Maut tidak memakai jubah hitam, juga tidak membawa sabit besar yang berkarat. Itu terlalu vintage, terlalu berisik. Di tahun 2026, Maut lebih suka memakai hoodie oversized warna abu-abu pudar, celana kargo yang kantongnya penuh dengan memori yang kedaluwarsa, dan sepasang sepatu lari yang solnya sudah menipis karena terlalu sering mengejar.
Namanya—jika ia boleh meminjam istilah manusia—adalah Althaf. Tapi di sistem pusat, ia hanyalah sebuah algoritma tanpa akhir.
Althaf sedang duduk di atap sebuah gedung tinggi di Jakarta. Di bawahnya, lampu-lampu kota berkedip seperti sirkuit raksasa yang sedang mengalami overheat. Ia sedang memperhatikan targetnya malam ini: seorang pemuda bernama Rehan.
Rehan adalah definisi dari "generasi yang berlari". Umurnya dua puluh empat, tapi lingkaran hitam di bawah matanya bercerita tentang kelelahan seorang pria berusia enam puluh tahun. Rehan sedang duduk di meja kerjanya, dikelilingi oleh tiga monitor yang menyala terang. Di sampingnya, segelas kopi dingin yang sudah kehilangan aromanya berdiri tegak, menemani tumpukan dokumen digital yang tak kunjung habis.
Althaf menghela napas. Debu bintang keluar dari sela bibirnya.
"Kenapa kalian selalu berlari secepat ini?" bisik Althaf pada angin. "Padahal aku sudah berusaha memperlambat langkahku agar kalian bisa bernapas."
Tugas Althaf sebenarnya sederhana: menjemput. Tapi ribuan tahun melakukan ini membuatnya sadar bahwa manusia tidak pernah mau dijemput. Mereka selalu merasa ada satu e-mail lagi yang harus dibalas, satu posting-an lagi yang harus diunggah, atau satu pencapaian lagi yang harus dipamerkan di LinkedIn sebelum mereka merasa "layak" untuk berhenti.
Althaf turun dari gedung itu. Ia tidak jatuh, ia merayap turun seperti bayangan yang menyatu dengan beton. Ia masuk ke ruangan Rehan lewat celah ventilasi. Rehan tidak menyadarinya. Rehan terlalu sibuk dengan dunianya yang hanya berukuran sekian inci.
Althaf duduk di kursi kosong di samping Rehan. Ia melihat tangan Rehan yang gemetar saat mengetik.
"Rehan," panggil Althaf. Suaranya seperti frekuensi radio yang statis, pelan namun merasuk.
Rehan tersentak. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. "Siapa?"
"Aku yang selalu kamu abaikan setiap kali jantungmu berdegup terlalu kencang karena kopi ketiga," jawab Althaf. Ia menampakkan dirinya—bukan sebagai sosok yang menakutkan, tapi sebagai seorang pemuda yang terlihat sangat, sangat lelah.
Rehan terbelalak. "Lu... siapa? Perampok? Gue nggak punya apa-apa selain laptop kantor ini."
Althaf tersenyum tipis. "Aku Maut. Dan aku ke sini bukan untuk merampok hartamu. Aku ke sini karena aku lelah mengejarmu, Rehan. Kamu lari terlalu kencang."
Rehan tertawa hambar, tawa yang penuh dengan sinisme khas anak muda yang sudah terlalu banyak menelan pahitnya realita. "Maut? Prank macam apa ini? Kalau mau jemput, ya jemput aja. Lagipula, hidup gue cuma begini-begini aja. Kerja sampai tipes, gaji cuma numpang lewat, terus besok diulang lagi. Jemput gue sekarang juga nggak masalah."
Althaf menggeleng. Ia menyentuh layar monitor Rehan. Seketika, layar itu mati. Bukan gelap, tapi berubah menjadi putih bersih.
"Kamu bilang hidupmu 'begini-begini saja'," kata Althaf. "Tapi lihat ini."
Althaf menggerakkan tangannya di udara. Di hadapan Rehan, muncul proyeksi holografik yang bukan berasal dari teknologi manusia. Itu adalah rekaman memori.
Ada gambar Rehan saat berusia tujuh tahun, sedang tertawa lepas saat berhasil menangkap capung di sawah belakang rumah neneknya di Tasikmalaya. Ada gambar Rehan saat SMA, diam-diam memberikan separuh bekalnya pada kucing liar di kantin. Lalu, ada gambar Rehan minggu lalu, saat ia memilih untuk mematikan notifikasi ponselnya hanya untuk melihat matahari terbenam selama tiga menit di balkon kantor.
"Tiga menit itu," kata Althaf menunjuk memori matahari terbenam. "Itu adalah saat di mana aku berhenti mengejarmu. Saat itu, kamu benar-benar hidup. Kamu tidak sedang berlari mengejar validasi, kamu tidak sedang mengejar target bulanan. Kamu hanya... ada."
Rehan terdiam. Matanya mulai memanas. "Tapi itu cuma tiga menit, Althaf. Sisanya? Gue cuma budak sistem. Gue takut kalau gue berhenti sebentar saja, gue bakal tertinggal. Dunia ini nggak nunggu gue."
