terbuka perlahan seolah mengundangnya masuk ke dalam rahim misteri.
Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh cahaya rembulan yang masuk lewat jendela yang terbuka lebar. Di tengah ruangan, Ardan melihat sosok itu. Gadis penulis puisi itu duduk di kursi goyang. Namun, ia tidak sedang menulis.
Tubuhnya kaku. Kulitnya sudah berubah warna menjadi abu-abu pucat. Ia sudah meninggal, mungkin sudah seminggu yang lalu. Namun, dari luka-luka di tubuhnya—luka yang tampaknya sengaja dibuat—bukan darah merah yang mengalir, melainkan cairan bening yang mengeluarkan aroma melati paling murni di dunia.
Ardan terpaku. Logikanya berperang dengan penglihatannya. Bagaimana mungkin sebuah bangkai bisa seharum ini? Apakah ini sebuah kutukan atau keajaiban yang belum sempat masuk ke dalam jurnal kedokteran?
Di atas meja sang gadis, terdapat sebuah buku catatan. Ardan membacanya dengan tangan gemetar.
"Dunia hanya ingin yang wangi, maka aku mengubah luka-lukaku menjadi parfum. Mereka tak butuh kejujuranku, mereka hanya butuh estetikaku. Maka biarlah saat aku membusuk nanti, aku tetap bisa memuaskan indra penciuman mereka."
Ardan merasa tertampar oleh kata-kata itu. Bukankah ia sedang melakukan hal yang sama? Bukankah ia setiap hari membedah kejujurannya, memotong-motong rasa sakitnya, hanya untuk disajikan sebagai konten yang "wangi" bagi audiensnya?
Ia melihat ponselnya di saku yang bergetar hebat. Notifikasi masuk bertubi-tubi. Orang-orang bertanya kenapa siaran langsungnya berhenti. Mereka haus akan "konten".
Sebuah ide gila muncul di kepala Ardan. Ide yang lahir dari rahim ambisi yang sudah terdistorsi. Jika ia memotret ini, jika ia membagikan "Bangkai Wangi" ini ke dunia, ia akan menjadi legenda. Ia akan mendapatkan jutaan views. Ini adalah konten paling autentik sekaligus paling palsu yang pernah ada.
Ia mengangkat kamera ponselnya. Ia mengarahkan lensa pada wajah pucat sang gadis yang tetap cantik dalam kematiannya. Ia mengatur pencahayaan agar terlihat dramatis, ala film-film horor estetik yang sedang tren.
"Maafkan aku," bisik Ardan pada jenazah itu. "Tapi kematianmu akan menjadi viral yang abadi."
Namun, saat jarinya hendak menekan tombol potret, bau wangi itu tiba-tiba berubah.
Dalam sekejap mata, aroma melati itu lenyap. Digantikan oleh bau busuk yang paling murni. Bau daging yang terurai, bau usus yang pecah, bau kotoran yang menyengat. Bau itu begitu hebat hingga Ardan jatuh tersungkur dan muntah di lantai.
Layar ponselnya tiba-tiba menyala sendiri. Kamera depannya aktif.
Ardan melihat wajahnya di layar. Dan ia menjerit.
Wajahnya di layar ponsel bukan lagi wajah pemuda tampan dengan kulit mulus hasil perawatan mahal. Di layar itu, wajah Ardan tampak mulai mengelupas. Belatung-belatung digital mulai merayap keluar dari lubang hidungnya di layar. Dan yang paling mengerikan, orang-orang di kolom komentar mulai menulis:
"Wah, filternya keren banget, Kak! Kayak nyata!"
"Tutorial filter bangkai dong, Kak Ardan!"
"Gila, sastranya dapet banget, metafora kematian yang hancur tapi estetik!"
Ardan mencoba menyentuh wajahnya. Kulitnya terasa nyata. Tapi di layar, ia adalah bangkai.
Ia sadar sekarang. Plot twist kehidupan telah menghantamnya telak. Sang gadis di kursi goyang itu tidak pernah benar-benar mati sendirian. Gadis itu adalah cermin. Sang gadis telah berhasil mengubah dirinya menjadi parfum bagi dunia, sementara Ardan—si pengejar citra—telah berubah menjadi bangkai yang dikagumi karena "wanginya" filter.
Ardan berlari keluar dari kamar 403, masuk ke kamarnya, dan membanting pintu. Ia berkaca di cermin aslinya. Ia tampak normal. Namun saat ia melihat kembali ke ponselnya, ia tetaplah bangkai yang membusuk.
Ia mencoba menghapus akunnya, namun tombol hapus itu tidak berfungsi. Ia mencoba mematikan ponselnya, tapi layar itu tetap menyala, menyiarkan wajah bangkainya secara live ke seluruh dunia.
Jumlah penontonnya meroket. 100 ribu... 500 ribu... 1 juta penonton.
"Sangat menginspirasi, Kak! Mengajarkan kita bahwa di balik kemewahan ada kematian," tulis seorang netizen.
Ardan menangis, namun di layar, yang keluar dari matanya adalah nanah.
Ia akhirnya mengerti. Di zaman ini, kejujuran adalah bangkai yang dijauhi, dan kepalsuan adalah wangi yang dipuja. Ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan: keabadian digital. Namun ia harus membayarnya dengan menjadi tontonan yang membusuk selamanya di beranda orang lain.
Ardan duduk bersimpuh di pojok kamar, di bawah sorotan ring light yang tak bisa ia matikan. Ia kini benar-benar menjadi bangkai yang harum. Harum karena algoritma, busuk karena realita.
"Inilah aku," bisiknya parau, saat 2 juta orang memberikan ikon hati pada wajahnya yang sedang hancur. "Inilah mahakarya yang kalian minta."
Dunia pun terus bergulir. Orang-orang terus menggeser layar, mencari bangkai-bangkai baru yang lebih wangi, sementara Ardan terjebak dalam bingkai 16:9 miliknya, abadi dalam kebusukan yang dipuji setinggi langit.
Cerita ini adalah pengingat bagi kita semua: Jangan sampai kita terlalu sibuk memoles "wangi" di media sosial hingga kita lupa bahwa di dalamnya, jiwa kita mungkin sudah mulai membusuk.