"Dunia memang tidak menunggumu," balas Althaf lembut. "Tapi aku menunggumu. Dan aku benci harus menjemput seseorang yang bahkan belum sempat menyapa dirinya sendiri di cermin karena terlalu sibuk melihat profil orang lain."
Althaf berdiri dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap kota. "Manusia zaman sekarang aneh. Kalian menciptakan teknologi untuk menghemat waktu, tapi kalian justru merasa semakin kekurangan waktu. Kalian menciptakan koneksi tanpa batas, tapi merasa semakin kesepian. Kalian mengejar 'keabadian' lewat jejak digital, padahal keabadian yang sesungguhnya ada pada ketenangan yang kalian tolak setiap malam."
Rehan berdiri, mendekati Althaf. "Terus, lu mau ngapain sekarang? Kalau hari ini jadwal gue mati, kenapa lu malah ngajak ngobrol?"
Althaf menatap Rehan dengan mata yang menyimpan seluruh rahasia alam semesta. "Karena aku bosan menjemput mayat yang jiwanya sudah mati bertahun-tahun sebelum jantungnya berhenti. Aku ingin menjemput seseorang yang masih punya 'api'. Hari ini, aku akan memberikanmu satu penawaran. Sesuatu yang tidak ada di syarat dan ketentuan aplikasi manapun."
"Apa?"
"Aku akan memberimu waktu tambahan. Bukan setahun, bukan sebulan. Hanya satu jam. Tapi dalam satu jam ini, kamu tidak boleh menyentuh teknologi. Kamu tidak boleh memikirkan hari esok. Kamu hanya boleh melakukan sesuatu yang membuatmu merasa... manusia."
Rehan ragu. "Satu jam? Terus setelah itu?"
"Setelah itu, aku akan datang lagi. Dan kali ini, aku tidak akan lari. Kita akan berjalan berdampingan menuju tempat di mana tidak ada lagi notifikasi deadline."
Rehan mengambil napas dalam-dalam. Sesuatu di dadanya yang selama ini terasa sesak tiba-tiba melonggar. Ia mengambil ponselnya, menatapnya sebentar, lalu meletakkannya dengan layar menghadap ke bawah di atas meja. Ia melepas sepatunya. Merasakan dinginnya lantai menyentuh telapak kakinya.
Rehan berjalan keluar dari kantornya yang sunyi. Ia naik ke atap gedung, tempat Althaf tadi duduk. Di sana, ia hanya duduk diam. Ia mendengarkan suara kota—deru mesin, gonggongan anjing di kejauhan, dan desau angin yang mempermainkan rambutnya. Ia melihat awan yang bergerak pelan, menutupi sebagian bulan.
Ia teringat ibunya yang belum ia telepon selama dua minggu. Ia teringat cita-citanya dulu untuk menjadi pelukis, yang ia kubur dalam-dalam demi gelar sarjana ekonomi yang katanya "lebih aman". Ia teringat betapa nikmatnya rasa air putih saat ia benar-benar haus.
Hal-hal kecil. Hal-hal yang selama ini ia anggap sebagai gangguan bagi produktivitasnya, ternyata adalah benang-benang yang membentuk kain kehidupannya.
"Ternyata," gumam Rehan, "hidup itu bukan tentang seberapa jauh gue lari, tapi tentang seberapa berani gue buat berhenti."
Satu jam berlalu. Althaf muncul di sampingnya, masih dengan hoodie abu-abunya.
"Sudah siap?" tanya Althaf.
Rehan menoleh. Wajahnya tidak lagi pucat. Ada semburat warna di pipinya. Matanya bersinar, bukan karena cahaya monitor, tapi karena kedamaian.
"Gue siap," kata Rehan pelan. "Tapi boleh nggak gue minta satu hal terakhir?"
"Apa itu?"
"Tolong bilangin sama temen-temen gue yang masih di bawah sana, yang masih begadang buat hal-hal yang nggak bakal mereka bawa mati... bilangin kalau Maut itu nggak serem. Yang serem itu kalau mereka mati sebelum mereka bener-bener sempat hidup."
Althaf tersenyum. Senyum yang paling tulus yang pernah ia berikan dalam seribu tahun. "Akan kusampaikan lewat mimpi-mimpi mereka yang gelisah."
Althaf mengulurkan tangannya. Rehan menyambutnya.
Di meja kerja Rehan, lampu monitor tiba-tiba menyala kembali. Sebuah notifikasi masuk: "Rehan, revisinya ditunggu besok pagi jam 8 ya."
Tapi kursi itu sudah kosong. Hanya ada gelas kopi dingin yang kini tampak seperti sebuah monumen kecil untuk seorang pria yang akhirnya memutuskan untuk berhenti berlari. Dan di balkon atap, hanya tertinggal hembusan angin yang membawa sisa-sisa doa, tentang seorang manusia yang mati bukan karena dikejar, tapi karena ia akhirnya mengizinkan dirinya untuk ditemukan.
Maut tidak lagi berlari malam itu. Ia berjalan pelan, menggandeng sebuah jiwa yang terasa ringan, seringan kapas yang terbang menuju cahaya bintang yang paling jauh.